Kerkhof : Sebuah Mozaik Kematian (Mengenang Ultimatum Belanda Kepada Aceh 26 Maret 1873)

oleh

Dr. Yusra Habib Abdul Gani, SH*

SESIAPA yang mampu men-desains kematiannya dengan indah, berarti tahu bahwa dia dilahirkan ke dunia ini menjadi siapa dan mati sebagai siapa? Kehidupan dinia yang menyodorkan pelbagai tawaran dan rasa untuk dinikmati, mungkin saja berakhir bahagia ataupun kecewa sebagai percikan kreativitas yang dikagumi dalam tamadun manusia yang berpengetahuan, memiliki kesadaran dan pemahaman bahwa ”suatu ketika dahulu manusia itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut” (Qur’an, surat al-Ihsan, ayat 1), kemudian dilengkapi dengan instrumen indra ”pendengaran dan penglihatan” (ibid, ayat 2).

Klimaksnya, peradaban manusia akan menuju satu titik, yaitu kematian!

Disinilah perlu perencanaan untuk membangun sebuah mozaik kematian supaya ianya dipandang dan dikenang dalam kitab keabadian, yakni ketidak abadian itu sendiri.

Namun begitu merancang sebuah mozaik kematian merupakan hal yang tabu untuk dipelajari dan dipahami, pada hal inilah yang menentukan nantinya: status, standard harga hidup dan matinya seseorang.

Hidup ini mempunyai nilai akhir yang ditata dan dikemas rapi dalam tatanan mozaik kematian yang indah. Jawabannya ditemukan pada setiap model tamadun dari sebuah suku dan bangsa yang mengabadikan eksistensi dirinya.

Mozaik kematian kadangkala dilukiskan lewat ornamen Batu Nisan seseorang ataupun pada monumen kuburan massal sebagai simbol empirik untuk menunjukkan identitas dan lokasi kematian yang dianggap sebagian dari bingkai mozaik kematian.

Mozaik kematian yang sesungguhnya ialah, rangkuman dari keseluruhan argumentasi dari suatu kematian, … mengapa, … oleh siapa, … bilamana, … untuk-atas nama siapa dan dimana lokasinya. Ini memerlukan perencanaan guna meraih kematian.

Kerkhof adalah sebuah lokasi kuburan yang dihuni oleh 2.200 jiwa Angkatan perang Belanda korban perang Aceh (priode: 1873-1927). Angka ini belum lagi termasuk yang mati di merata lokasi di seluruh pelosok bumi Aceh.

Di lokasi ini terdapat pusara Jenderal Kôhler, Panglima perang Belanda yang ditembak mati pada 14 April 1873 oleh Tengku Imum Lhong Bata, sniper pejuang Aceh; Letkol W.B.J.A Scheepens meninggal pada 17 Oktober 1913 dan Thenu, Pendeta (penasehat rohani) militer Belanda dari (1868-1937) bersama Isterinya, dll.

Kematian mereka merupakan konsekuensi logis dari Ultimatum pemerintah kolonial Belanda yang bernada mengancam Aceh supaya menyerah tanpa syarat kepada Belanda.

Ultimatum ini disampaikan kepada Sultan Aceh pada 26 Maret 1873 dan setelah pemerintah Aceh Darussalam memutuskan menolak, maka pasukan Belanda menyerang Aceh Darussalam pada April 1873. Kekalahan Belanda dalam perang ini menjadi berita utama media sosial terkemuka di Eropah, USA, Turki dan dunia Arab.

Bagaimana pejuang Aceh dapat menakluki kekuatan militer Belanda yang dikenal tanggguh. Pemerintah Belanda tidak menyembunyikan nama-nama korban yang terdiri dari suku Jawa, Madura, Sunda, Ambon, Maluku, Minangkabau dan naarapidana yang direkrut dari penjara-penjara Eropah dalam kegelapan dan kesunyian.

Di mata Belanda, Kerkhof merupakan simbol heroism dan patriotism yang dibayar mahal demi membela ideologi kolonialisme yang dibawa Belanda. Ianya tidak diabadikan di sebuah Mesium di negeri Belanda seperti penyimpanan dokumen-dokumen lain, melainkan mozaik kematian (Kerkhof) itu dibangun di bumi Aceh agar Aceh tahu bahwa Belanda ternyata tidak sendirian.

Di mata mereka, Aceh dianggap sebagai lokasi yang cocok untuk meraih predikat kematian indah, tanpa menyertakan nama-nama pejuang Aceh yang menghabisinya. Disini, Belanda hendak memberi pesan bahwa, betapa pentingnya sebuah Monumen -simbol pembatas- yang menentukan: alasan apa, untuk siapa mereka rela mati di medan perang (1873-1927), kalau untuk kepentingan politik kolonial Belanda di bumi Aceh.

