Kilas Balik Tragedi Menderek ; 17 Pasukan Daerah III Linge Syahid

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Daerah III Wilayah Linge meliputi Timang Gajah sampai ke KM 35 yang berbatas dengan Daerah II Wilayah Bateilek, serta Silihnara, Celala sampai ke Pameu yang berbatas dengan Wilayah Pidie.

Posisinya sangat strategis. Dari Blang Rakal naik ke Pantan Sinaku kemudian turun langsung ke Sawang, Daerah I Wilayah Pasee. Letaknya yang menguntungkan, sehingga pimpinan Wilayah Linge mengembangkan ideologi Aceh Merdeka mulai dari “daerah rimba raya” ini.

Tercatat pimpinan GAM Wilayah Linge yang mulai bergerak dari Daerah III, di antaranya Tengku Iftah yang populer dengan panggilan Tengku Putih dan Tengku Ligadinsyah bersama pasukan Win Bintang dan Jaka Badak.

Di Daerah III banyak pejuang tahun 1990-an. Di antaranya; Tengku Abu Bakar Silih Nara, Toke Usman Murni dan Abilah. Sehingga tokoh GAM 1976, Tengku Aman Nurcaya yang dikenal dengan nama Abu Takengen menjadikan Daerah III sebagai “wilayah berdaulatnya” sebelum masuk ke daerah lainnya di Wilayah Linge.

Sedangkan tokoh GAM 1976 yang tetap bermukim di daerah ini adalah Tengku Bahrin Tarigan Aman Ramadhan yang pernah menjadi kepercayaan Tengku Ilyas Leubee dan Wali Neugara Teungku Hasan Muhammad di Tiro atau Teungku Hasan Tiro.

Posisinya yang strategis dan adanya tokoh 1976 dan 1990, serta banyaknya korban DOM menjadi mudah bagi Tengku Marzuki atau dikenal dengan sebutan Wien Rimbaraya sebagai Panglima Daerah III untuk menyusun struktur GAM baik militer maupun sipil.

Perkembangan pasukan GAM yang pesat di lintasan jalan Bireuen-Takengon itu membuat intelijen Indonesia bekerja ekstra untuk meredam kekuatan GAM di daerah dataran tinggi Gayo itu dengan banyak membangun Pos TNI/Polri dan membentuk milisi, yaitu sipil yang dipersenjatai.

Sementara pasukan Daerah III sendiri membuat kesalahan terbesar dalam perang, yakni meremehkan musuh. Peristiwa yang menjadi penyebab syahidnya 17 orang pasukan tersebut menjadi pelajaran penting dalam dunia peperangan. Petaka itu kita sebut dengan “Tragedi Menderek.”

Bermula, pada tanggal 28 Juni 2001, pasukan GAM Wilayah Lhok Tapaktuan, pimpinan Teungku Abrar Muda baru saja membeli senjata dari Wilayah Pasee sebayak 21 pucuk. Senjata itu dibawa lewat jalan darat melalui Daerah III Wilayah Linge. Dalam perjalanan sempat terjadi kontak tembak dengan Brimob di Reronga.

Setelah kontak tembak, pasukan Abrar Muda langsung menembus hutan menuju Wilayah Lhok Tapaktuan, sementara pasukan Daerah III kelelahan dan menginap pada sebuah rumah di Kampung Sosial Menderek. Padahal jaraknya dari jalan Bireuen-Takengon hanya 1 KM.

Rumah tersebut sangat tidak pantas ditempati dalam suasana perang karena tidak ada safety untuk bertahan. Di sekelilingnya hanya ditumbuhi ilalang dan kalau terkepung sulit meloloskan diri.

Sebenarnya, dari pelacakan radio HT, beberapa pasukan telah mengetahui akan ada penyerangan, tetapi sudah menjadi takdir, mereka mengabaikan ancaman itu.

Pada pukul 2.00 dini hari, tanggal 29 Juni 2001, TNI sudah menurunkan satu reo pasukannya di Kampung Reronga, Simpang Lancang, Arul Cincin, Singah Mulo, Letter S dan Simpang Bintang Padi. Walaupun pasukan GAM tahu, namun tidak ada perintah dari pimpinan untuk bergeser, maka mereka tetap bertahan di tempat itu.

