Catatan Redaksi Opini Terbaru

Usia Harapan Hidup Mantan Kombatan GAM Rendah


Oleh : Fauzan Azima*

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, telah berpulang ke Rahamatullah, mantan pimpinan GAM, Teungku Bazaruddin Banta Mude,” demikian pesan WhatsApp pada Kamis 22 Agustus 2019 lalu. Sesaat fikiran saya blank, tidak tahu mau berkata apa, hanya hati seperti tersadar berucap, “Ya Allahu Akbar!”

Baru saja rasanya mendengar ucapan yang sama pada 15 Agustus 2019 Lalu, mantan pasukan tempur GAM Wilayah Linge, Teungku Sabardi yang populer dengan panggilan “Jenaka” telah berpulang ke haribaan Ilahi dalam usia yang relatif muda, yakni 27 tahun.

Sebulan lalu, pada 22 Juli 2019, kita mendapat kabar duka dari anggota GAM Wilayah Pidie, usai shalat subuh berjama’ah Teungku Hasan Umar Tiro yang merupakan seorang putra Panglima GAM Wilayah Pidie, Keucik Umar telah meninggal dunia.

Di Wilayah Linge (Aceh Tengah dan Bener Meriah) sendiri sebelumnya Teungku Hamzah Merador, Teungku Haliyan, Teungku Ilham Ilyas Leubee, Teungku Iklil Ilyas Leube, Teungku Sudirman Chek Wien, Inen Maimanah (pasukan perempuan) dan Awan Rambo juga meninggal dalam umur yang relatif muda atau wafat pada usia produktif.

Dari beberapa berita duka tentang mantan kombatan GAM yang meninggal dunia dapat disimpulkan bahwa usia rata-rata harapan hidup mantan GAM hanya 51 tahun atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan usia rata-rata harapan hidup nasional 71 tahun.

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek mengatakan, “Usia harapan hidup laki-laki Indonesia 69 tahun, sedangkan perempuan Indonesia berusia 74 tahun atau rata-rata usia harapan hidup orang Indonesia 71 tahun. Bandingkan dengan negeri tetangga Singapura, usia sehat sampai 74 tahun dari rata-rata usia mereka 84 tahun.

Andai kondisi ini terus berlangsung maka 26 tahun lagi atau tahun 2031 tidak ada lagi mantan kombatan GAM yang bercerita bagaimana dahsyatnya perang di daerah Alue Papeun, Wilayah Pasee yang melibatkan perang antara GAM dan TNI yang masing-masing melibatkan 1000 pasukan dan disertai dengan serangan TNI AU dengan Helicopter, pesawat Bronco dan pesawat tempur produksi Rusia, Sukhoi.

Beberapa faktor penyebab usia harapan hidup mantan kombatan GAM rendah adalah selama bergrilya; makan dan tidur tidak teratur, makan makanan mengandung racun, putus saraf karena serangan mendadak dari TNI/Polri, trauma, lemah jantung, menderita penyakit malaria, typus, terkilir, mandi di sungai yang airnya berasal dari akar pohon beracun, kurang menikmati cahaya matahari pagi, kurang hiburan, merasa bersalah dan rindu kepada keluarga.

Seharusnya salah satu butir perjanjian damai adalah pemeriksaan kesehatan dan psikologis para mantan kombatan GAM. Kalau ada kekhawatiran mantan kombatan “takut dikhianati” bisa diatur kesepakatan untuk “Medical chek up” atau pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, serta pemeriksaan psikologi kesehatan mental dilakukan oleh dokter-dokter yang independent dan professional dari luar negeri.

Masih terbuka ruang bagi Pimpinan GAM melakukan “permintaan khusus” kepada Pemerintah Indonesia atau lewat Juru Damai Mantan Presiden Finlandia, Marthi Antasari untuk melakukan “General chek up” bagi seluruh mantan kombatan GAM yang tujuannya tidak saja urusan kesehatan mantan kombatan yang sudah berintegrasi dengan masyarakat tetapi juga memperbaharui hubungan baik antara sesama anak bangsa.

Demikianlah sudah nasib mantan kombatan GAM yang berjuang demi kesejahteraan dan harga diri masyarakat Aceh. Akan tetapi jangan putus asa, setidaknya harus ada upaya dari diri untuk memperpanjang umur yaitu pada sisa umur kita dengan makan makanan sehat seperti sayur dan buah-buahan serta olah raga teratur sekitar 30 menit setiap hari, agar tidak terlalu sering kita mendengar berita duka atas meninggalkan mantan kombatan GAM.

(Mendale, 24 Agustus 2019)

*Mantan Panglima GAM Wilayah Linge

Comments

comments