Enti Dewe, Ke Murejeki Keta Bagi Due

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Gadis Austria menyatakan selamat tinggal dengan ciuman, sedangkan Nazi Jerman mengekspresikan dengan tinju. Sebagai manusia yang anti kekerasan, saya lebih suka gaya gadis Austria ucapkan “good bye” kepadaku.

Kadang kala kata-kata tidak diperlukan untuk mengungkapkan sesuatu. Cukup dengan satu pembuktian tindakan, bisa bermakna lebih dari seribu kata. Begitulah pilihan! Manusia ingin yang terbaik, namun ada manusia lebih suka gaya Nazi Jerman dalam memperturutkan hajat pintanya.

Pada awal damai RI-GAM, cara-cara seperti itu masih berlaku, namun tahun 2020 ini saya kira sudah lewat masa bermain kasar. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, bencana banjir dan kebakaran tidak elok menabuh genderang perang.

Salah satu penyebab konflik di dunia adalah hidup terlalu serius, kaku dan kurang becanda. Coba kita tonton acara komedi; meskipun dibully, direndahkan, bahkan ditampar sekalipun orang tetap tertawa dan “korbanpun” tidak merasa sakit hati.

“Hiburlah hati kalian sesaat karena jika hati kalian membenci, maka ia akan buta” demikian nasehat dari Sayyidina Ali Bin Abi Thalib.

Barangkali sudah menjadi takdirnya pasangan pimpinan daerah; gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta wali kota dan wakil wali kota mulai berseteru dengan sebab berbagai macam. Biasanya soal tidak jelasnya pembagian kewenangan dan tidak adil dalam pembagian proyek.

Padahal ada ungkapan ringan yang solutif, “Enti dewe-dewe, ike murezeki bagi due” atau “Bek dawa-dawa, menyoe na reseuki ta bagi dua.”

Sesungguhnya kita hidup di zaman yang serius; Wabah virus corona melanda dunia, bencana susul menyusul. Belum selesai penanganan satu bencana sudah datang bencana lainnya. Sehingga pemimpin perlu putar otak mengatasinya. Masalahnya bukan saja soal dampak bencananya, tetapi yang berat adalah tingkah laku manusianya. Baik pun dianggap tidak baik, apalagi buruk, tentu akan dianggap lebih buruk.

Dalam menghadapi situasi berat seperti ini, pemimpin harus menghindari penasehatnya dari tukang hasut dan orang-orang yang hidupnya terlalu kaku. Kalaupun tidak diperlukan penasehat dari kalangan pelawak, setidaknya ada seseorang yang ketika kita melihatnya bisa tertawa agar kita tidak salah dalam memilih antara gadis Austria dengan Nazi Jerman.

(Mendale, 15 Mei 2020)
 

Comments

comments