Puasa dan Spirit Fastabiqul Khairat

oleh

Oleh : Johansyah*

Islam mendorong kita untuk berkompetisi dalam kebaikan. Dalam al-Qur’an disebutkan fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan). Hidup ini memang kompetisi sebagai salah satu wujud aktualisasi diri yang kalau merujuk pada teori kebutuhan Maslow, sebagai puncak dari kebutuhan manusia.

Meski pun di sisi lain dalam disertasinya, Prof. Baihaki AK salah satu intelektual dan cendikiawan Muslim asal Gayo, berusaha merekonstruksi teori ini dengan menegaskan bahwa kebutuhan manusia yang paling tinggi bukanlah aktualisasi diri, tapi agama.

Kompetisi sendiri adalah sifat bawaan dan tabiat manusia. Manusia dilahirkan untuk mau dan mampu bersaing, tapi tetap harus bersanding. Kompetisi harus harus sehat, tidak boleh menjadikannya sebagai panggung untuk saling merubuhkan antara satu dengan yang lainnya.

Kompetisi tinju sekalipun, lawan di pukul jatuh, namun setelah pertandingan berakhir mereka tetap saling berpelukan dan mengakui kelebihan masing-masing.

Kompetisi tidak dapat dilepaskan dari spirit keilmuan. Orang yang kompetitip itu haruslah orang yang memiliki skill, pengalaman dan pengetahuan yang mumpuni sehingga dia mampu bersaing dalam bidang yang ditekuni.

Tanpa ilmu, tidak akan ada kompetisi karena dalam menjalaninya orang butuh metodologi; pendekatan, metode, teknik, langkah, strategi, trik, dan sebagainya agar apa yang dilakukannya dinilai layak dan berkualitas.

Sejak awal sejarah perjalanan manusia sudah mulai terlihat nuansa kompetisi. Seperti kisah Qabil dan Habil yang terlibat dalam kompetisi persembahkan ‘upeti’ terbaik yang diminta oleh Allah dari masing-masing keduanya. Qabil menggeluti bidang pertanian, semetara Habil menekuni bidang peternakan.

Kompetisinya, siapa yang persebahannya berkualitas, itulah yang nanti diterima. Alhasil, Allah menerima persembahan Habil karena dinilai berkualitas. Dia mempersembahkan seekor qibas yang sehat dari hasil peternakannya. Sementara Qabil mempersembahkan hasil pertanian yang bukan kualitas nomor wahid dan terbaik, sehingga ditolak oleh Allah.

Cerita ini diabadikan dalam al-Qur’an: ‘ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah satu mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil); ‘aku pasti membunuhmu’. Habil berkata; sesungguhnya Allah menerima korban dari orang-orang yang bertakwa’ (QS. al-Maidah: 27).

Salah satu sifat dasar manusia adalah ingin dimuliakan dan diakui. Dia tidak mau direndahkan dan apalagi dihina. Di sini kita butuh kecerdasan dalam menyikapinya. Orang yang mendasari kompetisinya atas ambisi berlebihan agar diakui, akan melakukan cara apa pun untuk mendapatkan pengakuan itu. Sementara orang yang mendasari kompetisi dengan akal sehat, memilih untuk mencari cara terbaik untuk mencapai hasil yang terbaik.

Qabil terlalu ambisius, tapi tidak membarengingan dengan ketulusan dan ilmu dalam mempersembahkan upeti terbaik. Anehnya, dengan kualitas seperti itu dia ingin diakui sebagai yang terbaik. Ketika dinyatakan kalah, dia tidak menerima, dan akhirnya dia pun membunuh saudara sendiri. Dia tidak dapat menerima kekalahan dalam kompetisi itu.

Di jaman now, kompetisi tidak sehat masih kerap terjadi dan sering kita saksikan. Tahun sembilan puluhan, saya masih anak-anak dan sering menyaksikan kompetisi bola di tingkat kabupaten. Ternyata tim yang menang itu tidak murni berprestasi karena profesionalismenya, tapi ada faktor lain yaitu magis (perdukunan).

