Inilah Gayo Keber Ari Gayo Sosial Budaya Terbaru

Samar Kilang, Rumahnya Pahlawan Kemerdekaan [bag.2]


Oleh : Zulfikar Ahmad Aman Dio*

Samar Kilang “Kotanya” pejuang berulang kali dijadikan sebagai markas perjuangan. Pada tahun 1893 – 1905 Datu Laksamana dari Tanjung Semantuh (Tamiang) selama 12 tahun mempertahankan Tamiang dari Samar Kilang [1]. Aman Nyerang sejak tahun 1902 – 1922 selalu kembali ke Samar Kilang [2], [3]. Tgk Di Paya Bakong selalu bolak-balik Samar Kilang – medan pertempuran, pada tahaun 1913-1917 beliau menetap di Samar Kilang [3], [4], [5].

Oktober 1910, Salah seorang pengawal Cut Meutia yang dijuluki ‘SUPOT MATA” (hampir buta) dengan “bawar” bergagang emasnya dari Samar Kilang Syahid bersama Cut Meutia saat hendak bergabung dengan Tgk. di Paya Bakong yang menunggu di Samar Kilang. Biasanya, saat “bermain” sendiri SUPOT MATA dan terdesak, beliau mengangkat tinggi-tingi bawarnya dan menghilang [3].

Samar Kilang bukan hanya “rumah pejuang”, tapi dari sana juga terlahir oarang-orang hebat, seperti Aman Nyerang, Supot Mata, Aman Rasum/Pang Akob.

Setelah Aman nyerang syahid pada 3 Oktober 1922, Aman Rasum bersama Aman Bedel menetap di Tamiang. Serangan-serangan ke pos belanda atau penghadangan maréchaussée selalu dilakukan. Aman Rasum dan Aman Bedel lebih dikenal dengan nama Pang Akob dan Pang Cik. [1], [2], [3], [6]

Setiap hari Jum’at Pang Akob diantar Pang Cik dengan perahu dari Tamiang menuju Lokop untuk shalat Jum’at. meski panjang sungai sekitar 105 km, Pang Cik dengan mudah mengayuh perahu menuju ke hulu sungai Tamiang Beberapa brigade maréchaussée berusaha untuk menghadang tapi dengan mudah dikalahkan. [2].

Pang Akob, Pang Cik, Pang Bedel, Pang Lateh dan Pang Ben [ https://bit.ly/2LyDqOj ]. pindah ke Samar Kilang dan mulai menyusun serangan-serangan yang lebih besar. Beberapa daerah diusahakan pembebasannya dari cengkaraman penjajah, saat terdesak biasangan Pang Akob dkk menghilang disekitar Lokop, Bur Tedet, perbukitan Van Daalen, dan daerah Intim-intim [8], [9], [10], sesuai dengan daerah yang sedang “digarap” oleh Pang Akob.

Selama 15 tahun Pang Akob berjuang dengan seluruh jiwa raganya, komandan maréchaussée silih berganti, Pang Akob tetap tidak terkalahkan. Pada tahun 1934, Bogers bersama Gubernur Aceh (Belanda) terbang dari Peudaya Idi – menyusuri sungai Jambo Aye – Takengon – dan mendarat di Cot Gapu Bireuen. Disekitar Burni Tedet, Bokers melihat warna yang sangat kontras dengan warna hutan belantara disekitarnya, Bogers menduga itu adalah markasnya Pang Akob. Startegi penangkapan disusun, selama 10 hari maréchaussée berangkat dari Paya Bakong Menuju Bur ni Tedet. Pada 6 Januari 1936 Pang Akob ditawan, sementara Pang Cik, Pang Bedel, Pang Lateh dan Pang Ben sedang menyerang Bivak Belanda di daerah lain.

Sisingamangaraja Wafat Pada Tahun 1907, Cut Meutia Pada 1910, Mungkinkah AMAN NYERANG dan AMAN RASUM (PANG AKOB) DIANGKAT SEBAGAI PAHLAWAN NASIONAL DARI BENER MERIAH ???

[1] https://bit.ly/2NL2eFE
[2] https://bit.ly/2XlJxIl
[3] https://bit.ly/2Jfp6aQ
[4] https://bit.ly/30fhqMP
[5] https://bit.ly/2NvuTOW
[6] https://bit.ly/2Yw9AxM
[7] https://bit.ly/2LbyGyQ
[8] https://bit.ly/2JvSjzF
[9] https://bit.ly/2JFpGiq
[10] https://bit.ly/2JhbQm4

Baca Juga : Samar Kilang, Rumahnya Pahlawan Kemerdekaan [Bag.1]

Comments

comments