Inilah Gayo Opini Terbaru

Potensi SDA Samar Kilang Gerakkan Roda Perekonomian Masyarakat


Catatan : Misna Rahmika*

Perjalanan menuju Samar Kilang, daerah terluar dari kabupaten Bener Meriah kaya dengan pesona alam yang benar-benar mengesankan. Menuruni perbukitan Blang Jorong, ketinggian terus berkurang begitu juga dengan suhu, hal ini menyebabkan jenis tanaman serta kondisi alam tampak berbeda.

Bentang hutan pinus, sungai yang mengalir di sepanjang lereng gunung serta berbagai jenis tanaman warga memanjakan mata. Menempuh jarak 50,3 km dari ibukota Kabupaten dengan udara yang masih sangat segar, bisa membuat kita lupa perjalanan yang melelahkan dan tentu saja rasa kagum akan potensi alam Bener Meriah yang melimpah.

Sepanjang perjalanan Camat Syiah Utama, Khalisuddin dan Pak Leman sangat membantu untuk kami memahami situasi dan kondisi Samar Kilang. Keterbatasan pengetahuan penulis tentang sejarah membuat setiap informasi yang disampaikan sangat menarik untuk ditilik.

Seperti, sejarah pemukim Samar Kilang yang ternyata berasal dari berbagai desa. Dengan fakta cukup menarik bahwa nama-nama desa asal yang mereka tinggalkan adalah wilayah pemukiman tertua di kabupaten ini.

Asal-usul keturunan para penduduk desa juga masih berkaitan dengan kerajaan-kerajaan terdahulu. Seperti desa Lane, Payung, Gerpa, Uning dan Kerlang. Nama desa yang mereka bawa ke  Samar Kilang saat konflik di tahun 2002. Sebagai informasi, perkampungan di Kecamatan Syiah Utama adalah desa-desa yang dipindahkan dari pemukiman di wilayah perkebunan seberang sungai.

Inisiatif ini dilakukan untuk memudahkan pengamanan oleh TNI. Itu cerita yang penulis dapat dari Pak Khalis juga Pak Leman. Hal ini yang menyebabkan satu lorong di pemukiman ini merupakan satu desa yang kadang terdiri dari 20 Kepala Keluarga.

Dua hari berinteraksi dengan penduduk, membuat penulis terkesan. Sambutan ramah masyarakat sepanjang perjalanan dan tidak ubahnya ketika memasuki desa. Kami juga sempat dijamu dengan menu masakan yang tidak jauh berbeda dengan menu kenduri di tempat penulis tinggal. kami berkesempatan mencicipi gurih daging ikan samar (baca; iken gegaring). Namun sangat disayangkan, ikan ini hanya bisa kami nikmati di sana. Belum ada olahan ikan yang bisa kami bawa, padahal ini bisa menjadi ikon oleh-oleh dari Samar Kilang.

Potensi Sumber Daya Alam (SDA) Samar Kilang

“Kenapa orang-orang tertarik dengan Samar Kilang kak? padahal cuma kayak ginilah di sini!,” tanya seorang kakak  yang kami kunjungi saat menikmati suasana pagi di desa. Sebelum mendapatkan pertanyaan dari si kakak, beberapa potensi Samar Kilang sempat kami bahas di sela-sela aktivitas.

Ada 3 potensi menurut penulis, terdapat di Samar Kilang. Pertama dari sektor pariwisata, aliran sungai di sepanjang kaki gunung mengelilingi Desa Samar Kilang sangat menarik dijadikan destinasi wisata air. Seperti offroad air, arung jeram, tubing, camping serta pengembangan jenis wisata lain.

Potensi pariwisata di Samar Kilang (Foto: Misna Rahmika)

Dengan ikon empat jembatan gantung yang menghubungkan penduduk desa ke area perkebunan atau pertanian mereka.  Komitmen dan kesiapan masyarakat tentu menjadi faktor utama untuk ini.

Kedua, potensi di sektor  pertanian terlihat hamparan padi mulai menguning. Jenis tanaman hortikultura juga cukup berpotensi untuk dikembangkan di daerah ini. Seperti tanaman buah (pomologi/frutikultur)  pepaya, durian, rambutan, nanas, semangka, pisang, buah naga walaupun untuk satu jenis buah ini, penulis belum melihat hasilnya.

