Sara Sagi Terbaru

Kami Bukan Pemberontak, Hanya Mencari Identitas Diri yang Hilang


Oleh : Fauzan Azima*

Secara bahasa, sah menyebut “Bangsa Aceh” karena “Indonesia” adalah gabungan dari kata “Indo” dan “Nation” artinya percampuran bangsa-bangsa, sebagai mana sah juga mengatakan bahwa Indonesia adalah “induk manusia” karena sejatinya “Ibu pertiwi” ada di negeri kita tercinta ini.

Sayangnya “percampuran” ini menjadikan identitas “Bangsa Aceh” menjadi bias. Bukan saja karena faktor eksternal, sejak Belanda mengumumkan perang terhadap Aceh, 26 Maret 1873, secara de jure baru berhenti pada 15 Agustus 2005, tetapi juga faktor internal “Bangsa Aceh” merasa nyaman dengan tidak mengenal identitasnya.

Patutlah, pada tahun 1920, Belanda telah berhasil menjadikan nenek moyang kita menjadi “generasi krisis identitas stadium I.” Kolonialisme dan imperialisme Belanda telah berhasil menjalankan sebagian besar misinya; 3G (Gold, Glory dan Gospel).

Padahal sebelum kedatangan Belanda, Aceh secara terintegrasi mengamalkan tiga ilmu; ilmu qalam, ilmu ghaib dan ilmu musyahadah yang menjadi sumber kekuatan Kerajaan Aceh. Belanda tahu persis itu, bahwa kekuatan Aceh adalah pada Ilmu Ghaib dan Ilmu Musyahadah sehingga sarana dan prasarana yang berkaitan dengan ilmu tersebut dihancurkan dan ulama-ulama Takekat, Hakikat dan Makrifat dibunuh. Kemudian mengkramatkan ulama syariat sehingga terjadi kefanatikan yang menutup fikiran-fikiran “liar” yang brilian.

Tidak hanya berhenti disitu, efeknya adalah generasi yang dilahirkan adalah generasi yang mengalami krisis identitas stadium II; atau setiap diisi dengan “ilmu pengetahuan” tidak akan pernah penuh, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, semakin jauh dari hakikat dan tauhid. Bingung dan ragu adalah ciri-ciri generasi ini, bahkan ketika sebut Nama Besar nenek moyangnya, mereka tidak percaya diri.

Sampailah kepada generasi kita saat ini, generasi krisis identitas stadium III; ibarat gelas kotor, kalau diisi air tidak bisa langsung diminum sebelum dicuci. Sebenarnya penyakit krisis identitas stadium III ini tidak ada obatnya, kecuali penderitaan. Oleh karenanya “Bangsa Aceh” semaikin dikasari, bukan semakin patuh atau takut, justru semakin menemukan identitasnya sebagai bangsa yang dimuliakan Allah.

Identitas yang dimaksud bukan saja simbol; lambang dan bendera Aceh, tetapi lebih dari itu adalah “Tauhid” atau ketahudirian sebagai wujud dari “Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu” (Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya) yang kita runut; untuk mengenali diri dengan mengenal nenek moyang dan sejarah kegemilangan mereka.

Sesungguhnya “Bangsa Aceh” bukanlah pemberontak, tetapi mereka hanya ingin membangun kembali memori identitasnya yang hilang yang terlanjur dilakukan lewat peperangan kepada peperangan lainnya sampai menemukan sejatinya, yang mungkin akan berakhir dengan kesadaran bahwa kita terlahir dari ibu yang sama.

(Mendale, 3 Juni 2019)

Comments

comments