Hukum Keber Ari Ranto Kemenag Aceh Terbaru

Cegah Radikalisme, Kemenag Aceh Gelar Pembinaan Aktor Kerukunan


Banda Aceh-LintasGAYO.co : Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh melalui Sub Bagian Hukum dan Kerukunan Umat Beragama terus berikhtiar merawat kerukunan umat beragama dan mencegah radikalisme di Provinsi Aceh, ikhtiar tersebut dilakukan dengan berbagai kegiatan, seperti Pembinaan Deradikalisasi dan Counter Radikalisasi bagi aktor pemelihara kerukunan umat beragama.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Grand Permata Hati, Banda Aceh, Rabu (14/8) dan diikuti Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Aceh, Ketua FKUB Kabupaten dan kota se-Aceh, sejumlah tokoh pemuka agama dan sejumlah ASN pegiat kerukunan umat beragama.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H.M Daud Pakeh dalam sambutanya saat membuka kegiatan pembinaan Deradikalisasi dan Counter Radikalisasi tersebut menyampaikan bahwa Aceh merupakan daerah yang penuh toleran, kerukunan umat beragama sangat bagus, maka hal bagus tersebut harus dirawat bersama.

Menurutnya, menjaga kebersamaan dan merawat kerukunan adalah tanggung jawab bersama, tidak boleh membiarkan pihak-pihak tertentu yang mencoba mengusik kerukunan di Aceh, seperti masuknya paham radikal yang dapat memecahbelah sesama.

“Kerukunan umat beragama, baik internal maupun antar umat beragama selama ini sudah sangat baik, dari dulu Aceh terkenal dengan toleransi, mari kita rawat ini, juga sama sama mencegah radikalisme di Aceh,” ajak Kakanwil.

Lebih lanjut ia menjelaskan radikalisme merupakan suatu faham yang menginginkan perubahan secara drastis hingga titik paling akar, namun dalam upayanya radikalisme tersebut melibatkan cara hingga yang paling ekstrim atau kekerasan baik secara simbolik ataupun kekerasan fisik.

Dalam tinjauan sosiologis, gejala radikalisme dapat dilihat dalam bentuk respon terhadap kondisi sosial politik maupun ekonomi yang sedang berlangsung  berbentuk penolakan dan perlawanan, berlanjut pada pemaksaan kehendak untuk mengubah keadaan yg mendasar ke arah tatanan lain sesuai dengan cara pandang yang berafiliasi pada nilai-nilai tertentu semisal agama, suku dan etnis maupun ideologi lainnya.

“Ketika gejala ini muncul, maka kita harus menyadarinya agar dapat diantisipasi dan tidak menjadi potensi radikalisasi yang lebih ekstrem” ujar Kakanwil.

Menurutnya lagi, hal lain yang perlu diwaspadai adalah menguatnya sendi-sendi keyakinan tentang kebenaran yang diyakini oleh orang-orang radikal bahwa mereka lebih unggul dari yang lain, klaim terbaik yang diyakini semakin memuncak pada sikap penafian dan menegasikan sistem serta pemikiran lain.

Daud pakeh juga menyebutkan beberapa faktor munculnya radikalisme, yaitu intoleran pada golongan yang berbeda pemahaman dengan golongan mereka, cenderung fanatik, eksklusif, tidak segan berbuat anarkis, dan berpotensi menjadi teroris.

Pada kesempatan tersebut, Daud Pakeh mengapresiasi kegiatan pertemuan para aktor Kerukunan umat beragama ini sebagai upaya bersama memelihara Kerukunan, menganalisa situasi dan perkembangan yang terjadi yang berpotensi merusak kerukunan umat.
Selain itu, Daud Pakeh mengajak kepada seluruh pengurus FKUB, pegiat kerukunan umat dan para ASN dan seluruh masyarakat untuk bisa melaksanakan program Siap Siaga Nasional menangkal radikalisme, dengan upaya pemberdayaan masyarakat, peningkatan kemampuan aparatur, perlindungan dan peningkatan sarana prasarana, pengembangan kajian terorisme, dan pemetaan wilayah rawan faham radikalisme dan terorisme.

“Semua agama punya landasan untuk umatnya memelihara kedamaian dan kerukunan, tidak ada landasan apapun yang membolehkan kekerasan kepada sesama manusia. Deradikalisasi berpotensi konflik, adalah tugas kita bersama,” ujar Daud Pakeh di akhir materinya.

Hadir pada kesempatan tersebut, Ketua FKUB Aceh, Nasir Zalba, Kasubbag Hukum dan KUB Kanwil Kemenag Aceh, Rakhmad Mulyana dan sejumlah tamu undangan lainnya.

[RN]

Comments

comments