Berijo, Sastra Lama Bernuansa Romantis di Gayo

oleh
Dr. Joni MN, M.Pd.B.I

Oleh : Dr. Joni, MN

Bentuk sastra lama yang ada pada suku Gayo, umumnya bernuansa romantis, genrenya berkemungkinan sangat mirip dengan Melayu, mereka sebut pantun.

Suku Gayo menyebutnya dengan “BERIJO”, jika saling sambut (tik tok) ini disebut dengan ” Berijo-ijo” atau di melayu disebut dengan berbalas pantun. Konon ceritanya dahulu sastra ini digunakan untuk memikat sang Gadis, biasa tuturan “berijo” yang memulainya adalah “bebujang” atau anak lajang yang memikat hati si gadis yang dimaksudnya.

Jika tidak atau belum berkenan, si gadis menyambut “Berijo” Nya si lajang, maka komunikasinya masih bentuk komunikasi searah, belum masuk ke kategori “berijo-ijo”, namun jika si gadis saat itu berkenan menyambutnya, maka terjadilah bentuk “Berijo-ijo”. Berikut beberapa paragraf contoh ” Berijo” masih dalam bentuk komunikasi searah, sebagai berikut:

Contoh;
Biden tetap budak
gelana
Bebuli si daring
minyak si menta
Bado bedaring
kucing kenyanyan
Lagu sesut mutuki
patal

Gantung atas gere
betali
Ikuruk relem gere
bepeti
Nasib teniro ni tubuh
Namoren luh mujadi
nami

(Contoh di atas dikutip: A. R. Hakim Aman Pinan “Pesona Tanoh Gayo” – PEMDA ACEH TENGAH, 2003:319).

Ditilik berdasarkan bait per bait, BERIJO di atas ini tidak harus berakhiran AB – AB atau dalam istilah Gayo disebut dengan “Musapat Ujung”. Namun, tujuannya yang penting dapat tersampaikan kepada orang yang dimaksud dengan tidak melukai perasaan. Untuk menjaga hati dan perasaan yang dituju, maka mereka menggunakan bentuk tuturan bentuk tidak langsung dan meggunakan tamsilan terkadang tuturannya berkias.

Sehingga, dengan menggunakan atribut berbahasa di dalam penyampaian pesan kepada si gadis, dalam konteks ini kesan dan rasanya sangat romantis tetapi keromantisannya tidak tampak keluar. Karena maksud yang disampaikan pun tersirat di balik tuturan yang terdengar, dalam konteks ini dapat di perhatikan pada contoh di atas.

Jadi, sastra lama suku Gayo memiliki modus tindak tuturnya, yakni bertamsil, berkias dan bentuk penyampaiannya modusnya tidak langsung.

Setelah ditelaah, cerita-cerita dengan beberapa orang tua yang bersuku Gayo, mereka telah memberi informasi dan sinyal tentang hal ini melalui dasar pengalaman mereka sewaktu masih bujang atau lajang dahulu, maka atas cerita pengalaman tersebut dapat disimpulkan bahwa modus tindak tutur yang demikian adalah berguna agar orang yang dimaksud tidak terluka perasaannya dan tetap terlindungi harga dirinya.

Semoga bermanfaat dan sedikit banyakya bisa menambah wawasan kita tentang bentuk-bentuk sastera Gayo.

*Penulis adalah Ketua Pendidikan dan Penelitian di Majelis Adat Gayo

Comments

comments