Opini Terbaru

Akal Kin Pangkal Kekire Kin Belenye, Kajian Filsafat Adat dan Psikologi Indejenius


Oleh : Dr. Joni MN, M.Pd B.I*

A. Akal Kin Pangkal
Ungkapan di atas tidak boleh serta-merta diartikan secara harfiah atau literlak apa adanya, ungkapan Peri Mestike di atas memiliki makna yang sangat mendalam dan luas yang ditentukan oleh faktor konteks eksternal, relevansi, dan atau kondisi kewajarannya.

Akal dapat diaktifkan sebagai instrumen rohaniah manusia yang berfungsi sebagai alat pembeda antara yang salah dan yang benar serta menganalisa sesuatu yang baik atau yang tidak baik, sedangkan kemampuan akal tersebut sangat tergantung pada luasnya pengalaman dan tingkat pendidikan, formal, nonformal maupun informal, dari manusia si pemilik akal itu sendiri.

Dalam konteks ini akal dapat dimaknai sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang digunakan untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisa, menilai apakah sesuai, baik tidaknya, benar atau salah atas sesuatu yang dimaksud.

Banyak manusia mengakui keberadaan akal tersebut malahan saat ini dijadikan sebagai salah satu barometer keilmiahan. Dengan eksistensi ini mereka mengakui keberadaan Tuhan dan dengan segala aturan-Nya.

Tetapi di saat yang sama diantara mereka menistakan aturan Tuhan itu sendiri dan menolak segalanya yang bersipat ghaib (abstrak) atau non-materi, yang aneh dan sangat aneh malah kepada “dukun” mereka datangi untuk minta jabatan, merusak orang lain, biar disegani orang, agar urusannya lancar, dst. Jadinya mereka sudah mengakal-akali Tuhan.

Padahal akal diberikan Tuhan kepada kita agar memahami dan menemukan makna setiap aturan yang sudah diturunkan-Nya. Akal pula yang mengarahkan manusia agar berbuat kebajikan bukan malah sebaliknya. Kemudian, dengan adanya akal manusia seharusnya dapat membedakan diri pribadi manusia, pribadi hewani dan dengan pribadi kebinatangan.

Pengertian lain dari akal merupakan power atau energi dam daya pikir (untuk memahami sesuatu), kemampuan melihat cara memahami lingkungan, atau merupakan kata lain dari pikiran dan ingatan manusia itu sendiri.

Dengan akal, dapat menakar, menilik diri sendiri dan hubungan dengan lingkungan sekeliling, juga dapat mengembangkan konsepsi-konsepsi mengenai watak dan keadaan diri kita sendiri, serta melakukan tindakan berjaga-jaga terhadap rasa ketidakpastian yang merupakan esensial dari hidup ini.

Bagi masyarakat suku Gayo yang tertuang dalam tuturan Peri Mestike (basa edet), yang selalu mereka posisikan “akal” sebagai modal (yakni, pangkal/ modal) dasar dalam diri untuk pengembangan diri dan tabularasa melakukan sesuatu.

Mengetahui segala sesuatu dan melakukan sesuatu dalam memenuhi kebutuhan, mereka selalu diingatkan oleh para orangtua mereka dengan ungkapan bijak “akal kin pangkal…”atau ‘berusaha dengan modal yang sudah diberikan Tuhan, jangan cepat menyerah, berjuang terus hingga ada hasilnya’.

B. Kekire Kin Belenye
“Kekire” dalam konteks Peri Mestike Gayo merupakan salah satu perwujudan dari tindakan, yakni pikirkan dengan maksimal dan benar-benar juga dengan baik sebelum bertindak agar selamat dalam segala hal. Jika tindakkan ini dilaksanakan dengan baik dan benar maka hal tersebut dapat menjadi pangkal-penangkal serta penghambat atas kerusakan atau ketidak baikan, baik kepada diri sendiri dan diri orang lain.

C. Akal dan Pikiran dalam Konteks Psikologi.

Menurut beberapa pakar Psikologi bahwa, psikologi dan logika berguna sebagai daya analisis sehingga individu akan bertambah khususnya jika sedang mengalami sebuah masalah yang akhirnya membantu seseorang untuk membuat keputusan tepat.

