Sastra Terbaru

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian.5


[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya. Bagian. 5

Diceritakan kembali oleh:
Aman Renggali

KEBAHAGIAAN bukan dicari. Terkadang ia lahir karena kita menciptakannya dalam situasi yang tidak direncanakan. Atau pada sudut pandang tertentu justru ia hadir disaat kelebihan kita mampu membuat kebahagiaan bagi kekurangan orang lain, dan inilah kebahagiaan yang sesungguhnya, karena ia bersemayam dalam hati. Bukan pada apa yang melekat pada badan atau yang mengitarinya pada kulit luar.

Pelajaran berharga dari sang ayah, Basyar.
“Tidak ada kerugian pada kita jika memberi kebahagiaan kepada orang lain”, kata Basyar kepada anaknya yang berjalan pelan di sampingnya.

Sementara itu mata Gelingang Raya masih mempelototi sepasang kaki mungil berlari riang setelah ayam dagangannya laku terjual. Senyum kedua anak itu merekah, seolah cahaya matahari sedang menyinari keduanya dengan penuh kecerahan. Ada harapan dan kegembiraan yang baru saja mereka raih dari kehidupan yang menjadikannya berkekurangan dari anak-anak lainnya di kota Tampon.

Tentu kebahagiaan kedua anak itu akan pula membuat senyum dan kebahagian tersendiri bagi ibunya yang menjada. Atau bagi arwah ayah mereka yang tak sempat menghantarkan mereka hingga usia dewasa.

“Kegembiraan itu seperti mata rantai. Berjalin dan terhubung antara satu dengan yang lain”, lanjut Basyar.
“Mata rantai ?”, tanya Gelingang Raya menghentikan langkai kakinya.
“Ya, mata rantai”, jawab Basyar lagi ikut menghentikan langkah.
“Barang kali Tuhan telah menunjukkan kepada kita, bahwa kitalah mata rantai kedua dari kebahagiaan kedua anak itu”, lanjut Basyar.

Gelingang Raya memandangi wajah ayahnya penuh tanda tanya dalam ketidak mengetiannya.

“Anakku, kedua anak itu tadi mempunyai mata rantai pertama untuk menjemput kebahagiannya. Ya, bisa jadi itu adalah ayam-ayamnya yang dijualnya kepada kita, sementara ayam-ayam itu ia pelihara selama beberapa waktu dengan penuh rasa sayang namun kemudian ia harus menjualnya demi kebahagiaan lain yang lebih bahagia”, jelas Basyar.

Lagi, Gelingang Raya semakin bingung dengan penjelasan ayahnya. Matanya berkedip-kedip dan tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Basyar menyadari jika penjelasannya terlalu berat bagi bocah seusia anaknya. Berulang kali ia kembali mencoba menjelaskan dengan pilihan kata yang lebih mudah dimengerti.

“Anakku, ayam itu mereka pelihara di rumahnya selama beberapa bulan dengan penuh kesenangan. Tetapi ketika kebutuhan mereka untuk menyambut bulan ramadhan lebih menyenangkan maka ayam tersebut terpaksa mereka jual. Singkatnya menukar kesenangan diri untuk kesenangan bersama. Ya tentu bersama adik dan ibunya. Kau paham ?”, tanya Basyar.

Gelingang Raya sejenak seperti terdiam, namun kemudian ia setengah mengangguk.

“Ah sudahlah, kelak kau akan mengerti apa yang ayah sampaikan nak”, celetuk Basyar sambil meraih dan mengapit tangan kanan Gelingang Raya melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan pulang menuju ke Bukit Gentala.

Setibanya di rumah panggung, Gelingang Raya menceritakan pengalamannya membeli ayam kepada ibunya. Sementara itu Basyar terlihat senyum di sudut ruangan sambil melinting rokok daun nipahnya.

