Bukan Pencuri 7, Ini Copet 19

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Dulu, dalam legenda Aceh, kita mengenal cerita pencuri 7, yaitu kumpulan maling distabilitas yang bereaksi saat warga meninggalkan rumahnya untuk takziah malam ke-7 ke rumah duka.

Hari ini, kita sedang berhadapan dengan copet 19, kumpulan “orang pinter” yang kapan dan di mana saja siap menguras isi dompet kita.

Demikian perumpamaan copet 19 (Covid-19) dengan pencuri 7 (virus sebelumnya, seperti SARS dan lain-lain). Jaga jarak adalah cara efektif untuk mencegah copet 19. Sepanjang tangan nakalnya masih sampai ke tubuh kita, besar peluang kita kecopetan.

Tidak ada daerah yang aman dari copet 19, kecuali diam di rumah (stay at home). Kabar terakhir puluhan Anggota DPRA masuk dalam daftar ODP (Orang Dalam Pengawasan) karena baru kembali dari daerah terjangkit Covid-19, Jakarta. Sehingga rencana Sidang Paripurna untuk membatalkan Proyek Multy Years-pun harus ditunda.

Sepatutnya sebelum bercengkrama dengan anak istri dan berinteraksi dengan orang lain, mereka harus diisolasi selama 14 hari untuk memastikan dirinya tidak terjangkit dan keselamatan masyarakat Aceh. Tidak ada ilmu kebal bagi virus yang akan merubah tatanan dunia.

Ah! tentu saja, pencuri 7 tidak akan mengincar Anggota Dewan yang terhormat karena pengamanan yang berlapis dan hukumannya bisa lebih berat jika tertangkap. Sasaran empuknya hanya ternak warga yang tidak akan memiskinkan pemiliknya.

Sungguh berbanding terbalik dengan copet 19, tidak pandang bulu; bulu lebat disikat, bulu jarang pun disikat pula. Jadi, kalau ingin dompet selamat, hindari keramaian dan tahan nafsu untuk kongkow-kongkow, tempat di mana para copet bereaksi. Mudah-mudahan selamanya semua kita masih bisa melihat matahari terbit setiap pagi.

(Mendale, 27 Maret 2020)

Comments

comments