A Kang, Tokoh Tionghoa Juru Selamat Yatim Gayo yang Terlupakan

oleh

Oleh : Win Wan Nur*

Sejarah panti asuhan pertama di Aceh Tengah tak bisa dilepaskan dari sejarah perang Medan Area (1947-1948) yang namanya diambil dari tulisan di objek vital di Medan yang dijadikan basis militer oleh sekutu, disegel dan ditandai sebagai “Fixed Boundaries Medan Area”

Para pejuang Aceh, tak terkecuali Gayo berbondong-bondong berangkat ke Medan untuk menghadang sekutu agar tak masuk ke Aceh. Dari Gayo mencuat nama BAGURA (Barisan Gurilla Rakyat) pasukan khusus berani mati di bawah pimpinan Tengku Ilyas Leubee yang mencuatkan nama Edem, Pang Ali Rema dan Aman Dimot yang syahid dan dimakamkan di Tanah Karo.

Melihat banyaknya anak yang menjadi yatim akibat orangtuanya gugur di medan perang mempertahankan kemerdekaan ini para tokoh masyarakat Aceh Tengah bersama Jawatan Agama kabupaten ini berinisiatif mendirikan semacam rumah penampungan buat anak-anak itu.

Maka pada tanggal 1 Maret 1948, berdirilah “Asrama Penyantun Fakir Miskin dan Yatim Piatu” yang langsung dipimpin oleh Cut Mara Intan yang kemudian digantikan oleh Tengku Abdulsalam, keduanya berasal dari seksi Baitulmaal, Jawatan agama Aceh Tengah.

Dalam perang Medan Area, selain objek vital rumah-rumah penduduk Medan tak luput dari sasaran sekutu sehingga banyak warga sipil terpaksa eksodus dari kota Medan.

Tak sedikit dari warga ini yang mengungsi ke pedalaman Aceh melalui Tanah Karo dan terus ke Kutacane, Blangkejeren dan berakhir Takengen, ibukota kabupaten Aceh Tengah. Mereka inipun kemudian ditampung di “Asrama Penyantun Fakir Miskin dan Yatim Piatu” yang baru didirikan ini.

Tahun 1951, pengelolaan panti asuhan ini diserahkan kepadakepada Jawatan Sosial Aceh Tengah, mengganti namanya menjadi “Asrama Sosial Kabupaten Aceh Tengah” dan menunjuk Alimatsyah sebagai pengelolanya untuk tahun pertama.

Pada 1 Agustus 1952 Alimatsyah digantikan oleh almarhum kakek saya Tengku Ashaluddin dan tahun 1955 melalu keputusan menteri sosial seluruh asrama sosial di Indonesia, namanya diseragamkan menjadi panti asuhan.

Melalui sebuah sayembara, pada tahun 1956, muncul tiga nama finalis untuk panti asuhan ini, 1. PA Budi Luhur, PA.Budi Tinggi dan PA.Taman Bakti. Setelah dimusyawarahkan akhirnya diputuskan, nama Budi Luhur yang diusulkan oleh Tengku Abdullah Badai sebagai nama panti asuhan ini.

Kakek saya memimpin panti asuhan ini sampai tahun 1976, bertepatan dengan kelahiran almarhum adik saya.

Pada periode awal kepemimpinan kakek saya inilah hadir kisah seorang tokoh peranakan Tionghoa yang di Takengen dikenal dengan nama panggilan A Kang yang jasanya begitu besar bagi keberlangsungan hidup anak-anak yatim di panti asuhan ini tapi segala peran dan jasa besarnya itu luput dari catatan sejarah.

Ceritanya, pada masa itu kondisi perekonomian di Aceh sangat sulit. Biaya yang disediakan pemerintah melalui jawatan sosial, sudahlah kecil, datangnya tersendat-sendat pula karena harus dikirim dari Medan, sebab pada saat itu pemerintah daerah Aceh tunduk pada Sumatera Utara. Akibatnya tak jarang anak-anak penghuni panti terpaksa makan ubi rebus sebagai pengganti nasi.

Pada masa inilah, orang-orang kaya terutama saudagar di Gayo mengambil peran besar dalam menyantuni anak-anak yatim di panti. Di antara para saudagar Gayo yang namanya harum tercatat dalam sejarah panti asuhan ini adalah Haji Aman Kuba yang kilang padinya tak jauh dari lokasi berdirinya panti.

