Sastra Terbaru

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian. 6


[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian. 6

Diceritakan kembali oleh : Aman Renggali

Ayah Gelingang Raya tidak kesulitan setiap kali hendak menjual hasil panen atau ternaknya, karena raja dari Kerajaan Meluem yang bernama Empun Mege sangat menyukai hasil panen mereka, terutama kewe yang telah menjadi bubuk kopi. Hasil tanaman mereka memiliki rasa yang berbeda dari petani lainnya. Itulah sebabnya raja sangat menyukai hasil panen ayah Gelingang Raya.

Setiap pergi ke Ibu Kota Kerajaan Tampon membawa berbagai jenis sayur mayur dan buah-buahan, dagangan ayah Gelingang Raya selalu diborong habis oleh sang raja. Boleh dibilang raja Empun Mege adalah langganan tetap mereka. Dari itu tidak heran jika antara Basyar dan raja Empun Mege sudah seperti sahabat, yang saling percaya dan saling menepati janji jika ada pesanan khusus.

Pernah satu ketika raja membutuhkan dua ekor ternak yang sehat dan gemuk untuk disembelih dalam rangka memeriahkan pesta pernikahan anaknya, putri Merdum. Semua petani se-kerajaan menawarkan ternak-ternak terbaik mereka, mulai dari ayam, kamping, sapi hingga kerbaau-kerbau jantan yang besar. Tetapi tidak satupun yang dipilih oleh sang raja. Namun ketika Basyar ayah Gelingang Raya membawa kerbau jantan miliknya yang gagah, dengan leher bergelambir dan punggung yang mencuat ke atas seperti buntelan bantal sang raja langsung menyukainya.

“Ini ternak yang terurus, gelambir lehernya, gumongnya juga jalannya sangat gagah. Kiranya inilah yang pantas kita sembelih”, kata sang raja.

Transaksi dan akad jual belipun kemudian dilakukan seketika, namun ayah Gelingang Raya tidak mau menerima uang pemberian raja yang melebihi dari harga ternaknya, ia menerima sewajarnya saja sesuai dengan harga yang ia tawar.

“Terima saja sebagai rasa terimakasih dan hadiah untukmu”, tawar sang raja.

“Terimakasih tuan raja, sesuai harganya saja sebagaimana saya tawarkan kepada pembeli-pembeli lainnya”, jawab Basyar.

Mendengar jawaban itu, sang raja sejenak menundukkan kepala seolah berpikir dan mempertimbangkan tawaran Basyar.

Beberapa saat kemudian ia menarik nafas lega dan mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda setuju. Raja pu tersenyum memandang Basyar sambil menepuk-nepuk bahu Gelingang Raya yang berdiri tidak jauh darinya.

Begitulah hidup keseharian Gelingang Raya dan keluarganya sepanjang hari, minggu dan bulan hingga berbilang tahun.

Pada suatu hari ketika Gelingang Raya dan ayahnya pulang dari pasar kerajaan, mereka berteduh dan duduk beristirahat di bawah sebuah pohon kayu rindang. Ayah dan anak ini sengaja berhenti sejenak untuk melepas rasa lelah karena perjalanan panjang. Disela-sela istirahat itu Gelingang Raya memberanikan diri bertanya tentang arti dari namanya.

“Ayah, boleh aku bertanya sesuatu kepada ayah?”, tanya Gelingang Raya memecah kesunyian keduanya di antara kicauan burung Mergah yang terdengar sayup dari kejauhan.

“Emm, boleh saja Win. Mau tanya soal apa?”, jawab Basyar sang ayah sambil membuka topi dari kepalanya yang terbuat dari jalinan rotan.

“Ayah, kenapa namaku Gelingang Raya. Apa arti namaku itu yah”, tanya Gelingang Raya sambil menatap ayahnya yang tampak kelelahan.

“Memang kenapa dengan namamu Win?”, jawab ayahnya sambil mengipas-ngipaskan topinya karena gerah.

“Setiap ke kota kawan-kawanku di pasar selalu bertanya apa arti dari namaku itu yah. Kata mereka namaku unik”, jelas Gelingang Raya dengan sikap ingin taunya.

“Oo begitu !”, jawab sang ayah singkat sambil mencoba berpikir dan menghentikan mengipas topi dan memandangi anaknya.

Beberapa saat suasana menjadi hening kembali. Basyar memandang jauh ke ujung bukit seolah ada jawaban yang tersimpan disana. Sementara Gelingang Raya memainkan potongan kayu pendek di tangannya mengais-ngais tanah.

“Dulu, waktu kamu lahir tepat pada saat bulan sedang purnama”, jelas Basyar sambil menarik nafas panjang.

“Bias dan gambaran pohon serta rerantingan kayu yang tergambar di permukaan bulan dalam bahasa Gayo disebut dengan Gelingang Raya. Dari itu ayah dan ibumu bersepakat untuk memberimu nama Gelingang Raya, agar kelak kamu dapat berbakti kepada orang tua dan masyarakat secerah dan seputih cahaya bulan purnama”, jelas sang ayah sambil tersenyum dan mengelus kepala anaknya.

Dari penjelasan singkat itu Gelingang Raya tidak pernah lagi bertanya perihal arti dan makna dari namanya. Bahkan dihari-hari berikutnya jika ada temannya yang bertanya, ia menjawab dengan bangga dan senangnya.

Teman-temannyapun menjadi paham dan mengerti, bahwa gambaran pohon dan rerantingan kayu yang tergambar di permukaan bulan saat purnama disebut dengan Gelingang Raya.

Ketika Gelingang Raya menginjak usia dewasa datanglah musim kemarau panjang yang menimpa seluruh wilayah Kerajaan Meluem. Semua tanaman milik penduduk serta tumbuh-tumbuhan milik ayahnya mati kekeringan. Hewan dan ternak juga tidak dapat minum, karena hampir semua mata air telah mengering. Akibatnya binatang buas yang ada di dalam hutan pun turun ke perkampungan untuk mencari minum.

Pada suatu malam ayah Gelingang Raya keluar dari rumah untuk menutup pintu kandang kerbau yang letaknya agak jauh. Ayahnya sengaja tidak mengajak Gelingang Raya untuk menemaninya seperti bisa, karena saat itu anaknya sudah tertidur lelap akibat kelelahan seharian bekerja.

Hingga pagi menjelang dan matahari naik sepenggalan sang ayah belum juga pulang ke rumah. Gelingang Raya sangat khawatir, hatinya was-was. Ia gelisah sambil berjalan kesana kemari. Sesekali ia melihat kearah matahari terbit sambil memicingkan mata, berharap ayahnya akan muncul dari ujung tikungan sambil berjalan pelan dengan senyum merekah.

Setelah beberapa lama ia memutuskan berpamitan kepada Hayya ibunya untuk menyusul sang ayah ke kandang kerbau.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dicegah, di depan pintu kandang Gelingang Raya menemukan ayahnya terkapar bergelimang darah dengan sebilah parang yang masih tergenggam di tangan kiri ayahnya.

Dengan sigap sambil menangis Gelingang Raya memeluk ayahnya yang kesakitan karena berkelahi dengan harimau jantan sebesar kerbau betina. Sebagian dari ternak terlepas dan melarikan diri ke tengah hutan menjadi binatang liar. [SY] Bersambung…

Baca Juga :

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian. 1

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian.2

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian.3

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian.4

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian.5

Comments

comments