Suasana Kebathinan Ngopi Kala Perang

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

“Mari kita nikmati kopi ini untuk takdir yang mengantarkan kita kepada peperangan,” kami sama-sama mengangkat gelas tinggi-tinggi diiringi gelak tawa seolah esok pagi sebelum kami terbangun sudah merdeka.

Belum musim panen, kopi sulit didapat. Masyarakat jarang ke kebun. Sudah hampir satu purnama kami tidak ngopi. Malam itu, bangga rasanya bisa minum kopi bersama pada kesempatan istimewa.

Tidak masalah soal rasa kopi kurang gula, pahit dan suram. Yang penting, setiap pribadi pasukan punya kesadaran diri sebagai masa depan ummat manusia dan perjuangannya merupakan tugas dari Tuhan yang diembankan kepadanya.

Saya pun tidak ingin membangun imajinasi surga dan neraka untuk menciptakan kepatuhan pasukan. Biarlah mereka berimprovisasi. Mereka bukan kumpulan orang-orang bodoh.

Apa yang berlaku pada mereka adalah proses pendewasaan diri. Saya tidak akan memberi harapan, meski saya tahu, satu harapan akan menjadi sejuta rasa.

Kami merasa manusia yang paling berharga di planet ini. Dicari, dikejar dan diiming-imingi rumah, uang, jabatan, bahkan perempuan. Rayuan klasik. Musuh perlu tahu, kami bukan pemberontak, kami hanya mencari identitas yang hilang.

Berubah adalah sasaran antara, meski kami lakukan dengan cara yang tidak lazim. Seperti kata Albert Einstein; “Dunia tidak akan berubah, sebelum merubah fikiran kita.”

(Mendale, 12 Mei 2020)

Comments

comments