[Catatan Win Wan Nur Bag 3] Samarkilang Kampung Pejuang : Negeri Kelahiran Gajah Putih

oleh

Posisi geografis yang menjadikannya sebagai poros dari peradaban Gayo di empat penjuru, karena menjadikannya sebagai gerbang antara Gayo dan peradaban Aceh pesisir bagian timur membuat Samarkilang begitu kaya dengan kisah sejarah. Baik itu kisah sejarah sebelum kedatangan Belanda maupun kisah sejarah perjuangan melawan penguasa kolonial Belanda.

Cut Mutia, pahlawan nasional asal Aceh yang gambarnya diabadikan di lembaran uang seribu rupiah adalah salah seorang pejuang yang menjadikan Samarkilang sebagai tempatnya bergerilya.

Ada banyak orang Samarkilang yang menjadi pengikutnya saat berjuang melawan Belanda, sebut saja nama-nama seperti Aman Nyerang, Pang Latih, Tengku di Mata Ie yang juga dikenal dengan nama Tengku Supot Mata dan Guru Mengi.

Bahkan, Cut Mutia sendiri dimakamkan di Pasir Putih yang tadinya sebenarnya adalah wilayah Samarkilang. Tapi karena urusan politik pasca kemerdekaan, wilayah Samarkilang ini dimasukkan ke dalam wilayah administrasi kabupate Aceh Utara. Bersama Pasir Putih, Sarah Gele dan Sarah Reje, dua kampung asli Gayo yang ada di sekitar itu juga sekarang masuk menjadi wilayah Aceh Utara yang namanya kemudian diganti menjadi Sah Raja dan Sah Gala.

Untuk kisah sejarah sebelum kedatangan Belanda, Samarkilang identik dengan kisah Gajah Putih, seekor gajah mistis yang diberikan oleh orang Gayo sebagai hadiah kepada raja Aceh Darussalam, sebuah kisah yang meskipun belum bisa dibuktikan secara otentik kebenarannya. Tapi, di Gayo bahkan Aceh, banyak orang yang meyakini kalau kisah itu benar-benar ada.

Dalam legenda yang sangat pupuler di Gayo ini, karena dulunya tidak ditulis, ada beberapa versi tentang legenda Gajah Putih. Antara satu versi dan yang lain biasanya terdapat beberapa deviasi atau penyimpangan yang membuat ceritanya agak sedikit berbeda, tergantung siapa yang menceritakan.

Tapi dari beberapa versi yang saya dengar, secara umum kisah gajah putih berawal dari kisah dua orang kakak beradik, Sengeda dan Meria yang datang dari pesisir ke Linge, untuk mengunjungi kerajaan ayahnya. Kemudian diceritakan, mengetahui bahwa orang ini adalah adik tirinya, Reje Linge menduga mereka akan menuntut haknya untuk berkuasa.

Tidak ingin kehilangan kekuasaan, reje memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Meria dan Sengeda. Meria berhasil dibunuh, ada versi yang mengatakan Reje sendiri yang membunuhnya, sementara versi lain mengatakan pembunuh Meria adalah orang suruhannya.

Sementara itu, orang berbeda yang diperintahkan reje untuk membunuh Sengeda, tidak tega melakukan perintah itu, tapi supaya dia tidak dihukum karena membangkang, dia membunuh seekor kucing dan menunjukkan darahnya kepada reje untuk menunjukkan seolah-olah Sengeda sudah tewas.

Baca bagian 1 : [Bag.1] Samarkilang Kampung Pejuang : Perjalanan dari Takengen ke Negeri Bener Merie

Sengeda sendiri kemudian disuruh menyamar dan akhirnya bisa hidup berdampingan dengan reje dan ikut rombongan Reje Linge yang berangkat ke Kute Reje untuk memenuhi undangan Sultan Aceh.

Dikisahkan, ketika Sengeda berada di Kute Reje, salah seorang putri sultan melihatnya menggambar sesuatu di pelepah bambu. Waktu sang putri bertanya itu gambar apa? Sengeda menjawab “Gajah Putih,” mendengar itu sang putri pun menemui ayahnya dan kemudian merengek meminta kepada ayahnya agar bisa menghadirkan Gajah Putih sebagaimana yang digambar oleh Sengeda.

Sultan kemudian memanggil Reje Linge dan memerintahkannya untuk membawa Gajah Putih, sebagaimana yang digambarkan oleh Sengeda di pelepah bambu.

Mendengar itu, Reje Linge hanya bisa menundukkan kepala, mengiyakan apa yang diminta sultan. Tapi dalam hati dia merutuk dan menyumpah-nyumpah, dia sangat kesal dengan kelancangan mulut Sengeda.