Ada juga potensi olahan dari pohon pango (baca; enau) yang menghasilkan nira bahan utama pembuatan gula aren. Untuk jenis tanaman obat-obatan (biofarmaka) juga memiliki peluang untuk dikembangkan, karena tanaman pinang tampak menemukan rumah yang tepat di Samar Kilang. Hal ini menunjukkan jenis tanaman obat lain juga memungkinkan untuk dikembangkan di sini.

Ketiga, sektor perkebunan. Ini menjadi peluang menarik. Sepanjang perjalanan menuju desa, kami disuguhi bentang perkebunan kopi robusta, kakao, kelapa bahkan bentang tanaman lada di sela-sela perkebunan kopi  juga ikut mencuri perhatian. Saat ini kopi dan kakao adalah komoditas utama ekspor dari daerah Gayo. Untuk saat ini, penanaman kakao sudah digalakkan di daerah Timang Gajah, walaupun secara keseluruhan belum menampakkan hasil yang maksimal.

Potensi sektor perkebunan di Samar Kilang (Foto : Misna Rahmika)

Pemanfaatan kakao telah banyak digunakan industri makan dan minuman serta industri kecantikan (parfum dan kosmetik). Tanaman kopi juga semakin digemari di industri makanan, minuman, serta industri kecantikan. Ini yang menjadi tolak ukur bahwa komoditi di Samar Kilang dibutuhkan pasar dan diperlukan program yang serius untuk pengembangan dan keamanan kualitas produksi.

Dalam perjalanan ini kami juga dibersamai seorang bapak yang berasal dari daerah pesisir. Cerita yang sama, pengalaman pertama menginjakkan kaki di sini. Beliau mendapat tawaran pekerjaan dari seorang kenalan untuk mencari lebah hutan. Ini menunjukkan ada potensi budidaya lebah, dengan hasil panen berupa cairan madu, ampas sarang lebah, larva lebah, serta pollen dan royal jelly  yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat.

Pemanfaatan hasil hutan berupa kayu dan non kayu pernah menjadi wacana serta program dari World Wide Fund For Nature Indonesia (dikutip dari laman wwf.or.id). Salah satu program alternatif untuk menunjang pembangunan ekonomi berbasis lingkungan di Samar Kilang.

Tim WWF juga menyebutkan beberapa program seperti survei rutin untuk memantau kondisi satwa, membentuk tim masyarakat untuk patroli satwa liar (Tim Kule Patroli), dan telah berupaya melakukan pendampingan pendidikan melalui program Education Sustainable Development di sekolah-sekolah.

Sejauh ini penulis tidak mengetahui pasti perkembangan aktivitas dari beberapa program WWF Indonesia. Namun, ini menjadi rujukan dan membuka peluang bagi pemerintah daerah serta pejabat desa untuk berkolaborasi mengatasi hama liar di perkebunan masyarakat, juga mempromosikan jenis satwa yang dilindungi dalam hutan Samar Kilang. Potensi hutan yang memungkinkan untuk dijadikan kawasan konservasi baru di Aceh.

Dengan potensi yang terlihat, menunjukkan bahwa Samar Kilang tidak kekurangan apapun. Kecuali kemauan dan rasa memiliki. Bagaimana tidak, setiap jenis tanaman tropis menghasilkan dan kami melihat sekilas hasil perkebunan di sini memiliki kualitas yang cukup baik. Peningkatan kualitas tentu sangat diharapkan dan bergantung pada proses tanam dan proses olah dari masyarakat.

Meningkatkan produksi SDA dengan komitmen bersinergi

Permasalahan untuk meningkatkan sumber daya alam di Samar Kilang menjadi topik menarik untuk penulis dan dua sahabat yang ikut serta, Zuhra Ruhmi dan Ismar Ramadani. Saat memasuki desa, kami menemukan kota kecil dengan fasilitas yang memadai, walaupun setiap fasilitas sangat membutuhkan perhatian lebih.

Puskesmas, kantor kecamatan, balai desa, masjid, jalan dua jalurnya, perumahan penduduk yang sangat mudah diakses, lapangan bola, serta bangunan sekolah dari tingkat dasar hingga sekolah menengah atas sudah hadir di desa.

