Catatan : Ismar Ramadhani*
HASIL sebuah kesetiaan saya terhadap acara-acara yang disajikan oleh TVRI. Membuat saya mendapatkan banyak informasi yang bermanfaat. Salah satunya, acara menarik Salam Dari Desa yang meliput tentang Agro Wisata Belimbing di Kabupaten Tulung Agung Jawa Timur.
Rasa penasaran saya atas liputan tersebut membawa saya untuk mencari informasi lebih lanjut dengan cara terpopuler saat ini ‘googling’. Langsung saja saya buka laman baru dan memasukkan kata kunci ‘Agro wisata Belimbing’. Belum lagi lengkap tulisan saya, paman google langsung tahu apa yang saya maksudkan. Maka beberapa judul yang tersimpan oleh google tentang tema terkait bermunculan. Saya kemudian menemukan banyak informasi seperti berikut;
Adalah Mulyono, sosok pria sederhana yang memulai berkebun Blimbing di Desa Moyoketen, Kecamatan Botolangu. Mulyono menanam Belimbing dilahan seluas 2 hektar. Saat ini, setidaknya ada 500 petani yang turut menanam belimbing dan menjadi penopang agrowisata belimbing yang digagas oleh Mulyono (dimuat majalah Lifestyle)
(http://www.majalah-lifestyle.com/2013/11/21/mulyono-perintis-agrowisata-belimbing-tulungagung/).
Menurut Mulyono, di akhir pekan, jumlah pengunjung dalam seharinya bisa mencapai seribuan orang. Selain pengunjung lokal, agro wisata ini juga diminati oleh pelancong dari manca negara. Saat ini, setidaknya perhari pengunjung bisa mencapai seribu orang. Jumlahnya akan bertambah di hari libur.
Dan kini, setidaknya ada 500 keluarga di Dusun Cluwok yang menggantungkan hidup dengan menjadi petani Belimbing. Desa ini memasok Belimbing jenis bangkok merah 2 ton setiap harinya ke Jakarta. Selain itu, Belimbing dari Tulung Agung ini pernah di ekspor ke Hongkong dan Taiwan.
Di kebun belimbing ini. selain dapat menikmati kerindangan dari pohon belimbing. Para pengunjung juga di perbolehkan untuk memetik buah belimbing sendiri. Dan anda tidak eprlu kahwatir salah mememtik buah yang belum matang, karena ada pemandu yang akan memberi informasi tentang buah belimbing.
Namun, karena ramainya pengunjung dan kekhawatiran kebun akan kekurangan buah belimbing yang matang, maka setiap pengunjung dibatasi hanya boleh memetik 3 buah belimbing saja. Menurut pengelola, hal ini bertujuan agar pengunjung lain kebagian menikmati sensasi memetik buah belimbing sendiri.
Ditempat yang sama, pengelola juga menyediakan gazebo yang dilengkapi cafe yang menyajikan bakso belimbing dan rujak belimbing. Selain dapat dimakan langsung, ditempat yang sama belimbing juga dapat diolah menjadi minuman segar seperti jus Belimbing. Untuk oleh-oleh, pengelola penyediakan olahan belimbing yang bisa dibawa pulang seperti dodol belimbing.
Kapan Gayo Menyusul?
Setelah mengetahui informasi tentang agrowisata belimbing di Tulungagung, saya kemudian dihantui rasa penasaran pada kesusksesan agro wisata belimbing di Tulung Agung. Dan gara-gara itu muncul pertanyaan bagaimana dengan agro wisata di Gayo?.
Untuk itu saya kembali meminta bantuan pada paman google dengan mensearch agro wisata Gayo. Dan berikut info yang diberikan oleh paman “kamus” ku google.
Hanya ada dua judul yang cukup relevan menurut saya. Pertama satu tulisan di media online berjudul ‘Warga Minta Perkebunan Kopi Burni Bius Dijadikan Kawasan Agrowisata’. Dalam tulisan ini saya menemukan agrowisata kopi yang dimaksudkan masih dalam bentuk wacana dan sedang akan meminta persetujuan dari pemerintah daerah untuk menjadikan kawasan Bius sebagai wilayah Agro Wisata.
Saya belum menemukan info terbaru, apakah agro wisata tersebut sudah di buka dan sudah didatangi oleh pengunjung.
Tulisan lainnya yang ditawarkan oleh google tentang artikel terkait datang dari Bapak Muhammad Syukri dengan judul “Catatan Kompasianer Muhammad Syukri: Nenas poles, agrowisata andalan Aceh Tengah’yang dimuat media online LintasGayo.co, Pak Syukri menuliskan tentang Nenas Poles yang terletak di Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah sebagai salah satu potensi agrowisata Aceh Tengah. Meski tulisan ini banyak membagi informasi, namun menurut saya ada ketidak optimalan dari agrowisata Nenas itu sendiri. Misalnya, apakah pengunjung yang datang telah cukup optimal. Pun demikian, agrowisata nenas poles dapat dijadikan sebagai pemantik awal dari semangat ber-agrowisata di Gayo.
Pertanyaan berikutnya. Mengapa Gayo tidak mengambil peluang untuk memulai agrowisata secara masif. Tidak perlu dilahan yang terlalu luas. 2 hektar pun sudah cukup bila kita berkaca pada kesuksesan agrowisata belimbing di Tulungagung. Entah itu kebun kopi, kebun kentang atau sawah yang ada. Sejatinya, semua yang dimiliki oleh dataran tinggi gayo adalah potensi yang sangat besar untuk dikemas sebagai agro wisata. Yang dibutuhkan hanya tekad dan kesungguhan untuk memulai.
Semoga, tidak lama lagi. Saat anda mensearch tulisan Agrowisata Gayo, akan banyak judul yang dimuncul oleh paman google dengan keragaman agrowisata yang ditawarkan. Dalam bayangan saya akan ada agrowisata kopi, agrowisata terung belanda, agrowisata kentang, agrowisata Pepino, agrowisata strowberry, agrowisata nenas, agrowisata tebu, agrowisata kertan, agrowisata ume (sawah), agrowisata durian dan agrowisata lainnya di Dataran Tinggi Gayo. Semoga.
Ismar Ramadhani adalah Staf Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)





