Masakan Khas Gayo Sesube untuk Menjaga Imunitas Tubuh 

oleh
Masakan Khas Gayo, Sesube yang dipercaya bisa meningkatkan imunitas tubuh

Oleh : Siti Patimah*

WHO mendeklarasikan wabah COVID-19 di Cina sebagai Darurat Kesehatan Publik untuk Kepedulian Internasional, yang menimbulkan risiko tinggi bagi negara-negara dengan sistem kesehatan yang rentan. Komite darurat telah menyatakan bahwa penyebaran COVID-19 dapat terganggu oleh deteksi dini, isolasi, perawatan yang cepat, dan penerapan sistem yang kuat untuk melacak kontak. Mengenai pengujian yang dilakukan oleh Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Hongkong dan Negara-negara besar lainnya.

Menekankan pentingnya menggunakan alat pelindung diri (APD), mengambil riwayat perjalanan menyeluruh, dan segera meningkatkan kasus yang diduga dengan maksud untuk mengisolasi pasien.

Setiap kasus COVID-19 yang erdeteksi harus ditransfer ke pusat Penyakit Menular Konsekuensi Tinggi (HCID) yang ditularkan melalui udara, termasuk dua pusat utama di Inggris (Royal Free Hospital di London dan Newcastle Royal Victoria Infirmary).

Penularan dan penyebaran virus Saat ini ada beberapa penelitian yang mendefinisikan karakteristik patofisiologis COVID-19.

Pengetahuan saat ini sebagian besar berasal dari coronavirus yang serupa, yang ditularkan dari manusia ke manusia melalui alat pernapasan. Biasanya, virus pernapasan paling menular ketika pasien bergejala. Namun, ada semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi selama masa inkubasi asimtomatik COVID-19, yang diperkirakan antara 2-10 hari.

Wabah COVID-19 dianggap sebagai darurat kesehatan global. Secara internasional, jumlah laporan yang dikonfirmasi terus meningkat, dan saat ini ditempatkan di 50.580 kasus yang dikonfirmasi laboratorium dengan lebih dari 1.500 kematian.

Semakin jelas bahwa karantina saja tidak cukup untuk mencegah penyebaran COVID-19, dan dampak global dari infeksi virus ini adalah salah satu yang semakin memprihatinkan.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa diperlukan mekanisme yang tepat dari penularan dari manusia ke manusia dan dari hewan ke manusia untuk memfasilitasi pengembangan vaksin khusus virus. Terbukti, potensi pandemi COVID-19 menuntut pengawasan ketat dan pemantauan yang sedang berlangsung untuk secara akurat melacak dan berpotensi memprediksi adaptasi host, evolusi, transmisibilitas, dan patogenisitas masa depan.

Faktor-faktor ini pada akhirnya akan mempengaruhi angka kematian dan prognosis. Namun, sifat yang berkembang pesat dari epidemi COVID-19, statistik yang terus berubah, dan pengungkapan temuan-temuan penelitian baru yang terus-menerus mewakili keterbatasan. Namun demikian, adalah juga tanggung jawab kita bersama untuk menyadari tanda-tanda dan gejala yang disebutkan di atas dan untuk segera meningkatkan dugaan kasus.

Indonesia sendiri termasuk negara yang dipastikan akan terkena dampak dari virus corona. Direktur Pelaksana Bank Dunia Mari Elka Pangestu memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melemah di bawah 5% pada kuartal I-2020. Penurunan PDB Cina hingga satu persen poin akan mengoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,3 persen poin.

Pelemahan ekonomi Indonesia bisa terjadi karena Cina merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Cina juga merupakan salah satu penyumbang wisatawan terbesar Indonesia.

Di depan anggota parlemen Indonesia pada 28 Januari 2020 Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah mengingatkan dampak virus Corona terhadap perekonomian Indonesia. Menurut Sri Mulyani, munculnya virus corona telah memunculkan pesimisme terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

Melihat peran China yang begitu besar berdasarkan data BPS, impor nonmigas Indonesia dari Cina
tercatat mencapai 44,578 miliar dolar AS pada 2019 terbesar dibandingkan impor dari negara-negara lain. Berdasarkan beberapa referensi yang telah disajikan dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut:

Ditahun 2020, perekonomian global tidak bisa diukur dengan hanya sebatas lingkup ekonomi itu sendiri. Virus Corona (Covid-19) menjadi bukti bahwa virus yang mengganggu kesehatan tersebut dapat menimbulkan ketidakstabilan ekonomi pada suatu negara bahkan dalam skala global.

Pengobatan tradisional merupakan salah satu pengobatan yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, khususnya oleh masyarakat yang jauh dari akses pelayanan kesehatan modern seperti puskesmas dan rumah sakit.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 80% dari total populasi di benua Asia dan Afrika bergantung pada pengobatan tradisional. WHO juga telah mengakui pengobatan tradisional dapat mengobati berbagai jenis penyakit infeksi, penyakit akut, dan penyakit kronis (Yuningsih R, 2012).

Berdasarkan beberapa referensi tentang studi Etnobotani penggunaan tanaman asli dalam pengobatan manusia didokumentasikan dengan baik.

Pengobatan tradisional tanaman oleh tabib tradisional dan anggota masyarakat lokal disiapkan sebagai daftar periksa menetapkan bahwa pengetahuan obat tradisional tentang penggunaan tanaman obat.

