Provokasi R3 Kuatkan Kemerdekaan Republik Indonesia

oleh

Oleh : Hammaddin Aman Fatih*

Ketika kabut tipis masih membalut perbukitan. Ufuk timur masih berupa hamparan kabut putih. Semilir angin gunung yang sejuk. Cahaya mentari mulai menjilati pucuk–pucuk pepohonan. Dataran tinggi Gayo mulai tergugah. Telah banyak menjadi saksi bisu perjalanan sejarah .enghiasi kebesaran bangsa dan negara ini. Hasil bumi negerimu dilirik mata dunia. Kopimu Terunik di dunia. Pinusmu terbaik di dunia. Tehmu terharum di dunia. Engkau dijuluki Miniatur Negeri Eropa Pedalaman dengan latar hutan pinusnya.

71 tahun yang lalu, Radio Rimba Raya berhasil memprovokasi opini publik dunia, yang akhirnya kemerdekaan republik Indonesia ini terus bisa eksis berlanjut sampai sekarang. Radio Rimba Raya yang terkenal dengan sebut “R3” dulu telah sangat membantu tim delegasi Indonesia dalam percaturan politik di kancah internasional dalam rangka mempertahankan republik ini.

Suka tidak suka, mau tidak mau, siapapun tidak akan dapat membantah, catatan sejarah membuktikan sejarah bangsa ini, bahwa kemerdekaan Indonesia bisa kembali diakui dunia karena jasa R3, yang pada saat itu terletak di daerah dataran tinggi tanah Gayo atau tepatnya di kecamatan Pintu Rime Gayo, yang sekarang menjadi wilayah bagian kabupaten Bener Meriah (Hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah), yang jaraknya ± 20 km dari Kota ibu kota Kabupaten, Redelong.

Daerah Rimba Raya ini pada masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia tahun 1948–1949 menjadi tempat pemancar radio. Dan dari sanalah disiarkan pesan–pesan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Karena pada saat itu Yogyakarta yang merupakan ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia telah di kuasai Belanda. Signal Colling “Suara Radio Republik Indoneia”, “Suara Indonesia Merdeka”, “Radio Rimba Raya”, “Radio Divisi X”, “Radio Republik Indonesia”.

R3 sangat berperan sangat besar terhadap kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia. Pada Saat itu Belanda telah menguasai ibu kota pemerintahan Indonesia. Dan mengumumkan lewat radio Hiverson (miliki Belanda) kepada dunia, bahwa Negara Indonesia tidak ada lagi.

Tapi dengan suara yang sayup lantang dari dataran tinggi tanah Gayo, R3 mengcancel berita tersebut dan mengatakan bahwa Indonesia masih ada. Akhirnya, akibat berita yang disuara itu, banyak negara dunia dengan serta merta mengakui kemerdekaan Indonesia. Dan dengan ada berita yang disiarkan R3 merupakan pukulan “KO” bagi Pemerintahan Belanda. Provokasi yang dilakukan R3 saat itu, telah bisa mempengaruhi publik dunia.

Diyakini beberapa alasan atau faktor yang mendorong didirikan sebuah pemancar di belantara hutan tanah Gayo, yakni antara lain sebagai berikut : Pertama ; untuk mengcounter suara Radio Belanda yang dipancarkan dari Medan dan sabang, yang hampir setiap malam melancarkan “psywar” (perang urat syaraf) terhadap para pejuang dan penduduk di daerah republik di Sumatera bagian Utara yakni Aceh dan Sumatera utara.

Perang suara di udara antara R3 yang kadang–kadang menamakan dirinya Suara Indonesia Merdeka dipancarkan semula dari desa Krueng Simpur, terus berlangsung seru dengan radio milik Belanda di Medan, radio Batavia, bahkan juga radio Hilversium di Holland. Debat ini dipantau oleh kepala perwakilan RI di India Dr. Sudarsono lewat radio Penang di Malaya dan meneruskannya kepada kepala perwakilan RI di PBB, L. N. Palar.

