Puasa dan korelasinya dengan Tujuan Pendidikan Islam

oleh

Oleh : DR. Hamdan, MA*

Kadar M.Yusuf menjelaskan berdasarkan pandangan para ahli ia merumuskan tujuaan pendidikan Islam yaitu “membentuk peserta didik menjadi insan yang shalih dan bertaqwa kepada Allah”.

Setidaknya ada tiga indikator yang menunjukkan terbentuknya predikat tersebut yaitu: Pertama, dia menjadi orang yang amat taat kepada Allah. Ia bersujud dan berdiri menyembahnya kapan dan dimana saja, walaupun ditengah malam buta.

Ia taat melaksanakan ibadah apa saja yang diperintahkan Allah dan Rasulnya. Kedua, takut kepada azab akhirat. Ia sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini, setiap aktivitas yang dilakukan selalu dinilai dan diukur dengan kepentingan kehidupan akhirat nantinya.

Jika satu kegiatan yang sedang dihadapinya itu dapat merugikan atau mengorbankan kebahagian akhiratnya, maka kegiatan itu langsung ditinggalkannya, demikian juga sebaliknya. Ketiga, mengharapkan rahmat Tuhannya. Orientasi kerjanya adalah rahmat Allah.

Apa pun kegiatannya atau aktivitas yang dikerjakanya oleh orang shalih, maka sasaran utamanya adalah rahmat Allah. Maka tidak mengherankan jika kegiatan yang tidak mengandung atau yang tidak berorientasi pada rahmat Allah tidak menjadi perhatiannya bahkan dia menjauhi kegiatan tersebut.

Adapun Abdul Mujib dan Jusup Mudzakkir menjelaskan bahwa secara teoritis tujuan final yang ingin digapai dalam pendidikan Islam ada tiga bagian yaitu tujuan normatif, tujuan fungsional dan tujuan opersional. Namun pada intinya, beliau menjelaskan perumusan tujuan pendidikan pada beberapa tujuan yakni pertama, tujuan dan tugas manusia.

Tujuan dan tugas manusia hanyalah untuk mengabdi pada Allah. Indikasi tugasnya berupa ibadah (abd Allah) dan tugas sebagai wakilnya (khalifah Allah). Kedua, Memperhatikan sifat –sifat dasar (nature)manusia, yaitu konsep tentang manusia sebagai makhluk unik yang mempunyai beberapa potensi bawaan. Ketiga, Tuntutan masyarakat.

Keempat, Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam. Dimensi kehidupan dunia yang ideal Islam mengandung nilai yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia didunia sebagai bekal kehidupan akhirat.

Pada dasarnya tujuan penciptaan manusia adalah selain sebagai makhluk yang Allah ciptakan sebagai sosok untuk menyaksikan keberadaan Allah sebagai pencipta dan mengakuiNya sebagai Tuhan, maka manusia adalah sebagai Abdullah (hamba Allah) yang diciptakan untuk mengabdi dengan melaksanakan segala perintah serta meniggalkan laranganNya, dan ditugaskan untuk menjadi khalifah-Nya, dalam arti Allah mengamanahkan manusia untuk memakmurkan bumi dalam rangka untuk meraih ridhaNya.

Dengan itu Allah memberikan potensi-potensi dan sarana –sarana yang lengkap bagi manusia.
Berbagai potensi dan sarana yang diberikan pada manusia dapat kita klasifikasikan kepada dua yaitu pertama, potensi dan sarana dari dalam (intren) yaitu potens-potensi yang ada pada manusia itu sendiri baik potensi jasmaniah maupun ruhaniah, dengan potensi ini manusia mampu mempunyai daya gerak dan fisik, dengan potensi ini pula manusia mampu melakukan banyak hal karena potensi jasadiyah mengandung potensi panca indra.

Sedangkan potensi ruhaniah berbagai daya yang diberikan Allah seperti aqal, ruh, dan qalb. Kedua, potensi dan sarana dari luar (ekstren) dalam hal sarana ini Allah tidak membiarkan manusia tanpa bimbingan, pengarahan agar tujuan, fungsi, dan tugas manusia terlaksana dengan baik, karena hal tersebutlah Allah mengutus rasul-rasulnya dan menurunkan kitab-kitabnya.

Jadi, dalam makna lain tujuan dari pada pendidikan islam adalah bagaimana manusia tersebut mampu menjadikan dirinya menjadi manusia yang berkepribadian muslim, yaitu keperibadian yang diharapkan oleh Islam yakni kepribadian yang sesuai dengan norma-norma dan ajaran islam yang berlaku yang terdapat dalam Al Quran maupun Sunnah nabawiyah, yang dimunculkan dalam sikap, tingkah laku baik terhadap penciptanya, dirinya, orang lain maupun lingkungannya, dalam persoalan tersebut maka Rasullullah dan Sahabatnya merupakan contoh yang ideal.

Kepribadian muslim berasal dari dua kata yaitu keperibadian dan muslim. Menurut Al Rasyidin mengutip pendapat Anis Ibrahim dalam bukunya Falsafah Pendidikan Islam, secara etimologi keperibadian adalah shifatun tumayyizu alsyakhsa min gairihi, yakni sifat atau karakter yang membedakan seseorang dengan lainnya.

