Catatan Redaksi Inilah Gayo Keber Ari Gayo Sara Sagi Sosial Budaya Terbaru

Seorang Diri, Dewa Bin Banta Cut Pernah Bunuh 1 Pleton Tentara Belanda di Linge


Tidak banyak yang tahu tentang sosok Dewa Bin Banta Cut, seorang kesatria pemberani asal Tanoh Gayo. Namanya mungkin asing di telinga masyarakat Gayo, khususnya generasi muda.

Dewa merupakan anak pertama dari Banta Cut (Reje Linge) dan abang dari Sasa (yang menjadi kejurun) dan Asa (menjadi Reje Kul). Kisah Dewa Bin Banta Cut tersimpan kuat dalam memori salah seorang tokoh Gayo, Fauzan Azima.

Kepada LintasGAYO.co, beberapa waktu lalu, Fauzan menceritakan tentang keberanian Dewa dalam membantai 1 pleton tentara Belanda di tangsi pasukan Belanda yang terletak tak jauh dari perkuburan Buntul Linge, Aceh Tengah.

Menurut penelusuran Fauzan, kejadian itu terjadi antara masa tahun 1929-1933. “Sedikitnya 25 tentara Belanda (1 pleton) habis dibunuh oleh Dewa Bin Banta Cut,” kata Fauzan Azima.

Pembunuhan itu, katanya lagi, berawal dari sekelompok tentara Belanda yang usil mengganggu perempuan (Beberu-Gayo : red) di wilayah itu, hingga membuat resah para warga.

“Di Gayo ada empat prinsip adat dalam hal harga diri yang harus dilaksanakan apabila diganggu oleh siapapun, apalagi penjajah,” kata Fauzan.

Keempat prinsip adat untuk harga diri itu dikenal dengan sebutan, pertama, Dunie terpancang yang berarti harga diri yang menyangkut hak atas wilayah. Kedua Nahma teraku yang berarti harga diri yang menyangkut kedudukan yang sah.

Ketiga Bela mutan yang berarti harga diri yang terusik karena ada anggota kelompoknya yang disakiti atau di ganggu. Keempat, Malu tertawan yang berarti harga diri yang terusik karena kaum wanita atau kelompoknya diganggu atau difitnah orang lain.

“Dari keempat harga diri itu, yang terakhir yang telah dilakukan tentara Belanda terhadap beberu Gayo. Inilah menjadi dasar keberanian Dewa Bin Banta Cut menyerang seorang diri tangsi Belanda dan menewaskan sedikitnya 25 tentara,” terangnya.

Akhirnya, sambung Fauzan lagi, setelah dibunuh 25 mayat pasukan Belanda dikuburkan dalam satu liang, di sisi timur Buntul Linge (dahulu istana Reje Linge) yang tidak begitu jauh dari tangsi Belanda itu arah ke pemakaman Reje Linge.

Setelah kejadian ini, Dewan Bin Banta Cut menjadi sasaran orang yang paling dicari oleh tentara Belanda. Hingga akhirnya ia sahid dibunuh tentara Belanda.

Fauzan menambahkan, selain itu, wilayah Linge, juga masih banyak terdapat perkuburan tentara Belanda lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa, pada saat itu, penjajah Belanda tidak leluasa masuk ke kawasan Gayo. Terbukti adanya perlawanan-perlawanan yang menewaskan tentara Belanda, yang hingga kini masih banyak belum tercatat.

[Darmawan Masri]

Comments

comments