Dalam peradaban bangsa Eropah dikenal cara mengakhiri hidup secara terhormat dan Aceh ditetapkan sebagai pilihan medan tempur yang dipakai sebagai alasan pembenar untuk mati terhormat. Itu sebabnya Mayor Jenderal J.H.R Kôhler, Mayor Jenderal J.L.J.H. Pel, Mayjen Demmeni (mati terkurung dalam kèm concentrasi di Indrapuri) dan Jenderal J.J.K. De Moulin, dll. memilih mati dalam perang Aceh; bahkan Thomson (seorang perwira Belanda) yang dihukum mati oleh Jepang di Bukit Tinggi tahun 1942, mewasiatkan supaya mayatnya dihantar dan kuburkan di Aceh.

Para serdadu Belanda punya rasa kebanggaan jika mati di medan perang Aceh dan dirungkai dalam biographi masing-masing. Bumi Aceh punya nilai trancendentalism tersendiri di mata militer Belanda, sekaligus melengkapi mozaik kematian.

Semua itu dilakukan atas nama kematian yang dicatat dalam lipatan sejarah Belanda sebagai pembangun ideologi kolonialisme. Denmark Misalnya, mengabadikan lebih dari 4000 tentara sewaan di sebuah Mesium terbuka di Provinsi Århus yang berperang bukan untuk mempertahankan kedaulatan Denmark, melainkan mengabdi dan mati demi kepentingan politik Jerman dalam Perang Dunia-1 (1914-1918). Aceh tidak sanggup mengabadikan semua korban karena terlalu banyak dan terlalu sering berperang di mana-mana dalam kawasan dunia Melayu; tidak terbiasa mencatat, menyimpan arsip dan tidak ada sejarawan yang menulis.

Itu sebabnya ramai orang tidak tahu, dimana lokasi pusara Jenderal Besar Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa (1845-1939), Panglima perang Aceh yang berhasil mengalahkan kekuatan militer Belanda merupakan kekuatan militer terkuat nomor 1 di Eropah saat itu; lokasi pusara Tengku Imum Lhông Bata; pusara Jenderal Tuanku Hasyim Bangta Muda (1834-1897), Jenderal Besar Panglima perang; pusara Tengku Thjik di Tiro Muhammad Saman (1836-1891), pusara Tengku Tapa, Nyak Makam; Pang Burik, dll., termasuk 250.000 pejuang Aceh yang mati syahid selama perang menentang Belanda (Paul Van’t Veer: Perang Aceh, 1985), Jepang dan GAM versus TNI (1976-2005).

Namun begitu Aceh sebuah bangsa bertuah, karena nama para Ulama-ulama terkemuka dan pemimpin negara Aceh diabadikan di Komplek Bapris, Kandang XII, dll., sebagai simbol mozaik kematian; hanya saja Pemda Aceh tidak punya program melalui co-curikulum pendidikan supaya para siswa, diarahkan menziarahi makam para pahlawan Aceh dan tahu sejarahnya. Pada hal kita berjalan di belakang para pahlawan. Aceh adalah bumi wisata sejarah!

Ketika medan perang untuk mati terhormat tiada lagi, kini bangsa Eropah memilih tindakan bunuh diri. Tindakan ini sudah menjadi trend yang terjadi terutamanya di musim gugur dan menjelang musim bunga.

Alasannya, walaupun bunga-bunga mekar dan harum semerbak; ternyata ianya masih tidak sanggup untuk membalut rasa suntuk yang tertimbun sewaktu musim salju yang sunyi dan sepi. Maka, daripada menyesali kekecewaan yang dalam, lebih baik bunuh diri tanpa mencederai perasaan manusia dan menyinggung perasaan panorama alam, demi mengukir mozaik kematian yang indah! Di Denmark misalnya; mengikut data statistik, tindakan mati bunuh diri berada pada tahap yang stabil, yaitu sejak 2010 s/d 2016 mencapai 600 orang mati bunuh diri dan percobaan bunuh diri mencapai 1.250 orang di tahun 2017.

Pada tahun 2016 terdapat 426 lelaki dan 142 perempuan meninggal karena bunuh diri. Artinya hampir 600 orang mati bunuh diri setiap tahun. (sumber: www.psykiatrifoden.dk). Sementara di seluruh Eropah tercatat sejumlah 24.388 bunuh diri dalam kurun waktu terakhir ini. (Sumber: Attempted suicide and major public holiday in Europe: findings from the WHO/EURO Multicentre study on parasuide, G. Jensen et.al Acta Psychatrica Scandinavia, 1998. Lihat juga: The rule of Sunshine in the Triggering of Suicide, Eleni Petridoe et.al. Epidemiology, 2002.

Aceh tidak mengenal dan mengamalkan tindakan bunuh diri untuk memperindah mozaik kematian seperti dilakukan oleh masyarakat Eropah. Medan perang memang sudah tiada, namun Al-Qur’an & Sunnah Rasul menjadi referensi dan memandu aqidah keimanan kita yang percaya bahwa, perang hanyalah salah satu jalan meraih untuk mati syahid. Masih banyak jalan untuk men-desains sebuah kematian yang indah.

Di atas segala-galanya, mozaik kematian itu perlu dirancang dan dipahami bahwa, kita dihadirkan ke tengah-tengah tamadun manusia: dilahirkan menjadi SIAPA dan mati sebagai SIAPA? Wallahu’aklam bissawab!

*Direktor Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark. (yusragani@gmail.com)

Comments

comments