Meski kesal, tapi Reje Linge tak punya pilihan, Gajah Putih harus dihadirkan, karena itu adalah perintah sultan.

Saat sudah berkumpul dengan anggota rombongannya yang datang dari Gayo, Reje Linge langsung memerintahkan anak buahnya untuk memanggil Sengeda dan diapun memarahi anak ini habis-habisan atas kelancangan mulutnya. Tapi Sengeda berkeras, kalau Gajah Putih yang dia gambar di pelepah bambu dan dia ceritakan itu benar-benar ada.

Dalam kemarahannya, Reje Linge mengancam Sengeda supaya menghadirkan Gajah Putih seperti yang dia ceritakan pada putri sultan. Sengeda menyanggupinya dengan meminta beberapa syarat.

Pendek cerita, mereka segera pulang ke Gayo dan Sengeda mengatakan tahu lokasi di mana Gajah Putih itu berada, lalu membuat ritual memanggil sang gajah melalui kenduri dan tarian. Inilah yang kemudian menjadi kisah terciptanya Tari Guel, tarian Gayo bernuansa mistis yang mungkin merupakan satu-satunya tarian di dunia yang gerakan-gerakannya terinsipirasi dari gerakan seekor gajah.

Baca bagian 2 : [Catatan Win Wan Nur Bag.2] Samarkilang Kampung Pejuang : Poros Bertemunya Peradaban Gayo dari 4 Penjuru

Yang tidak diketahui oleh Reje Linge, lokasi yang disebut Sengeda itu adalah lokasi dimana Meria, abangnya dikuburkan.

Setelah melakukan prosesi berbagai ritual dan tari guel, Gajah Putih akhirnya benar-benar datang. Sengeda berhasil menundukkan gajah itu dan kabar itu dengan cepat sampai ke telinga Reje Linge.

Mendengar kabar itu Reje Linge sangat senang, dia membayangkan Sultan Aceh tentu akan sangat senang dan akan memberinya banyak hadiah sebagai bentuk penghargaan. Dalam hati dia sudah berpikir untuk menyingkirkan Sengeda dan membawa sendiri Gajah Putih itu ke Kute Reje dan menyerahkan Gajah itu kepada sultan dengan tangannya sendiri.

Ketika Gajah Putih sampai di hadapan Reje Linge, dia segera mencoba menyentuh gajah yang terlihat sudah sangat jinak itu, itu tapi Gajah itu menolak dia sentuh dan melawan, Sang Gajah hanya mau tunduk pada Sengeda, sebab katanya Gajah itu sebenarnya adalah penjelmaan dari ruh abangnya, Meria yang diperintahkan bunuh oleh raja.

Alhasil, Reje Linge tak punya pilihan selain membawa serta Sengeda untuk untuk menyerahkan Gajah Putih pada sultan.

Dalam kisah selanjutnya kemudian terbongkarlah cerita di hadapan sultan, bahwa Meria, abang dari Sengeda sebenarnya diperintahkan bunuh oleh Reje Linge, abang tiri mereka, lalu kemudian Reje Linge akan dihukum qishas, tapi Sengeda memaafkan sehingga hukuman itu tak jadi dilaksanakan. Kemudian kekuasaan Linge dibagi dan Sengeda juga mendapatkan wilayah kekuasaan.

Setelah Indonesia merdeka, cerita tentang Gajah Putih ini sudah menjadi legenda dan sering dijadikan sebagai simbol keberanian, ketulusan dan juga kecerdasan.

Saat saya berkunjung ke Samarkilang, sayangnya karena keterbatasan waktu, saya belum berkesempatan berkunjung ke makam Meria yang masih dipelihara dengan baik oleh warga Samarkilang. Tapi, meski belum sempat berkunjung ke sana, saya sempat sampai di persimpangan muara sungai Meria, di mana sungai yang dinamakan dengan nama tokoh yang erat kaitannya dengan cerita Gajah Putih ini bertemu dan menyatu dengan Wih Ni Jemer, salah satu sungai terpenting di pedalaman Gayo yang berhawa panas.

Sekarang gambar Gajah Putih bisa kita lihat menjadi logo Kodam Iskandar Muda dan menjadi nama universitas pertama di bumi Gayo. Universitas Gajah Putih yang disingkat dengan nama UGP.

Kemudian, ketika Aceh Tengah dimekarkan. Nama Meria, abang dari Sengeda yang makamnya berada di Samarkilang, diabadikan menjadi nama Kabupaten yang baru ini dengan menambahi nama Bener yang berarti kota, atau wilayah, di depannya.

Kabupaten inilah yang sekarang kita kenal sebagai Kabupaten Bener Meriah. []

Comments

comments