Orang-orang pada heran kenapa mereka bisa menang, dapat menumbangkan tim hebat. Sebabnya itu tadi, ada pemain ke-12, yaitu dukun. Setelah di telisik lebih jauh, bahkan hingga piala dunia, tenyata sama juga. Kita berpikir, kompetisi setingkat piala dunia bebas dari perdukunan, ternyata tidak. Banyak juga negara yang mengandalakan pemain ke-12 tadi.

Kompetisi tidak sehat juga kerap kita saksikan dalam kontestasi pilkada, pileg, atau dalam memperebutkan jabatan strategis di pemerintahan. Kita super heran mengapa calon A bisa menumbangkan calon B. Atau mengapa orang itu dapat menduduki jabatan strategis di pemerintahan, padahal tidak profesional.

Bahkan memiliki track record yang kurang baik. Sebaliknya, saingannya adalah orang hebat, tapi bisa tumbang. Sebabnya tidak lain adalah 3D (dekat, duit, dan dukun). Tentu, kompetisi yang dimenangkan karena 3D ini adalah kompetisi yang pincang. Namanya saja kompetisi, tapi praktiknya lebih pada ambisi.
Kompetisi sehat itu berorientasi pada kualitas kerja maupun karya sehingga mendatang prestasi dan apresiasi tanpa manipulasi.

Dimenangkan karena layak menang, dan dihargai karena memang layak dihargai. Dia punya keistimewaan di bidangnya, punya wawasan yang memadai, berpengalaman, dan sangat perfect dalam mengerjakannya. Itulah yang kemudian membuat orang spontan mengacungkan jempol pada kerja dan karyanya.

Hanya ada dua karakter kompetisi, yaitu kompetisi yang didasari ambisi atau kompetisi yang didasari kompetensi. Kompetisi pertama akan menghalalkan segala cara, terutama 3D yang disebutkan tadi. Sedangkan kompetisi model kedua mengutamakan berbagai cara yang didasari atas ilmu, pengalaman, wawasan, kesabaran, dan ketulusan dalam menjalaninya.

Kompetisi karakter pertama hanya akan melahirkan aib. Meskipun menang dia akan tetap dinilai curang dan tidak layak. Sedangkan kompetisi karakter kedua meski pun kalah atau dikalahkan, tapi orang tetap menghargai dan mengapresiasi.

Ada sebuah kisah inspiratif dari sahabat Rasulullah Saw, Abu Bakar Siddiq dan Umar Bin Khattab yang saya sadur dari artikel Iu Rusliana (republika online). Diceritakan bahwa setiap pagi selepas subuh, Abu Bakar selalu bergegas pergi ke pinggiran kota. Dan hal itu rutin terus dilakukannya setiap hari. Umar pun penasaran ingin tau apa sebenarnya yang dilakukan sabahatnya itu. Suatu subuh Umar lantas mengikuti Abu Bakar. Rupanya Abu bakar pergi ke sebuah gubuk tua yang penghuninya adalah seorang nenek buta.

Umar merasa kaget. Selepas Abu Bakar beranjak, Umar menghampiri nenek tersebut dan bertanya; ‘nek, apa yang dilakukannya di rumah nenek yang berkunjung setiap subuh ke sini?’ Nenek itu pun menjawab; ‘entahlah, tapi setahu saya dia selalu membersihkan rumah ini dan menyajikan makanan untukku’.

Mendengar cerita si Nenek, Umar pun meneteskan air mata karena takut tak sanggup berbuat baik lebih dari itu. Ia pun bertekad untuk berbuat baik lebih dari apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.

Untuk itu, di ramadhan karim yang penuh berkah dan juga bulan penuh ampunan ini kita didorong untuk semangat berkompetisi dalam kebaikan. Kebaikan itulah yang dapat menebuas kesalahan dan dosa yang kita perbuat. Di bulan puasa ini kita didorong untuk banyak melakukan keaikan dengan beragam ibadah yang kita lakukan. Itu artinya, puasa mendidik kita agar menjadi pribadi yang kompetitif.

Akhir kalam, kita semua berharap agar hingga di penghujung ramadhan, bahkan hingga ramadhan meninggalkan kita, semangat untuk berkompetisi dalam kebaikan itu tidak surut dan dapat dipertahankan secara terus menerus. Wallahu a’lam Bishawab!

*Pemerhati Pendidikan, dan Sosial-Keagamaan.

Comments

comments