[Bag.2] Damaran Baru, Cerita Sukses Mitigasi Bencana yang Menginternasional Jadi Kandidat Peraih API Award

oleh

Oleh : Win Wan Nur*

Pasca banjir bandang yang membuat Damaran Baru kembali menjadi sorotan, atensi dari pihak-pihak terkait kepada Damaran berubah.

Kemampuan masyarakat Damaran Baru dalam untuk mengenali dan mengurangi kerentanan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana, membawa kampung ini mendapat status sebagai Desa tangguh bencana (Destana).

Keberhasilan Damaran Baru memitigasi bencana banjir bandang yang membawa material vulkanik ini menjadi buah bibir di mana-mana, bahkan di pusat ada pejabat BPBD yang datang ke Gayo hanya khusus ke Damaran, beliau merasa tidak perlu bertemu bupati.

Dan kenyataannya pencapaian Damaran Baru dalam mitigasi bencana ini bukanlah hal kecil, Pak Nas bahkan cukup percaya diri mengatakan, kalau warga di desa-desa rawan bencana di kaki gunung berapi yang bertebaran di penjuru Indonesia, ingin belajar bagaimana cara memitigasi bencana, mereka bisa datang untuk melakukan studi banding ke Damaran Baru.

Seiring dengan mulai banyaknya pemberitaan tentang Damaran Baru, situasi yang mereka hadapi dengan para pengambil kebijakan pun perlahan berubah. Jika sebelumnya mereka begitu sulit memperoleh perhatian, pasca kejadian itu politisi dan orang pemerintahan seperti berebut menjadikan tempat itu sebagai ajang proyek. Banyak pihak mencari perhatian.

Di pihak lain, pandangan para istri terhadap kerja-kerja LSM ini juga berubah. Kalau sebelumnya, ketika LSM Burni Telong baru berdiri, bapak-bapak yang bergabung di kelompok ini kerap mengalami friksi dengan istri-istri mereka di rumah. Karena seperti yang galib terjadi di tempat lain, para istri menganggap apa yang dilakukan oleh suami-suami mereka tidak ada manfaatnya untuk peningkatan kesejahteraan keluarga. Saat ini, mereka sudah didukung penuh.

Berubahnya pandangan ibu-ibu ini berawal dari kedatangan seorang anggota LSM Solidaritas Perempuan bernama Rubama ke Damaran Baru. Bersama teman-temannya, Rubama memberikan pelatihan dan pendampingan kepada kaum perempuan di Damaran untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana. Karena sebagaimana biasa kita dengar dan baca di tulisan-tulisan kelompok pejuang kesetaraan gender, ketika terjadi bencana, kelompok yang paling rentan adalah kaum perempuan.

Belakangan, Rubama bergabung dengan Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) sebuah LSM dengan misi penyelamatan lingkungan yang didirikan oleh Rudi Putra dan Farwiza Farhan, perempuan yang namanya dikenal dunia setelah muncul dalam « Before the Flood » film dokumenter garapan Fischer Stevens yang diproduseri oleh Leonardo di Caprio.

LSM ini banyak diperkuat oleh mantan anggota Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL) lembaga pimpinan mantan komandan GAM Wilayah Linge, Fauzan Azima yang dibentuk oleh pemerintah Aceh pada tahun 2007 di periode pertama gubernur Irwandi dan dibubarkan oleh gubernur juga pada tahun 2012, saat kursi kekuasaan berpindah ke dr. Zaini.

Mulai saat itu, ibu-ibu yang tadinya banyak yang tidak setuju suaminya melakukan aktivitas ini malah ikut bergabung dan berperan aktif. Meskipun, secara formal, LSM Burni Telong sama sekali tak ada sangkut paut dengan HAkA, tapi orang-orang lokal yang terlibat dengan HAkA adalah orang-orang LSM Burni Telong juga.

Bahkan beberapa ibu-ibu inipun (meski tentu saja tetap ditemani bapak-bapak) dipekerjakan sebagai ranger penjaga hutan yang mendapat bayaran untuk tugas-tugasnya.

