Pengagas Jum’at Bersih, Rahmah Ketiara : Soal Sampah Pemerintah Harus Tegas dan Jelas

oleh

Kegelisahan masyarakat Aceh Tengah atas buruknya pengelolaan sampah di kabupaten ini sudah terjadi sejak lama.

Jauh sebelum aksi viral mahasiswa Aceh Barat membersihkan sampah di Pantan Terong, sebenarnya sudah banyak kelompok masyarakat Gayo, secara independen tanpa peran serta pemerintah mengambil inisiatif untuk mengatasi persoalan sampah di daerahnya masing-masing.

Salah seorang yang pernah melakukan itu adalah Rahmah, pimpinan Koperasi Pedagang Kopi (Kopepi) Ketiara Takengon, Aceh Tengah.

Pada tahun 2016- 2017, perempuan pengusaha yang akrab dipanggil Mak Bos oleh anggotanya ini menggagas aksi Jum’at Bersih di kampung- kampung di wilayah kecamatan Bebesen yang menjadi wilayah kerja koperasi yang dipimpinnya.

Kepada LintasGAYO.co, Rahmah bercerita, kalau aksi Jum’at Bersih ini berasal dari rasa malu dan tidak enaknya ketika mengajak calon pembeli kopinya yang berasal dari luar negeri berkunjung ke kampung-kampung tempat penghasil kopi yang diekspor oleh koperasinya.

“Dalam perjalanan menuju ke kebun kopi, di sepanjang jalan sampah plastik berserakan, ini memberikan citra yang buruk bagi Gayo,” kata Rahmah, Rabu 3 Maret 2021.

Didasari rasa malu ini, Rahmah kemudian menggagas aksi Jum’at bersih. “Ara roa tun kami mujadi pemulung sampah Dik (dua tahun sudah jadi pemulung sampah dik),” ujarnya.

Rahma bercerita, pernah dalam satu kali aksi Jum’at Bersih mereka mengumpulkan 8 truk sampah plastik yang berasal dari 19 kampung.

Memang pada waktu itu, fokus Rahmah hanya pada sampah plastik, karena sampah dapur atau sampah rumah tangga, yang terdiri dari sayur-sayuran dan sisa makanan yang lain mereka sosialisasikan untuk dijadikan pupuk untuk kebun kopi. Waktu itu tiap kebun mereka sarankan untuk dibuat lubang angin.

Rahmah mengenang, pada waktu itu dalam satu momen Jum’at Bersih, Dandim Aceh Tengah yang waktu itu dijabat Pak Didit pernah ikut mendukung kegiatan memungut sampah yang mereka lakukan di di sepanjang jalan-jalan kampung.

Sayangnya, sejak tahun 2017 program yang sangat baik ini terpaksa berhenti karena Rahmah melihat tidak terlalu banyak kemajuan yang terjadi dalam perilaku masyarakat terkait sampah plastik ini.

Meski tidak dikatakan secara eksplisit, secara tersirat Rahmah menyatakan kalau untuk mendisiplinkan masyarakat dalam urusan sampah ini, pemerintah harus bersikap tegas dan membuat regulasi yang jelas.

Dalam bahasa Rahmah, dikatakan “Saran kakak, Bupati menghimbau kepada Camat, dari Camat ke Reje Kampung dari Reje Kampung ke Pak Dusun. Galakkan lagi Jumat bersih wilayah masing-masing, InsyaAllah, ike jalan oya itempuh, bersih Kute Takengen. Untuk wilayah perkotaan, terapkan denda kepada tokok-toko dan rumah-rumah yang di depannya ada sampah.”

Semoga saran Rahmah ini dapat menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, wa bil khusus Kepala Dinas Lingkungan Hidup yang menjadi ujung tombak penanganan sampah kabupaten ini. Supaya ke depan tidak ada lagi wisatawan yang sudah senang-senang datang ke sini, pulang-pulangnya berkomentar “ Takengon itu indah, tapi sayang jorok, banyak sampah”.

(Tim Redaksi LintasGAYO.co)

Comments

comments