Setiap fasilitas publik sangat berperan penting untuk pembangunan, tentu saja dengan memahami peran dan meningkatkan kepedulian dari setiap pihak yang terlibat.

Meski demikian bantuan pembibitan dari pemerintah, dengan angka SDM dalam usia produktif yang sangat berpotensi, serta hasil sumber daya alam yang sempat kami cicipi, ekonomi kreatif sangat dibutuhkan sebagai alternatif solusi ekonomi serta lapangan pekerjaan di sini.

Menurut penulis, perekonomian masyarakat dapat bergerak konsisten, dengan kerja yang bersinergi antara masyarakat dan pihak  pemerintah daerah sebagai konduktor program desa.

“Pasar untuk hasil kebun, semua masih ke toke-toke di pondok. Kadang ada masuk mobil-mobil untuk beli ke masyarakat langsung,” cerita Pak Leman saat di perjalanan.

Menunjukkan distribusi hasil pertanian masih bergantung dari luar. Kemandirian sistem produksi belum terjadi padahal ini menjadi peluang untuk Samar Kilang bisa mempercepat proses pembangunan.

Sebagai contoh, pengembangan sektor wisata bisa menjadi alternatif dalam promosi produk unggulan, dimana masyarakat dapat langsung  memasarkan produk kepada para wisatawan yang berkunjung.

Untuk permasalah ini, sangat diharapkan pemerintah daerah memiliki rasa peka terhadap apa yang dibutuhkan dan bekerja totalitas untuk berkoordinasi dengan desa-desa dalam tanggungan program.

Setidaknya setiap program desa yang berjalan bukan hanya berbicara “pertanggungjawaban” tapi lebih pada program dengan dampak jual untuk jangka panjang. Sehingga setiap kebijakan pemerintah dan pejabat desa memiliki kontribusi, tidak lagi bekerja untuk menunjukkan kinerja di masa jabatannya saja. Namun, mulai berpikir dan bekerja bersama dalam program jangka panjang dengan konsep yang lagi-lagi harus bersinergi.

Menghabiskan banyak waktu untuk uji coba  program-program kurang produktif menurut penulis terjadi di Samar Kilang. Dalam bincang-bincang dengan aparat desa dan penduduk sembari membersamai Pak Khalis menjalankan tugas, kami mengetahui bahwa program perkebunan sudah lama digalang oleh pemerintah. Namun, para  petani masih berpangku tangan karena mengalami masalah pada sistem distribusi.

Sistem distribusi hasil panen yang tidak efektif dan efisien menjadi kendala masyarakat memiliki totalitas merawat tanamannya. Ditambah dengan jarak tempuh para petani untuk mencapai ladang yang cukup jauh.

Tidak ketinggalan sektor peternakan juga memiliki masalah yang sama. Masyarakat yang memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan ternak dari pemerintah mengalami kesulitan untuk merawat ternak-ternak. Hal ini terjadi karena alasan jarak kandang dan ladang makanan ternak cukup jauh juga dari rumah. Dan saat ini sektor perkebunan dan pertanian mengeluh tentang kondisi tanaman mereka, dikarenakan hewan-hewan ternak ini memakan pucuk-pucuk tanaman yang sudah ditanami. Program yang diharapkan menjadi solusi seperti menentang dan berbalik memunculkan masalah kembali.

Pada dasarnya, dibutuhkan keseriusan dari pemerintah untuk memfasilitasi Samar Kilang memoles diri. Sangat tergantung pula pada “mindset” penduduk sendiri agar mau bergerak dan berpikir ke arah kemajuan tentu untuk kepentingan bersama.

Dibutuhkan kontribusi dari semua pihak dan komunitas sosial agar membantu Samar Kilang perlahan menyelesaikan masalah yang muncul dari berbagai sektor kehidupan. Karena setiap kata “keterbatasan” hanya tentang manusia yang  memiliki kemampuan serta kemauan berbenah.

*Penulis adalah Owner Luge Kupi juga guru bimbingan konseling di SMA Negeri 3 Bukit, Bener Meriah

 

Comments

comments