Dewan Adat Gayo Perjuangan

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di Kemukiman Wihni Dusun Jamat, Aceh Tengah terdapat pondasi bangunan yang diperkirakan akan dijadikan tempat beribadah. Sayangnya, belum ada penelitian seberapa tua bangunan tersebut. Tampaknya “proyek” tersebut dibatalkan karena rakyat di sekitarnya sudah berakhlak tinggi dan sudah bertauhid. Tidak diperlukan simbol peribadatan untuk mensucikan bathin lagi pada waktu itu.

Distribusi akhlaqul karimah diperlukan pada wilayah yang rakyatnya jahiliah. Seperti orang Arab di Mekah sebelum sampai dakwah Nabi Muhammad SAW. Tugas Rasulullah mengeluarkan mereka dari alam kebodohan kepada alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan atau Teungku di Gayo sering membahasakan; ari geldok ku pematang, ari karit ku silapang. “Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia).

Sebagaimana simbol peribadatan di Wihni Dusun Jamat dibatalkan pada zaman dahulu kala, demikian juga hendaknya Dewan Adat Gayo (DAG) juga sepatutnya tidak diteruskan. Salah satu alasannya adalah rakyat di Gayo umumnya lebih beradat daripada orang yang duduk pada struktur organisasi yang membawa-bawa nama adat Gayo. Apalagi semakin ke sininya telah Nampak belangnya, tidak saja progress kerjanya di bidang adat tidak ada, tetapi juga membawa-bawa adat Gayo untuk eksploitasi alamnya.

Mumpung DAG belum eksis, kecuali sudah ada akte notarisnya. Kalau rakyat Gayo mau sepuluh akte notaris bisa dibuat dalam bidang pengembangan adat. Namun karena DAG sudah melampaui kewenangannya dengan membawa-bawa nama adat Gayo, maka sebaiknya rakyat Gayo membuat organisasi Dewan Adat Gayo Perjuangan (DAGP) sebagai sempalan yang digerakkan oleh orang-orang awam yang ingin mencari sejatinya adat Gayo. Itu lebih baik daripada mengaku sebagai orang beradat tetapi menggiring atas nama adat untuk bisnis yang sebagian besar rakyat Gayo menolaknya.

Pembentukan DAGP diperlukan sampai rakyat Gayo menemukan “pemimpin adat” yang sebenarnya. Anggaplah pertentangan DAGP kepada DAG sebagai teori tesis dengan antithesis menjadi sintesis, atau anggaplah itu pertempuran antara Pandawa Lima dengan Kurawa, atau teori perang Sun Tzu yang ditentukan pemenangnya berdasarkan  moral para petempur.

Apa yang dilakukan DAGP atau apapun namanya kelak tidak lain tujuannya adalah mencari bibit unggul Gayo yang berakhlaqul karimah yang tidak meninggalkan adatnya serta jauh dari kebencian kepada DAG karena mereka juga adalah saudara yang harus disadarkan.

Kita adalah cermin generasi berikutnya dan kekayaan alam yang ada saat ini adalah titipan anak cucu kita, yang kelak akan kita kembalikan dan dipertanggungjawabkan kepada mereka. Apakah mereka akan bangga kepada kita atau sebaliknya menyumpahserapahinya? Semua bergantung kepada akhlak dan perlakuan kita terhadap alam hari ini.

(Mendale, 18 Desember 2019)

Comments

comments