Keber Ari Gayo Opini Sara Sagi Terbaru

[Bag.9] Bupati Shabela Tak Sampai ke Batas : Klarifikasi Ala Ama Kasim Jangkrik


Oleh : Fauzan Azima*

Pada tahun 1998, setelah Pak Harto lengser, saya disarankan oleh pelukis dan penterjemah buku “Pinokio” dari bahasa Itali ke dalam bahasa Indonesia, Ama Chairul Bahri untuk bertemu dengan Ama Kasim Jangkrik.

Saya pun berusaha bertemu dengan Ama Kasim Jangkrik dan berdiskusi dengannya. Dari banyaknya perbincangan salah satu yang masih jelas dalam ingatan saya adalah, cerita ketika pada tahun 1982, Ama Teungku Ilyas Leubee syahid di Pandrah, Jeuneb, Kabupaten Bireuen, beliau sempat melayat ke rumah duka di Bener Lampahan. Kebetulan pada waktu itu, beliau sedang kampanye untuk PDI.

Ama Kasim Jangkrik nekad melayat “Orang yang dicap pemberontak itu” karena mengingat jasa Ama Teungku Ilyas Leubee mengirim pemuda-pemuda Gayo, termasuk Ama Kasim Jangkrik sendiri untuk bersekolah dan bekerja di Jakarta.

Saat menjabat Anggota DPR RI, Ama Kasim Jangkrik salah seorang yang memperjuangkan Sabang sebagai pelabuhan bebas. Walaupun perjuangan Ama Kasim Jangkrik tanpa pamrih, pemerintah memberikan sebuah mobil sedan Toyota butut atas jasanya.

Saya sering bertandang ke rumah beliau di Depok, kami berdiskusi dan saya tertarik bertanya tentang tokoh-tokoh Gayo pada zaman kemerdekaan. Beliau menegaskan, bahwa orang yang paling berjasa membawa pemuda-pemuda Gayo ke Jakarta adalah Ama HM Hasan Gayo dan Ama Teungku Ilyas Leubee.

Saya juga bertanya hal-hal yang sensitif, “Benarkah Ama Teungku Ilyas Leubee memerintahkan membunuh Ama Abu Bakar?”

Sebelum persoalan tersebut terjawab, ada baiknya kita klarifikasi terlebih dahulu, mengapa hal ini perlu diungkap? Saya menduga sikap “Bang Bela” tetapi mohon diklarifikasi, apakah kebencian pada “Urang Kenawat” karena Ama Teungku Ilyas Leubee berasal dari kampung tersebut?

Ama Kasim Jangkrik menahan nafasnya dan menagis di hadapan saya. “Ya Allah, itu adalah fitnah terbesar yang pernah saya dengar selama hidup” tegas Ama Kasim Jangkrik.

Masih dengan mata berkaca-kaca, beliau menceritakan, bahwa pada masa itu, terjadi peristiwa DI/TII, Ama Abu Bakar berangkat dari rumah Ama Kasim Jangkrik di Banda Aceh menuju Takengon. Sebelum berangkat mereka lama berdialog, yang kesimpulannya, Ama Abu Bakar menyatakan akan meninggalkan politik dan akan memperdalam ilmu agama. Apa yang berlaku pada Ama Abu Bakaŕ adalah dendam pribadi. Tidak ada hubungannya dengan Ama Teungku Ilyas Leubee dan perjuangan DI/TII.

Semula Ama Kasim Jangkrik berprasangka buruk juga, tetapi setelah bertemu dengan Ama Teungku Ilyas Leubee baru beliau faham duduk perkara sebenarnya. Bahkan menurutnya, ketika mendengar Ama Abu Bakar dibunuh, Ama Teungku Ilyas Leubee menangis sejadi-jadinya karena mereka adalah sahabat sejati, meskipun berbeda dalam faham idiologi.

Pada akhir hayatnya, Ama Kasim Jangkrik sebagai pendakwah di Pelindo dan membentuk Kajian Islam di Asrama Laut Tawar di Jalan Muria, Manggarai, Jakarta Selatan.

Pada tahun 2004 setelah tsunami Aceh, Ketika saya masih bergrilya. Terus terang sangat dekat dengan “Bang Tagore” yang pada masa itu beliau menjabat sebagai Ketua DPRD Bener Meriah.

Sebagai sahabat, sebagai saudara, kami sering bicara dari hati ke hati via HP selular. Saya sampaikan pesan Ama Kasim Jangkrik dan kami sepakat untuk menutup buku tentang pristiwa Ama Abu Bakar. Hal tersebut juga saya sampaikan kepada “Bang Iklil Ilyas Leubee” dan beliaupun terharu mendengar penuturan “Bang Tagore.”

Kita tidak tahu apa yang berlaku pada masa akan datang, tetapi kita bisa berguru pada pengalaman sejarah bahwa tidak ada gunanya untuk memelihara dendam karena bisa jadi orang yang paling kita benci justru memandikan, mengkafani, menyembahyangkan dan menguburkan serta mendo’akan untuk kebaikan kita.

Belajarlah memaafkan, sebagai mana Nabi Muhammad SAW memaafkan orang-orang yang menyakitinya, juga belajarlah untuk tidak balas dendam sebagai mana Nelson Mandela tidak dendam kepada orang-orang yang memenjarakannya.

(Mendale, 28 Juni 2019)

Baca Juga ;

[Bag.1] Bupati Shabela Tak Sampai Ke Batas ; Do’a Hampir Sampai Ke Langit Ke-7

[Bag.2] Bupati Shabela Tak Sampai Ke Batas : Malang Nian Nasib Kucing Angora

[Bag.3] Bupati Shabela Tak Sampai Ke Batas : Bersedekah Kepada Syetan

[Bag.4] Bupati Shabela Tak Sampai Ke Batas ; Dendam Anjing Kepada Rusa

[Bag.5] Bupati Shabela Tak Sampai Ke Batas ; Kuur Semangat

[Bag.6] Bupati Shabela Tak Sampai Ke Batas ; Sandiwara Ala Awan Prado

[Bag.7] Bupati Shabela Tak Sampai Ke Batas ; Tukang Kritik Jangan Alergi Kritik

[Bag.8] Bupati Shabela Tak Sampai Ke Batas ; Tuntutlah Ilmu Uris

 

Comments

comments