Tentu, akal dan pikiran ini tidak terlepas dari kontribusi roh dan hati, Artinya, kenyang roh baik Hati, kemudian baik hati akan berdampak kepada kebaikan mental seseorang, selanjutnya jelas akal dan pikirannya pun baik pula.

D. Pikiran dan Mental
Dalam wilayah pikiran yang perlu ditumbuhkan dengan seksama dan efektif adalah wilayah kesadaran, karena dengan adanya dominasi hal tersebut, maka rasa yang harus dirasakan akan tumbuh dengan baik. Kata yang merujuk pada konsepsi dan proses yang sama diantaranya adalah kognisi, pemahaman, kesadaran, gagasan, dan imajinasi.

Berpikir melibatkan manipulasi otak  terhadap informasi, seperti saat kita membentuk konsep, terlibat dalam pemecahan masalah, melakukan penalaran, dan membuat keputusan.

Menurut pemahaman dan atas dasar pengamatan penulis, bahwa pikiran dan mental yang sehat adalah hal utama dalam memenuhi kebutuhan manusia. Segala hal yang ada di dunia ini dimulai dari pikiran dan hati. Sehat hati sehat juga pikiran, kotor hati rusak atau kotor juga pikiran.

Pikiran adalah untuk menggabungkan, menukar, dan mengurutkan konsep-konsep, persepsi, dan pengalaman menuju kepada arah kebaikan. Proses ini disebut penalaran atau “akal”, yang kemudian menjadi wujud “Mental”. Kesadaran akan proses penalaran ini adalah jalan masuk ke dalam kesadaran atau yang disebut dengan “Kekire”.

D. Akal dan Pikiran
Akal dan Pikiran tidak hanya digunakan untuk sekedar makan, tidur, dan berkembang biak, tetapi akal juga mengajukan beberapa pertanyaan mendasar; (1) siapa kita?, (2) kenapa kita harus hidup?, (3) bagaimana seharusnya hidup?.

Untuk mencapai hal dengan maksimal tentu tidak lepas dari asal ideologi anggota masyarakat itu sendiri dan panduan kebijakan atas dasar kearifan lokal di mana mereka tinggal dan hidup.

Potensi pikiran dan akal muaranya berwujud mental tentu proses ini akan membawa manusianya penggunaan pikiran dan akal mereka adalah melaksanakan sunah Nabi dan perintah ALLAH, agar sesuai dengan yang diharapkan bersama.

Kemampuan berpikir dalam proses mengantarkan diri dan orang lain pada suatu kesadaran tentang betapa tidak kekal dan betapa tidak pastinya kehidupan ini, harus berpangkal kepada pemahaman, kesadaran, kognisi, gagasan, dan imajinasi yang baik dan benar. Seterusnya, jika hal ini terwujud dalam berkehidupan baru dapat dikatakan bahwa seseorang itu sudah menggunakan “akal kin pangkal, kekire kin belenye” dalam praktik berkehidupan mereka.

Proses mental seperti “perhatian, penggunaan bahasa, daya ingat, persepsi, pemecahan masalah, kreativitas, dan pola pikir” dan sebagainya, semua ini harus menggunakan dan memungsikan “Akal kin Pangkal” dan selanjutnya baru bisa “kekire kin belenye” dengan maksimal.

Akhirnya terlahirlah watak inovatif dan kreatif yang membawa manfaat buat orang banyak, bukan keuntungan hanya tertuju kepada diri sendiri saja.

E. Simpulan
Jadi, jika ketidak-baikan atau sikap merusak itu terus ada dan terjadi terhadap diri sendiri dan diri orang lain, maka dalam konteks kajian ini dapat dikategorikan bahwa si perusak tersebut tidak memiliki “kekire” (pikiran).

Alasannya bahwa pikiran merupakan gagasan dan proses mental. Jadi, berpikir memungkinkan seseorang merepresentasikan  dunianya sebagai model dan memberikan perlakuan terhadap sesuatu itu secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan.

Orang yang memiliki sifat “akal kin pangkal” adalah orang yang benar-benar adalah orang yang “AKAL KIN PANGKAL dan KEKIRE KIN BELENYE”

*Penulis merupakan ketua bidang penelitian di Majelis Adat Gayo (MAG) Takengon.

Comments

comments