Suara Jeritan Petani Kopi Gayo, Pemkab Harus Berani Ambil Tindakan Ekstrem!

oleh
(Foto : Khalis) dok. LintasGAYO.co

Petani kopi Gayo kini dihadapkan dengan kondisi sulit. Harga anjlok dan toke tak mau beli, menjadi salah satu masalah besar bagi perekonomian urang Gayo yang 90 persennya hidup dari kopi.

Bukan tanpa sebab, hal itu terjadi karena wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang kini menjadi pandemi diseluruh dunia.

Menurut catatan PBB, hanya 18 negara anggota Perserikatan tersebut yang dinyatakan aman dari penyakit yang disebut SARS-CoV-2 ini.

Hal itu berujung dengan runtuhnya perekonomian dunia. Barang-barang ekspor tak lagi dapat dikirim, lantaran sejumlah negara sudah menutup akses ke negaranya. Mereka juga tengah berjuang melawan virus Corona.

Dampak ekonomi global tersebut juga merambah tanah Gayo, yang menjadi centra produksi kopi arabika terbaik di dunia.

Kondisi saat ini, begitu sulit bagi petani. Harus ada langkah-langkah konkrit yang disusun Pemerintah Kabupaten menyelamatkan ekonomi warganya.

Salah seorang warga Takengon, Zam-Zam Mubarak mengatakan, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dengan segera oleh Bupati di Gayo khususnya Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Menurutnya, untuk menjawab jeritan suara petani kopi Gayo, Pemkab harus mengambil langkah ekstrem membantu kesulitan petani.

“Memang sudah ada bantuan langsung dari Pemerintah dalam bentuk sembako, namun itu hanya sementara. Kita tak tahu pandemi ini kapan berakhir, harus ada langkah alternatif,” tegas Zam-Zam.

“Harus ada langkah ekstrem seperti penghapusan sementara retribusi kopi,” tambahnya, Kamis 9 April 2020.

Lain itu katanya lagi, Bupati harus membuat Perbub terkait kopi arabika Gayo dan mengoptimalkan resi gudang dalam masa saat ini.

“Walau hingga saat ini belum ada kasus positif terkonfirmasi Covid-19 di Aceh Tengah, namun ekonomi masyarakat sudah positif jatuh. Harus ada subsidi dari Pemkab,” katanya.

Di tengah sejumlah negara menunda sementara waktu ekspor dan pembelian, disinilah letak kesusahan yang terjadi bagi petani di Gayo. Dengan kondisi kritis ini, lanjut Zam-Zam, pemerintah harus punya solusi yang tegas dan cepat.

Ia khawatir, kondisi tersebut jika dibiarkan terlalu lama, maka pintu kemiskinan terbuka lebar, dan yang paling ditakutkan adalah kelaparan akan terjadi.

“Tidak adanya kepastian berakhirnya covid 19 Pemkab harus membuat skenario terburuk dan menyiapkan solusi ekonomi rakyat. Dana Otsus, gunakan untuk membantu rakyat, cari regulasinya, dengan aktif komunikasi dengan Pemerintah di atas,” tegas Zam-Zam.

Lain itu, melihat kemungkinan situasi terburuk dari Covid-19 ini, langkah-langkah lain juga perlu diperhatikan. Membuat program ketahanan pangan menjadi prioritas pemerintah dalam menghadapi masa-masa sulit ini.

“Daerah kita punya suatu keistimewaan, tanah subur dapat dimanfaatkan menjadi pusat ketahanan pangan. Pemkab tinggal atur pola dan mekanismenya bagaimana. Jika tidak, maka kondisi terburuk dipastikan akan terjadi,” tegasnya.

Ia juga khawatir, jika kemiskinan terus terjadi, maka masyarakat tak akan lagi mendengarkan imbauan pemerintah dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19.

“Nah disinilah puncaknya, saat masyarakat tak lagi mendengarkan apa yang dilarang, maka kehancuran akan tiba. Maka dari itu, sebelum semuanya terlambat, lakukan langkah ekstrem dengan segera,” tandasnya.

[Darmawan]

Comments

comments