Opini Terbaru

Momentum 58 Tahun Gerakan Pramuka, Membangun Generasi Berkarakter


Oleh: Zulkifli,S.Pd.I,M.Pd*

Pramuka merupakan praja muda karana, yaitu rakyat muda yang suka berkarya, baik berkarya untuk dirinya maupun berkarya dalam lingkungannya.

Gerakan pramuka Indonesia adalah suatu organisasi pendidikan non formal yang menjadi wadah dalam melaksanakan pendidikan kepanduan yang dilaksanakan di Indonesia.

Kegiatan kepramukaan ini biasanya dilaksanakan di alam terbuka, yaitu dengan membuat kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, menarik, sehat, terarah sesuai dengan prinsip dasar dan metode dalam gerakan kepramukaan.

Dalam kegiatan kepramukaan  ini memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai kepada setiap pandu, baik kepada pelatih, pembina dan adik-adik pandu.

1. Membentuk karakter/kepribadian dan akhlak yang mulia para generasi muda.

Karakter atau kepribadian adalah watak, sifat, akhlak atau kepribadian yang membedakan seseorang individu dengan individu lainnya. Karakter juga merupakan suatu keadaan yang sebenarnya dari dalam diri seorang individu, yang membedakan antara dirinya dengan orang lain.

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan iti mencerai-beraikan kamu dari jalan Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa”, (Q. S Al-An’am: 53).

Hakikat karakter yang akan ditanam dalam diri pandu adalah pandu yang amar ma’ruf dan nahi munkar, senantiasa menjalankan dan menegakkan kebenaran dan menjauhi segala larangan Allah Swt.

Tidak akan dapat menjadikan pandu itu berkarakter kalau apa yang diperintahkan Allah Swt masih ditinggalkan dan apa yang dilarang oleh Allah Swt namun masih gemar dimerjakannya.

Shalat adalah suatu kegiatan yang bersifat wajib kepada setiap mukallaf sebagai awal dan dasar pembentukan karakter. Dalam kegiatan kepramukaan juga membentuk pandu yang berakhlak mulia, ini sesuai dengan ketentuan tuntunan rasulullah Saw.

“Sesungguhnya aku dibangkitkan untuk menyempurnakan kemulian akhlak”, (hadits).

Suri teladan kemulian akhlak itu hanya ada pada pribadi rasulullah Saw, beliaulah hakikat contoh dalam berakhlak.

2. Menanamkan rasa cinta tanah air dan bangsa dalam diri generasi muda.

Rasa cinta tanah air ini disebut juga dengan nasionalisme dan patriotisme. Nasionalisme adalah sikap politik dan sosial  dari sekelompok bangsa yang memiliki kesamaan kebudayaan, bahasa dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan dalam meletakkan kesetian yang mendalam terhadap kelompok bangsanya.

Sedangkan patriotisme adalah sikap yang bersumber dari perasaan cinta tanah air (semangat kebangsaan atau nasionalisme) sehingga mwnimbulkan kerelaan berkorban untuk bangsa dan negaranya.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin). Mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang dibwrikan kepada mereka (Muhajirin); dan menreka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalioun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”, (Q. S Al-Hasyr: 9).

3. Menggali potensi diri dan meningkatkan ketrampilan para generasi muda sehingga menjadi individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara.

Hakikat menggali potensi diri adalah menanam dan mengokohkan aqidah setiap generasi muda sehingga ia terampil dalam hal ketuhanan, ibadah, tasawuf.

Ia mengenal Tuhan bukan saja tau namanya “Allah”, tapi lebih sehingga terbentuk keyakinan yang kokoh, tidak dapat goyah oleh rayuan kekosongan bertuhan atau atheisme.

Mengetahui setiap syariat-syariat yang ada dalan Islam merupakan pondasi untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat dan negara.

Menjalankan syariat dengan sempurna merupakan perwujudan kemanfaatan, ia mampu memberi manfaat untuk dirinya, orang lain dan negaranya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat fahala (dari kebajikan) yang diusahakannya, dan ia mendapat siska (dari kejahatan) yang dimerjakannya. (Mereka berdoa) : Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami, apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”, (Q. S Al-Baqarah: 286).

Pramuka Sebagai Penyelamatan Bangsa

Membentuk generasi muda yang berkarekter adalah sesuatu yang sedang digodok dalam kepramukaan, dan bangsa dan negara ini membutuhkan orang-orang yang berkarakter, mengenal dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya.

Bangsa ini sedang sakit, sakit yang dideritanya sudah mulai komplit, mulai masalah tatanan, masyarakat dan kebijakan.

Bangsa yang maju yaitu bangsa yang dapat mensejahterakan rakyatnya, tidak ada yang melarat, saling menolong dalam kebaikan dan menegakkan kebenaran.

“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya”, (Q. S Al-Maidah: 2).

Mensejahterakan rakyat adalah kewajiban pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa.

Tidak ada yang mengambil bukan hak nya, mereka mengerjakan dan mengurus bangsa ini dengan ikhlas, bukan karena jerih yang besar atau karena bisa memanfaatkan kekayaan negara untuk dirinya.

Kebathilan tidak akan dicampur dengan kebenaran, begitu juga sebaliknya. Mereka akan mengatakan ini haq walau berat bagi dirinya dan keluarganya demi kepentingan kebangsaan.

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui”, (Q. S Al-Baqarah: 42).

Inilah yang dibentuk dalam kepramukaan, menjadi generasi yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah Swt, yang tentunya senantiasa menjalankan kewajibannya kepada dirinya, rakyat dan negara.

Menyiapkan generasi berkarakter sejak dini merupakan suatu kegiatan menolong bangsa ini dari krisis identitas dan karakter generasi.

Tatanan dan kebijakan bangsa yang sakit akan diobati oleh mereka kelak, alam yang ditebas seakan tak bertuan dan hilangnya rasa kasih sayang kepada alam akan dikasihi dan dicintai oleh pandu generasi muda.

Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia adalah butiran dari dasa darma pramuka yang setiap jiwa dalam pramuka wajib menjalankannya sebagai tatanan sosial bagi mereka.

Menyelamatkan bangsa ini dengan membentuk generasi pandu muda sejak dasar, pertengahan dan atas. Mereka disiapkan sejak dini sehingga kelak menjadi pemimpin yang selalu mengamalkan seluruh poin dasa darma dalam kepemerintahan.

Bukan generasi yang ingkar dan durhaka kepada yang dipimpinya, karena setiap kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak.

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dipertanyakan terhadap kepemimpinannya”, (Hadits).

*Pembina Pramuka Gudep 07.207-07.208, Pangkalan MTsN 6 Aceh Utara

Comments

comments