All England Standar Ganda : Nasionalisme Indonesia Terusik, BWF Tutup Komentar IG

oleh

Oleh : Win Wan Nur*

Hari ini jagat media sosial di Indonesia panas membara akibat berita dipaksa mundurnya tim bulutangkis Indonesia dari kejuaraan bergengsi sekaligus turnamen bulutangkis tertua di dunia, All England berlabel turnamen BWF Super 1000.

Ketika berita ini diketahui oleh netizen alias warganet Indonesia yang biasa dijuluki sebagai “netizen +62” kontan peristiwa ini seperti menyiram bensin ke api yang panas menyala.

Berbagai hujatan, mulai dari yang disampaikan secara cerdas, baik melalui tulisan maupun meme sampai hujatan yang bersifat sumpah serapah membanjiri kolom komentar berbagai platform media sosial BWF dan All England.

BWF (Badminton World Federation) selaku lembaga tertinggi yang menaungi bulutangkis dunia pun dibuat gerah oleh serangan yang datang dari Indonesia, satu-satunya negara di dunia yang mendapatkan kemerdekaannya dengan cara direbut paksa.

Serangan frontal tanpa henti dari netizen +62 memaksa BWF dan panitia All England membuat konfirmasi yang lebih tepat disebut pembelaan diri.

Dalam konfirmasinya BWF menyatakan kalau mereka serta federasi badminton England tidak berharap ini dialami oleh Tim Indonesia. Mereka menyatakan bahwa mereka sudah berusaha keras agar tim Indonesia diberi pengecualian dalam hal protokol kesehatan Inggris terkait Covid, tapi kata mereka pemerintah UK lebih mengutamakan dan mementingkan untuk menjaga keselamatan rakyat Inggris dari bahaya Covid-19 sehingga keputusan ini tak bisa diganggu gugat.

Lucunya, ketika dirilis mereka mengatakan sudah berusaha keras membantu tim Indonesia, tapi pasca dipaksa WO, pemain dan ofisial Indonesia malah dibiarkan berjalan kaki pulang ke hotel. Jadi kalau alasannya protokol kesehatan, ini di mana protokol kesehatannya? Bukankah dalam perjalanan ke hotel itu tim Indonesia berpapasan dengan banyak orang di jalan ?

Adapun alasan dari BWF dan panitia All England untuk memaksa tim Indonesia WO adalah karena dalam pesawat yang ditumpangi tim Indonesia ‘katanya’ ada satu penumpang yang postitif. Meski hasil tes PCR terhadap semua pemain dan ofisial Indonesia dinyatakan negatif Covid -19, tapi menurut mereka standar prokes Inggris tetap mengharuskan semua penumpang dari pesawat itu untuk diisolasi selama 10 hari.

Tapi alasan dari BWF dan panitia All England ini ternyata penuh dengan kejanggalan dan terkesan kuat kalau mereka menerapkan standar ganda.

Sebab kenyataannya, ada 7 pemain dari negara-negara Denmark, Thailand dan India yang ketika dilakukan test PCR ternyata terbukti positif Covid-19, tapi panitia atas restu BWF melakukan test ulang terhadap para pemain itu. Dan sim salabim, dalam 24 jam, hasil test ke-7 pemain itu tiba-tiba menjadi negatif.

Netizen Indonesia mencurigai standar ganda ini terjadi karena peran dari Poul Erik Hoyer Larsen asal Denmark yang menjadi sosok penting di BWF.

Kejanggalan lain, Neslihan Yigit, pemain putri asal Turki yang satu pesawat dengan tim Indonesia tetap dibiarkan bermain. Baru setelah mendapat serangan dari netizen +62, akhirnya BWF dan panitia juga memaksa WO pemain Turki ini. Kali ini, BWF beralasan, terjadinya standar ganda ini karena konfirmasi dari NHS (Departemen Kesehatan Inggris) tidak diteruskan ke BWF. Ini membuat netizen Indonesia semakin yakin kalau memang hanya Indonesia yang ditarget.

Lebih janggal lagi, sebelum dipaksa WO, dua pasangan ganda putra terkuat Indonesia sekaligus dua pasangan ganda putra terkuat dunia The Minions dan The Daddies, sudah sempat bertanding. Kebetulan, keduanya bertemu pasangan Inggris yang keduanya mereka bantai.

Kalau memang, seluruh tim Indonesia dicurigai terinfeksi Covid-19 dan harus diisolasi mandiri, seharusnya dua pasangan Inggris itu, semua ofisial yang terlibat di pertandingan itu dan juga semua orang yang pernah kontak dengan dua pasangan Inggris itu juga harus diisolasi mandiri dan kalau mereka atlet juga harus dipaksa WO. Karena bukankah saat bertanding mereka saling bergantian memegang shuttle cock yang sama?

Berbagai kejanggalan ini ternyata tidak bisa dijawab dengan baik oleh BWF maupun panitia All England, sehingga serangan ke berbagai akun mereka di berbagai platform media sosial terus berdatangan, sehingga BWF akhirnya menutup kolom komentar di akun instagramnya. []

Comments

comments