Merayakan Puisi, Merayakan Kopi (Sebuah Catatan Menyambut November Kopi Gayo 2020)

oleh

PASTILAH tidak mudah membuat puisi berdasarkan “pesanan”. Puisi Kopi, misalnya. Meski tidak benar-benar pesanan, tapi tema telah ditentukan. Penyair yang ingin berpartisipati harus membuat puisi sesuai tema itu. Jika tidak sesuai tema, ya tidak bisa masuk dalam buku antologi puisi kopi yang kemudian disemat judul “Puisi Kopi 1.550 Mdpl” ini.

Sehingga ada penyair, yang hingga batas akhir pengiriman, belum juga punya puisi termasuk bertemakan kopi. Salah satunya penyair Sosiawan Leak. “Maafkan aku Fikar (juga Mas Mustafa & Mas Salman Yoga).

Sampai batas akhir pengiriman belum juga berhasil menulis puisi kopi. Turut bangga & berdoa sentosa! Terus bergerak!” tulis Leak di Grup WA Ruang Sastra yang beranggotakan lebih 200 sastrawan/pegiat sastra.

Hal senada dikatakan penyair Hasan Aspahani, pemenang Hari Puisi Indonesia 2016 dengan bukunya Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering. “Sampai tanggal akhir pengiriman saya belum punya puisi baru tentang kopi, kecuali puisi lama yang sudah pernah dibukukan. Sedih….,” tulisnya di grup yang sama.

Penyair lain, D. Kemalawati, lewat pesan singkat ke ruang pribadi salah satu kurator, mengatakan “menyerah” karena hanya bisa melahirkan satu puisi tentang kopi – dari tiga puisi yang dianjurkan dikirim.

Sekali lagi, memang tidak mudah melahirkan puisi dengan tema yang sudah ditentukan. Ini bukan soal lihaitidaknya bermain-main dengan bahasa, simbol, bunyi dan metafora. Tapi lebih dari itu: ini lebih pada “kedalaman” dan “penguasaan” sebuah peristiwa puitik.

Ketika penyair tidak berhasil menguasai sebuah peristiwa puitik tertentu – yang ingin ditulisnya– ia akan terjebak pada “membariskan huruf-huruf menjadi larik-larik puisi” dan bukan puisi itu sendiri. Sekilas itu puisi, tapi ia tidak punya roh, tidak punya jiwa sebagai puisi.

Akan lain halnya jika panitia membebaskan tema. Pastilah penyair bisa menulis sesuai peristiwa dan pengalaman puitik yang ditangkapnya. Puisi yang dibikin dengan sungguh-sungguh, penuh pendalaman, penghayatan, pastilah hasilnya jauh lebih kuat ketimbang puisi yang dibikin buru-buru dan demi memenuhi kriteria serta target waktu tertentu.

Tidak semua penyair lihai bermain-main dengan tema, bermain dengan inspirasi, bermain dengan diksi, dengan simbol, metafora dan bunyi.

Maka itu, kami sangat mengerti ketika begitu banyak karya yang dikirimkan ke panitia tidak lahir dengan intensitas kuat. Karya-karya dimaksud hadir “hanya” demi meramaikan atau menyemarakkan pesta puisi kopi. Ia bukan puisi dari sebuah pergulatan puitikal, melainkan hadir dalam “rangka”.

Akibatnya, dari hampir 2.000 puisi yang masuk ke panitia (dari 675 penyair), tak sampai 400 puisi yang lolos kurasi (dari 255 penyair). Sebagian puisi yang lolos pun masih “bermasalah” secara puitikal.

Pilihan diambil demi mengajak sebanyak-banyaknya penyair ambil bagian dalam buku puisi ini sekaligus Pesta Puisi Kopi Dunia yang diadakan di Tanah Gayo, Aceh, 25-27 November 2016. Niat kegiatan ini memang untuk “pesta” alias perayaan. Kita merayakan puisi sekaligus merayakan kopi. Makanya, semua boleh ambil bagian. Tak harus penyair. Apalagi harus penyair ternama.

Buku ini menghimpun karya-karya para penulis puisi dalam berbagai latar belakang dan umur. Ada yang tertua, LK vi Ara, dan yang termuda Soeryadarma Isman, siswa sebuah Sekolah Menengah Pertama di Banda Aceh. Puisinya pun beragam gaya: dari gaya Sapardi (Sapardi Djoko Damono) hingga gaya Sutardji (Sutardji Calzoum Bachri).

Ada puisi-puisi model estetika arus utama – seperti puisi-puisi yang dimuat di media cetak besar Indonesia – ada pula yang kental dengan gaya lokal.

Kita tahu, dalam tradisi perpuisian di Aceh, misalnya, sangat dipengaruhi oleh hikayat, dengan bahasa yang sedikit terang berderang. Ini tentu berbeda dengan puisi-puisi yang “ditasbihkan” sebagai puisi yang “bagus”dan “benar”, yang kerap dimuat di media cetak arus utama: sangat simbolik, bahkan terkadang cenderung gelap.

Di buku ini, semua gaya bebas berkelindan dan menemukan dunianya. Itulah keragaman perpuisian Indonesia. Tidak boleh ada klaim arus puitikal seperti apa yang disebut puisi yang baik.

Secara sederhana dipahami bahwa puisi yang baik itu adalah ketika ia “puitis”, merangsang imajinasi, sekaligus menyenangkan dan menggembirakan. Ia adalah ruang untuk rekreasi, bisa menyuguhkan hal-hal baru kepada pembacanya, bisa menyediakan ruang penyegaran.

Jadi puisi tidak harus mengusung gagasan-gagasan besar, tak harus bicara dengan kening berkerut dan menguras pikiran. Ia juga arena untuk bermain-main dan bersenang-senang. Tapi, terkadang, kita terlanjur “didekte” bahwa puisi itu harus “berat”.

Para penyair dalam buku ini tak melulu bicara kopi. Ada penyair yang membicarakan kopi dengan segala permasalahannya, ada juga yang menjadikan kopi sebagai simbol dan personifikasi. Bahkan, ada puisi hanya “menempelkan” kata-kata kopi dalam puisinya. Semuanya sah.

Memang panitia tidak memberi batasan ketat tentang puisi kopi ini. Patokan kami: bagaimana kopi menjadi inspirasi bagi penyair untuk menciptakan puisi.

[Mustafa Ismail, Fikar W Eda, Salman Yoga S]

*Dipetik dari catatan Tim Kurator Buku “Antologi Puisi Kopi 1.550 Mdpl”. Diterbitkan pertama kali oleh: Imaji Indonesia, Aceh Culture Centre, Ruang Sastra dan The Gayo Institute, 2016.
** Even November Kopi tahun 2020 tidak menerbitkan buku kumpulan puisi atau essai puisi kopi karena wabah pandemi Covid 19 dan hal lain yang tidak memungkinkan dalam menghimpun karya dan menerbitkan dalam bentuk buku. Tahun berikutnya even November Kopi Gayo diharapkan akan melaksanakan program serupa termasuk literasi.


Ikuti channel kami, jangan lupa subscribe :

Comments

comments