Kita Lebaran Atau Idul Fitri?

oleh

Oleh : Johansyah*

Bulan ramadhan segera pergi dan kita jelang 1 syawal sembari merayakan salah satu hari besar umat Islam, yaitu idul fitri. Meski terkadang berbeda hari dalam merayakannya, tapi kita memiliki tujuan sama, yakni merayakan kemenangan bagi yang serius berpuasa.

Tentu hari raya ini kita sambut dengan penuh suka cita meskipun di tengah penyebaran wabah covid-19. Serasa kurang sempurna memang karena saudara kita di perantauan dilarang untuk mudik dengan pertimbangan meminimalisir penyebaran virus.

Hari raya ini lazim kita sebut lebaran dan sering menyatumaknakannya dengan idul fitri. Tapi perlu dicatat bahwa tidak ada jaminan bahwa orang yang berlebaran itu semuanya idul fitri (kembali pada asal mula kejadian, kembali pada fitrah), yakni kembali pada ketundukan dan kepatuhan terhadap Allah.

Kecuali itu, manakala idul fitri dimaknai sebagai ‘kembali bersarapan pagi seperti sedia kala’, tentu semua orang mendapatkannya karena ramadhan telah berlalu.

Nyatanya, banyak yang merefleksikan lebaran dengan aktivitas seremonial religious tahunan semata. Mereka tidak memperoleh sedikit pun dari mutiara ramadhan karena tidak menjalani puasa dengan sungguh-sungguh untuk menjadikan diri lebih berkualitas dari sebelumnya, baik di mata Tuhan maupun manusia. Mereka gagal menjalani pendidikan dan latihan selama karantina ramadhan.

Mereka merayakan idul fitri dengan hanya mengedepankan aspek simbolisnya. Sebelum pandemi covid, mereka yang mudik dari perantauan ke kampung halaman minsalnya, terkadang pulang kampung lebih dikarenakan oleh keinginan untuk rekreasi dan pamer kekayaan, bukan malah bermaksud untuk mempererat silaturrahmi.

Padahal idul fitri adalah momentum yang paling tepat untuk itu. Supaya mereka mempererat bersilaturrahmi dengan orangtua, saudara, tetangga, kiai, dan guru.

Lebaran bagi kebanyakan orang juga tidak lebih dari prestise, bukan prestasi karena telah berhasil mengikuti diklat ramadhan. Di akhir ramadhan, banyak ibu rumah tangga yang menurun semangat ibadahnya dengan dalih klasik, yakni membuat aneka kue lebaran. Selain itu, disibukkan juga dengan bongkar pasang perabotan rumah tangga dengan yang baru. Katanya, ‘agar tidak malu nantinya jika kedatangan tamu’.

Tradisi lebaran lain yang tidak kalah serunya adalah baju baru untuk semua anggota keluarga. Sebelum semuanya memperoleh baju, celana, dan sandal baru, rasanya lebaran tidak sempurna dan seolah-olah lebaran tidak sah tanpa baju baru. Saya pikir di tahun ini pasar dan toko baju sepi karena pandemi dan krisis ekonomi. Tapi ternyata tidak berpengaruh sama sekali. Orang yang berbelanja di toko baju malah sangat padat. Sebabnya itu tadi, tidak ada lebaran tanpa baju baru.

Kembali pada tujuan puasa, mereka yang menyambut lebaran seperti ini bisa dikata tidak sukses di bulan ramadhan, walau pun di 1 syawal begitu gembira merayakannya. Bagi mereka hari raya adalah ajang perubahan dan pembaruan lahiriyah belaka, bukan proses perbaikan kualitas ruhaniyah manusia sebagai modal utama menjalani hidup.

Sayangnya, ternyata mereka hanya mampu meramaikan dan menemani orang-orang yang lebaran dan memperoleh idul fitri sesungguhnya, dan sama sekali bukan menjadi bagian dari mereka. Ibarat pelayan restoran yang selalu menghidangkan menu enak dan nikmat, tapi yang menyantapnya adalah pelanggan yang berkunjung ke sana.

Yang Idul Fitri

Jika sepakat dengan makna idul fitri, yakni kembali kepada fitrah (asal mula kejadian), lantas siapa sebenarnya yang idul fitri dan apakah kita menjadi bagian dari mereka? Hal ini tentu penting untuk dipahami agar kita mengetahui di zona mana sebenarnya kita berada. Apakah hanya zona lebaran ataukah idul fitri, atau kedua-duanya?

Kelompok yang dikategorikan ke dalam idul fitri adalah mereka yang bersungguh-sungguh menjalani ibadah puasa. Mereka tidak hanya puasa dari makan dan minum, tapi mampu memuasakan indera, pikiran, dan hatinya. Puasa mereka tidak sia-sia seperti digambarkan oleh Nabi Saw; “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabraniy).

Secara lebih rinci mari simak uraian beriku: pertama, mereka yang meninggalkan perkataan yang dusta (zur). Sebagaimana ditegaskan Nabi Saw; “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari).

Orang yang berpuasa tidak mau sesumbar dalam berbicara dan mengucapkan perkataan sia-sia. Mereka melakukan puasa bicara, puasa dari kalam kesia-siaan.

Kedua, mereka yang menjauhi perkataan yang sia-sia (laghwu), dan memedomani hadits Nabi Saw; “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rafats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Ketiga, mereka yang menundukkan pandangan dari hal-hal bernuansa maksiat. Sesuai dengan sabda Nabi Saw; “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku” (HR. Muslim).

Keempat, mereka yang berpuasa berpikir dan berzikir untuk Allah. Dalam alqur’an orang seperti ini dinamakan ulul Albab, yakni mereka yang selalu mengingat Allah dalam semua situasi dan kondisi dan selalu berpikir atas semua mahakarya ciptaan Allah, sehingga mereka betul-betul sadar bahwa tidak ada sesuatu makhluk ciptaan yang dijadikan Allah sia-sia (QS. Ali-Imran: 190-191).

Kelima, mereka yang selalu menjaga hatinya dari perasaan iri, dengki, sombong, takabur, egois, menindas, munafik, bohong, dan tabiat buruk lainnya. Hatinya selalu diliputi dengan menyebut asma Allah sehingga membuatnya selalu tenang. Sebagaimana dikatakan dalam salah satu titah-Nya bahwa bukankah dengan selalu mengingat Allah dapat membuat hati kita tenang? Inilah puncaknya puasa, yaitu puasa hati yang banyak dikatakan para ulama sebagai puasa tarekat.

Akhir kalam, orang-orang berpuasa yang sesungguhnya idul fitri adalah mereka yang secara totalitas mampu memuasakan dirinya, baik lahir maupun batin. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi mampu menundukkan hawa nafsu. Mereka inilah yang sesunggunya idul fitri kendati pun tanpa baju baru, mobil baru, dan hal baru lahiriyah lainnya.

Tidak ada yang berubah kecuali sikap dan perilaku yang lebih berkualitas dari sebelumnya. Mereka kembali pada fitrah, yakni semangat untuk melakukan kebaikan dan berusaha meninggalkan kemaksiatan. Semoga kita masuk pada kelompok yang beridul fitri. Wallahu a’lam bishawab!

*Pemerhati Pendidikan dan Sosial-Keagamaan

Comments

comments