Tepat pukul 5.00, pada Jum’at subuh, pasukan TNI serentak menyerang dua tempat. Pertama di Kedai Kampung Menderek yang menyebabkan Tengku Agus dan anaknya berumur 8 tahun syahid di tempat. Pada malam itu Tengku Agus dibekali Radio HT, senjata jenis bareta dan sebuah granat manggis dengan tugas menjaga pintu gerbang ke Kampung Sosial, di mana pasukan istirahat.

Sementara pasukan TNI yang turun di Simpang Padi khusus menyerang rumah di Kampung Sosial Menderek. Dalam penyerangan di pagi buta itu, 16 pasukan Daerah III syahid ditempat.

Dalam serangan mendadak itu hanya satu orang pasukan, Pang Dolah Tomat yang selamat karena pada saat diserang sedang berwudhu’ di belakang rumah untuk menunaikan shalat subuh.

Pada tragedi Menderek itu, pasukan GAM yang syahid adalah: 1. Bukhari bin Usman, 2. Muslim bin Usman, 3. Musliadi bin Hasballah, 4. Yusrizal bin M. Yunus, 5. Azhari bin Ibrahim, 6. Bahtiar dari Kampung Alam Jaya, 7. Maddiah dari Kampung Bale Keramat, 8. Tengku India dari Kampung Timang Gajah, 9. Tengku Agus dari Kampung Menderek, 10. Raju Kampung KM 60, 11. Wen Paloh dari Kampung Kamp Permata, 12. Tgk. Payung dari Tanah Alas, 13. Abdulah Meuse dari Kampung Pulo Aceh (Atu Gogop), 14. Diah dari Kampung Alam Jaya, 15. M. Yunus dari Kampung Puting, 16. Mardani dari Kampung Pantan Kemuning, dan 17. Aneuk klung dari kota Bireuen.

Kecuali Tengku Agus dan anaknya yang syahid di Kedai Kampung Menderek, semua jasad pasukan GAM yang syahid dibakar oleh pasukan TNI yang menyerangnya. Sehingga tinggal menjadi abu dan sebagian tinggal tulang.

Masyarakat Kampung Sosial Menderek yang dipimpin oleh Aman Suwandi menguburkan pasukan yang syahid itu di tempat kejadian mereka ditembak.

Di samping 17 belas orang pasukan GAM syahid, pasukan TNI menyita 22 pucuk senjata berbagai jenis, 3 buah pistol, 12 buah granat, 25 kotak amunisi senjata AK 47 dan M-16, 5 buah bom rakitan, 6 buah granat louncer, dan sejumlah uang.

Sementara pasukan yang selamat pada hari penyerangan itu berada pada rumah lain yang luput dari incaran TNI. Mereka adalah Aman Heri dengan panggilan Wien Kala (Komandan Operasi Daerah III), Tengku Adi atau Pang Robot, Pang Genta, Cut Adek, Boh Hatee, Pang Bontok, Tengku Suhada atau Pang Kak Ida, Pang Geumuto, Sukri alias Abu Pase, Pang Bayer, Pang Kilat, Pang Geulanteu, Pang Vandem, Pang Cobra, Tengku Agung, pang Cek Wen, Pang Cage, Pang Donking dan Tengku Joni Suryawan atau pasukan menyebutnya Raja Muda.

Mereka mundur ke arah areal HPH PT. Api, namun selalu dikepung oleh pasukan TNI Kesatuan Rajawali, dan akhirnya mereka bergabung dengan Pasukan GAM Wilayah Pase membangun Kamp di Paya Rubiek dan Alue Meuh, Sawang Daerah I Wilayah Samudera Pasai.

Sementara Panglima Muda, Tengku Marzuki alias Wien Rimbaraya menyelamatkan diri ke kawasan Pantan Percos, lalu turun ke Kota Bireuen. Sejak itu tidak ada kabar beritanya dan terakhir pada awal Darurat Militer diberlakukan di Aceh, beliau tertangkap di Kota Jambi.

(Mendale, 10 Mei 2020)

Comments

comments