Inilah dasarnya pihak Belanda memburu dan ingin menghancurkan pemancar ini secepatnya. Karena pengalaman ini pula yang menyebabkan lokasinya selalu berpindah–-pindah. Dari desa Krueng Simpur, kemudian ditarik ke pengunungan Cot Gue di Aceh Besar. Ternyata di sini pun pemancar ini tidak aman.

Akhirnya diinstruksikan lagi oleh GM untuk diamankan di pengunungan Rimba Raya yang terkenal strategis dan punya hutan lebat yang sulit ditembus pesawat terbang Belanda.
Kedua ; Dengan terpilihnya Dataran Tinggi Tanah Gayo sebagai terugval basis gerilya jangka panjang, sudah tentu diperlukan sebuah pemancar yang memiliki tekanan tinggi dengan kekuatan yang dapat diandalkan.

Waktu itu seluruh ibukota provinsi di seluruh Jawa dan Sumatera sudah diduduki Belanda. Suara RRI pun tidak kedengaran lagi. Hanya Radio Rimba Raya ini dalam situasi tranisi yang sulit itu dapat berfungsi sebagai alat perjuangan, yang mampu menyalurkan aspirasi nasional. Kevakuman itu segera dapat diisi, sehingga rakyat Indonesia tidak mudah diombang–ambing oleh isu–isu yang menafikkan perjuangan Republik, baik di dalam maupun di luar negeri.

Ketiga. R3 yang mempunyai daya pancar dengan kekuatan 300 watt telegrafi dan 300 watt telefoni, memelihara komunikasi dengan pemimpin pusat perjuangan di sekitar pedalaman Yogyakarta dan Surakarta. Dan R3 inilah yang menyiarkan (lebih jelas lihat buku Visiklopedia Bumi Gajah Putih terbitan Gayo Discover 2015 ).

Melihat kondisi dan keberadaannya cukup pantas sekarang kita katakan “hampir terlupakan”, hanya sebuah tuga penanda yang bisa republik berikan dan diberi nama “Tugu Radio Rimba Raya”. Jasanya yang begitu besar, penulis pernah menulis sebuah opini yang telah pernah dipublikasikan tahun 2014 dengan judul “Mengapa harus bernama Bener Meriah ?”.

Intinya, kenapa kita harus memberi nama kabupaten yang berdiri berdasarkan UU No 41 tahun 2003 tanggal 18 Meret 2003 dengan Bener Meriah bukan Rimba Raya yang telah begitu mendunia dan mempunyai nilai publikasi yang besar.

Ketika kita bicara Rimba Raya. Langsung terbayang di benak kita, meraka (warga Negara Indonesia) Radio Rimba Raya yang mempunyai jasa begitu besar bagi keberadaan republik ini. Mungkin tanpa provokasi yang dikumandang R3, republik ini tinggal sebuah catatan sejarah yang hanya sempat berumur sampai 3 tahun.

Satu-satunya kabupaten di Indonesia yang namanya diambil dari nama orang, yaitu kabupaten Bener Meriah. Bener Meriah adalah pahlawan pada masa kerajaan Linge dan merupakan salah satu anak reje Linge dan memiliki hubungan dengan legenda “Gajah Putih”.

Akhirnya, kita berharap semoga sejarah kebesaran R3 bukan hanya sekedar retorika bias makna, hanya menjadi cerita pengantar tidur. Kita juga berharap kepada Pemda untuk lebih memfungsikannya sebagai edukasi bagi generasi yang akan datang dan bisa menjadi salah satu destinasi pariwisata sejarah yang menggiurkan bila terkelola secara professional dan dapat menambah income daerah.

Minimal ketika pengunjung datang, ada sedikitnya cendera mata, seperti gantungan konci yang bergambar Tugu Rimba Raya (paling minim), yang telah membuktikan mereka telah berkunjung, seperti sertifikat ketika kita telah berkunjung ke kilometer Nol di Sabang.

*Pengarang buku People of the Coffee dan guru di SMAN 1 Timang Gajah

 

 

Comments

comments