Sedangkan menurut Marimba, keperibadian meliputi kualitas diri seseorang. Kualitas itu terlihat dalam caranya berbuat, berfikir, dan caranya mengeluarkan pendapat, sikap, minat, filsafat hidup serta kepercayaannya. Jadi pribadi yang islami adalah pribadi yang menjadikan nilai-nilai islam sebagai unsur pembentuk keperibadiannya sehingga identitas dirinya benar–benar mencerminkan keislamannya.

Kendatipun istilah –istilah keperibadian tidak ditemukan istilah yang cocok dengan kata keperibadian, dan istilah keperibadian yang sering dipakai para ahli adalah alsyahsyiat, al-huwiyat, al nafsiat, zat, dan khulqu, ananiah.

Terbentuknya keperibadian pada diri seseorang itu berlangsung secara berangsur-angsur, bukanlah hal sekali jadi, melaikan sesuatu yang berkembang, pembentukan keperibadian merupakan suatu proses. Akhir dari perkembangan tersebut jika berlangsung dengan baik maka akan menghasilkan suatu keperibadian yang harmonis dan sehat.

Jadi dapatlah kita simpulkan bahwasanya keperibadian yang sehat, harmonis dalam pandangan islam adalah kualitas keseluruhan diri seseorang muslim, yang mampu ditampilkannya dalam cara-caranya dia berbuat, berfikir, dan mengeluarkan pendapat, sikap, minat, dan kecendrungan, berdasarkan norma-norma yang berlaku dalam Al Quran dan sunnah nabawiyah dikarenakan telah mempunyai akal yang mustasyfad, hati yang sehat serta mempunyai nafsu yang muthmainnah serta tidak terjatuh pada perangkap jeratan-jeratan dan ikatan-ikatan alam materi dan juga nafsu.

Sebaliknya orang yang tidak mampu memperaktekkan dan menampilkan cara-cara berbuat, berfikir, mengeluarkan pendapat, sikap, minat, dan kecendrungannya, berdasarkan konsep-konsep dan norma-norma yang berlaku dalam islam yang terdapat dalam Al Quran dan sunnah nabawiyah dikarenakan tidak mampu membersihkan rohaninya dan jasadnya dari berbagai sifat dan prilaku maksiat dan tidak mampu mengisi nafs, qalb dan aqal dengan keimanan dan ilmu, sehingga terperangkap dalam jeratan alam materi ataupun apa yang di tampilkan berbeda antara lahiriyah dengan bathinya maka orang tersebut adalah pribadi-pribadi yang tidak harmonis, tidak sehat ataupun orang-orang yang mempunyai keperibadiaan yang sakit atau terbelah.

Dalam istilah Al Quran kita dapat menjumpai dan menemukan istilah – istilah orang yang telah mampu dan mempunyai keperibadian islami, sehat, harmoni, dengan istilah yang sangat banyak dan berfariasi misalnya muttaqin atau muttaqun, mu’minun,mu’minin, muhsinun atau muhsinin, muslimun atau muslimin dan masih banyak istilah –istilah lainya yang kesemuanya merujuk pada sosok orang telah mampu dan memiliki keperibadian yang sehat dan harmoni berdasarkan konsep –konsep islami.

Puasa Ramadhan yang akan kita tuntaskan, tujuaan utamanya adalah sebagaimana yang tercantum dalam ayat puasa yaitu Q.S al-Baqarah : 183yang artinya ”Wahai orang yang beriman diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa”.

Taqwa yang berasl dari kata waqaa-yaqii-wiqayah yang artinya menjaga diri, menghindar dan menjauhi. Sedangkan definisi taqwa banyak pengertian yang diberikan ulama namun yang banyak didefinisikan orang adalah orang yang memiliki rasa takut kepada Allah sehingga melaksanakan perintah Allah dan juga menjauhi larangannya semata-mata mengharapkan ridha- Nya.

Orang yang bertaqwa memiliki sifat, karakter yang banyak akan tetapi pada intinya adalah memiliki perasaan yang takut kepada Allah sehingga akan melaksanakan perintah Allah dan juga menjauhi larangan Allah dalam rangka untuk mencari keridhaan dan kecintaan Allah.

Disamping itu orang yang bertaqwa mempunyai keinginaan untuk melakukan taubat kepada Allah dan berupaya menghilangkan sifat-sifat buruk yangada dalam dirinya dan menggantinya dengan sifat yang mulia, dan ini merupakan keperibadian yang sehat berdasarkan paradigma islam.

Puasa Ramadhan sebagai bentuk ibadah ritual dalam rangka untuk mendidik manusia mendorong manusia untuk memiliki akhlaq baik dan terhindar dari keengganan untuk melaksanakan perintah Allah dan suka meninggalkan laranganNya.

Karena puasa mendorong seseorang memiliki nafsu mauthmainnah yakni nafsu yang telah bisa tunduk kepada keinginan dan kemauan Allah dan Rasulnya, maka puasa secara langsung mendorong manusia agar menjadi sosok yang berkepribadian yang sehat, yakni keperibadian yang dimiliki oleh orang yang bertaqwa dan sifat yang ada pada orang yang bertaqwa tersebut adalah selaras dengan tujuaan yang ingin digapai dalam pendidikan islam.

• Penulis adalah Dosen IAIN Takengon

Comments

comments