Dengan menonjolkan peran ibu-ibu dalam perlindungan hutan ini, HAkA berhasil mengundang media-media besar di luar negeri untuk datang ke Damaran Baru, dan nama Damaran Baru pun menginternasional, tampil dan diulas di media-media besar dari pelbagai belahan dunia.

Belakangan, bersama HAkA fokus kegiatan para pegiat lingkungan ini seolah lebih menonjol pada kegiatan pengawasan hutan, keadaan ini diperkuat dengan keluarnya SK Menteri Kehutanan untuk memberi wewenang kepada warga Damaran Baru yang bernaung di bawah Lembaga Pengelola Hutan Kampung, yang diketuai bu Sumini, istri Sujito. SK ini memberi wewenang kepada LPHK Damaran Baru untuk mengelola hutan lindung seluas 251 hektar.

Bergerak lebih jauh lagi, Damaran Baru kemudian dijadikan sebagai desa wisata inilah yang kemudian membawa Damaran Baru mendapat nominasi peraih Anugerah Pesona Indonesia (API) Awards untuk kategori Eco Village.

Tapi sayangnya meskipun gaung Damaran Baru sudah demikian di luar, menurut pengakuan dari para pendiri LSM Burni Telong, karena minimnya liputan dari media lokal, warga Damaran Baru sendiri seperti tidak tahu kalau kampungnya sedemikian terkenal di luaran sana. Sehingga beberapa warga Damaran Baru, bahkan Reje Kampung Damaran sendiri seolah kurang memberi apresiasi pada kampungnya sendiri.

Pak Nas, sang penasehat LSM Burni Telong sangat menyayangkan kurangnya apresiasi ini, karena sebenarnya bukti kerja mereka selama ini sudah sedemikian nyata. Sebab sebelumnya, ketika embung belum ada dan jalur air belum dibuat, setiap habis periode hujan besar, warga Damaran Baru tidak pernah bisa tidur tenang karena setiap saat harus bersiap-siap untuk lari kalau air sampai menyapu kampung.

Pernyataan Pak Nas ini diamini oleh Agustian Rasyid dan Muslim yang merupakan pendiri awal LSM Burni Telong dan Rizal Falla, anak muda lulusan Planologi ITM Medan yang baru mereka rekrut untuk bergabung dengan LSM Burni Telong.

Sambil menunjukkan embung yang mereka gali, bertahun-tahun yang lalu yang sekarang sudah dipenuhi material vulkanik yang dibawa air. Para pendiri awal LSM Burni Telong ini mengatakan kalau mereka membutuhkan dana untuk menggali kembali embung ini, supaya kalau nanti banjir bandang datang kembali, material yang dibawa air bisa tertampung kembali di sana.

Menurutnya, dulu ketika mereka gali pertama kali embung itu memiliki kedalaman enam meter, tapi hari ini, kedalamannya sudah kurang dari 1,5 ,meter. Kalau saja, Reje mau mengalihkan sedikit dana desa untuk proyek ini, mereka sebenarnya sudah bisa menggali embung tersebut lebih dalam. Tapi, rupanya Reje kampung Damaran pengganti Sujito punya pandangan berbeda.

Karena alasan itulah, sekarang para pendiri LSM Burni Telong ini kembali giat mengaktifkan LSM yang mereka dirikan 10 tahun yang lalu. Sebab, meski Damaran Baru sekarang sudah sukses menjadi Kampung Wisata dengan reputasi yang bergaung sampai ke manca negara, tapi kerja-kerja mitigasi bencana yang merupakan visi awal LSM Burni Telong, masih jauh dari kata selesai.

Selamat kepada Damaran Baru yang sudah membawa harum nama Gayo ke Manca Negara, semoga kabar-kabar yang beredar di luaran bahwa Damaran Baru akan menjadi salah satu pemenangan API Awards, benar adanya dan bisa menjadi contoh bagi kampung-kampung Gayo lainnya bahkan Indonesia. [Selesai]

Comments

comments