Selanjutnya, jumlah tanaman yang direkomendasikan untuk digunakan sebagai obat herbal telah meningkat. Di daerah-daerah di mana ada anggapan biaya perawatan medis yang tinggi, terutama di Asia dan Afrika, tanaman obat telah mendapatkan pengakuan lebih.

Dalam menghadapi pandemi Covid-19 masyarakat Gayo yang menggunakan pengobatan tradisional sebagai sistem perawatan kesehatan tentu mempunyai pengetahuan dan alasan pemilihan tentang pengobatan tradisional tersebut.

Para ahli dan masyarakat umum mengetahui pengobatan tradisional Gayo dan kegunaannya. Uniknya di Gayo didapatkan masakan khas gayo yaitu SESUBE.

Sesube adalah salah satu makanan yang mengandung nilai mistis. Masyarakat percaya makanan ini mampu menolak bala. Makanan ini tidak setiap waktu dibuat. Biasanya dibuat pada masa tertentu saja. Misalnya pada musim panen atau saat ada bencana.

Salah satu syarat lainnya untuk membuat masakan ini, bahan-bahannya sedapat mungkin tidak boleh dibeli melainkan harus dipetik langsung dari kebun masyarakat.

Biasanya bahan dasar sesube adalah Beras, aneka jenis kacang, aneka jenis biji-bijian, berbagai macam jenis sayuran, dan aneka bumbu dan rempah-rempah.

Keseluruhan bahan dasar pembuatan sesube sedapat mungkin mencapai seratus jenis. Hal ini yang menyebabkan masakan ini harus dimasak secara berkelompok atau oleh satu kampung karena sesedikit apa pun bahan yang ditakar hasilnya pasti akan banyak sekali.

Dalam menghadapi pandemi Virus Covid-19 masyarakat Gayo Lues banyak yang memasak Sesube dengan tujuan untuk menjaga imun tubuh juga sebagai tolak bala terhindar dari Covid-19.

Pada umumnya dalam menghadapi pandemi Covid-19 semua masyarakat mencoba sebisa mungkin menjaga imun tubuh. Beberapa tanaman herbal yang terdapat dalam masakan sesube juga bisa menjaga Imun tubuh seperti :
– Kunyit mengandung senyawa kuning curcumin yang bermanfaat menjaga daya tahan tubuh juga kesehatan otak. Menurut penelitian Department of Pharmacology, Peking University, curcumin dapat meningkatkan kadar brain-derived neurotrophic factor (BDNF) di otak.

– Meniran ekstrak tanaman dengan nama ilmiah Phyllanthus niruri ini menunjukkan adanya aktivitas antioksidan yang kuat. Antioksidan tersebut bisa membantu tubuh melawan radikal bebas penyebab kerusakan sel dan penyakit.

– Temulawak punya nama latin Curcuma xanthorrhiza temulawak kerap diolah jadi bahan utama berbagai jamu tradisional. Rempah yang fisiknya mirip kunyit ini, menghasilkan senyawa curcumin yang jadi senjata ampuh untuk menjaga daya tahan tubuh.

– Jahe memiliki senyawa gingerrol, zat yang sangat kuat. Sehingga enggak heran, kalau ketika batuk ataupun flu kita disarankan untu minum air rebusan jahe. Gingerol dalam jahe bertanggung jawab sebagai anti-inflamasi dan antioksidan yang kuat.

– Serai kaya akan antioksidan, seperti vitamin C dan flavonoid yang mampu melindungi tubuh dari bahaya radikal bebas. Selain itu, kandungan antioksidan tersebut juga bisa meningkatkan imunitas tubuh, dan mencegah timbulnya berbagai penyakit.

Referensi
Burha, C.I., dan Abdi, M.N. 2020. Jurnal. Ancaman Krisis Ekonomi Global Dari Dampak Penyebaran Virus Corona (Covid-19). Akmen. Volume 17 : 1826-8524.

Fitriani, Yunita dan Angkasawati, T.J. 2015. Jurnal. Gayo’s Traditional Medication For Puerperal Mother. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Volume 18 : 111–119.

Lestari, Fitria dan Susanti, Ivoni. 2020. Jurnal. Tumbuhan Obat Berpotensi Imunomodulator Di Suku Anak Dalam Bendar Bengkulu. JPBIO. Volume 5 : 64-72.

Rismawati. 2018. Kenara, Anak Suku Gayo. Jakarta Timur : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Sahbori, Catrin., dkk. 2020. Jurnal. World Health Organization Declares Global Emergency: A Review Of The 2019 Novel Coronavirus (COVID-19). International Journal of Surgery. Volume 76 : 71-76.

Sari, Almida. Linda, Riza dan Lovadi, Irwan. 2020. Jurnal. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Pada Masyarakat Suku Dayak Jangkang Tanjung Di Desa Ribau Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau. Protobiont. Volume 4 : 1-8.

Wahjohi, B.K., 2020. Jurnal. An Ethnobotanical Study of Traditional Knowledge and Uses of Medicinal Wild Plants among the Marakwet Community in Kenya. Hindawi. Volume 2020 : 3208634.

Siti Patimah (Ist)

*Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Magister Kehutanan Fakultas Kehutanan-Universitas Sumatera Utara (USU), Medan asal Gayo Lues

Comments

comments