Pada masa itu beliau kerap menyisihkan beras hasil pembayaran dari orang yang menggiling padi di tempatnya untuk diberikan ke panti asuhan. Selain Aman Kuba, NV PAT, perusahaan bis antar kota yang belakangan dikenal dengan nama PT. Aceh Tengah juga selain rutin memberikan bantuan beras, juga kerap memberi bantuan perlengkapan tidur dan pakaian.

Satu lagi, tentu saja A Kang yang perannya sangat besar, kalau tidak bisa dikatakan paling besar. Pada masa itu, A Kang adalah pengusaha grosir kelontong terbesar di Aceh Tengah bahkan dataran tinggi Gayo secara umum, segala barang kebutuhan hidup sehari-hari di dataran tinggi ini dipasok dari toko milik A Kang.

Ketika kakek saya mengelola panti asuhan ini, untuk membiayai panti asuhan, kakek saya menjual 4 ekor kerbau milik keluarga kami dan semua uangnya diserahkan kepada A Kang yang digunakan untuk memasok segala kebutuhan hidup anak-anak panti asuhan.

Uang hasil penjualan 4 ekor kerbau itu tentu saja tak bertahan lama ketika digunakan untuk membiayai hidup puluhan orang anak yatim yang membutuhkan makan tiga kali sehari. Tapi, meskipun uang yang diberikan oleh kakek saya sudah habis, A Kang terus memasok segala kebutuhan panti asuhan ini sampai bon pembeliannya menumpuk tinggi, A Kang belum menuntut pembayaran.

Tahun 1953, DI/TII memberontak, selama 2 bulan penuh kota Takengen diduduki oleh DI/TII, pemerintahan RI lumpuh dan pengelolaan panti asuhan ini diambil alih oleh DI/TII tapi tetap mempercayakan kakek saya sebagai pengelola.

Pada periode ini, entah karena alasan apa, tentara DI/TII menangkap A Kang dan menjebloskannya ke dalam penjara.

Mengetahui kejadian itu, kakek saya, yang selain sebagai kepala panti asuhan juga dikenal sebagai ulama tak menunggu lama langsung menghadap pimpinan DI/TII untuk meminta pembebasan A Kang dan terjadilah dialog seperti ini, dialog yang sering diceritakan pada kami cucu-cucunya.

Kakek saya : “DI/TII memperjuangkan tegaknya Islam bukan?”
DI/TII : “Iya”

Kakek saya : “Bukankah Islam memerintahkan untuk memelihara dan menyantuni anak yatim?”

DI/TII : “Tentu saja”

Kakek saya : “Lalu, kenapa kalian menangkap orang yang selama ini memberi makan anak yatim? Kalau dia terus kalian tahan, siapa dari kalian yang akan bertanggung jawab memberi makan anak-anak yatim di panti asuhan? Kalau mereka nanti mati kelaparan, apakah kalian sudah siap menanggung dosanya di akhirat kelak?”

Mendengar penjelasan kakek saya, para petinggi DI/TII inipun kaget dan segera melepaskan A Kang hari itu juga.

Kelak, tahun 1989 – 2004, sejarah membawa ayah Syamsuddin A.S kembali ke Panti Asuhan ini sebagai pengelola. Pada masa itupun, saya masih ingat setiap menjelang lebaran, anak-anak A Kang masih rutin memberikan sumbangan entah itu berupa makanan maupun pakaian baru untuk anak-anak panti asuhan. Bahkan anak-anaknya yang pindah ke Taiwan dan sudah bukan WNI pun, menjelang lebaran masih kerap mengirimkan uang ke panti.

Tahun 2004, tsunami menerjang Aceh, Givelight Foundation di California, USA berencana membangun panti asuhan buat menampung yatim korban bencana itu yang mengungsi ke Gayo. Ayah saya yang saat itu sudah pensiun memberikan tanah keluarga kami di Dedalu untuk dibangunkan panti asuhan yang dimaksud dan berdirilah Panti Asuhan Yayasan Noorden di kampung Dedalu yang masih beroperasi sampai hari ini.

Dan sampai hari inipun keluarga kami masih menjalin hubungan yang sangat baik dengan anak cucu A Kang, sang penyantun penyelamat anak yatim Gayo di masa sulit dulu yang kini peran dan jasa-jasanya telah terlupakan.

*Dewan Redaksi LintasGAYO.co

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.