“O begitu !”, sambut Hayya menanggapi cerita anaknya.
“Ya semoga saat ini anak-anak itu sedang menikmati lepat-lepatnya dengan gembira ya !”, sahut Hayya sambil mengelus kepala Gelingang Raya ketika anaknya bercerita mengapa ayam-ayam itu dibeli sementara mereka sendiri punya ungas yang sama melebihi dari hitungan empat telapak jari.

* * *
Tiga pekan berikutnya Gelingang Raya kembali menemani ayahnya pergi ke kota Tampon. Sejumlah hasil pertanian sudah siap dalam bakul panggulan. Mulai dari sayur mayur hingga beberapa jenis buah-buahan yang telah ranum. Basyar berencana akan berangkat seusai makan sahur dan shalat subuh.

Ibu Gelingang Raya telah melarang anaknya untuk turut serta bersama ayahnya. Alasannya sederhana, ini bulan ramadhan, dan Gelingang Raya telah berpuasa selama tiga minggu. Untuk anak seusianya melakukan perjalan jauh yang melelahkan dalam keadaan berpuasa tentu tidak baik.

Tetapi Gelingang Raya tetap memaksa untuk diijinkan berangkat menemani ayahnya. Ia menghiba setengah menangis kepada Hayya ibunya.

“Aku janji akan tetap berpuasa meski lapar dan haus bu !”, hiba Gelingang Raya.
“Lagi pula inikan hari Jumat, aku tidak pernah shalat Jumat di masjid besar Kota Tampon bu !”.
“Tetapi perjalanan ke kota Tampon itu jauh nak, nanti kamu tidak kuat berjalan karena berpuasa !”, cegah Hayya.
“Taka apa, aku kuat bu !”, celetuk Gelingang Raya lagi meyakinkan ibunya.
“Baiklah kalau begitu, tetapi jangan menyusahkan ayahmu ya !”, sahut Hayya mengalah pada keinginan kuat anaknya.

* * *

Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini dagangan Basyar ayah Gelingang Raya lebih cepat habis terjual. Sebelum tengah hari sepanggul hasil pertanian dari Bukit Gentala hanya menyisakan karung dan tali-temali saja.

Ayah dan anak itu selanjutnya menuju ke masjid kerajaan untuk menunaikan shalat Jumat. Ini adalah hari Jumat pertama bagi Gelingang Raya di Kota Tampon, dan ini juga merupakan shalat Jumat pertama sepanjang usia Gelingang Raya. Biasanya ia menemani ayahnya setiap hari-hari pekan saja.

Masjid kerajaan itu sangat luas dan besar. Orang-orang dari sejumlah kampung sekitar hadir lebih awal dari waktu shalat Jumat. Sebagian jamaah datang sebagai pedangang di pasar kerajaan, sebagian lagi adalah jamaah penduduk setempat dan para pendatang yang sengaja datang berbelanja untuk kebutuhan hari raya Idul Fitri.

Bangunan masjid itu sepenuhnya terbuat dari kayu-kayu pilihan. Delapan pilar tiang penyangganya adalah potongan batang kayu bulat setinggi dua belas meter. Atap dan dindingnya ditutupi dengan lembar-lembar papan lebar berwarna kuning kecoklatan. Pada beberapa bagian dinding terlihat sejumlah ukiran yang bertuliskan penggalan ayat-ayat suci Alquran.

Sementara pada bagian depan dekat dengan mimbar khatib terdapat ukiran yang yang bertuliskan kalimat tauhid dua kalimasyahadat dengan tulisan Arab benbentuk kaligrafi.

Letaknya tidak jauh dari pasar kerajaan, persis di tepi kali yang membatasinya dengan istana sang raja. Air sungai itu sangat jernih, mengalir dari hulu ke hilir.

Beberapa sampan kayu terlihat terikat pada batang kayu dan rerumputan di tepi sungai itu. Menjelang azan berkumandang, orang-orang terlihat seperti tengah berbaris di tepi kali untuk mengambil wudhu.

Gelingang Raya dan ayahnya berada diantara barisan orang-orang yang berjongkok itu. Jamaah shalat Jumat.

Gelingang Raya sempat berpikir dari mana orang-orang itu berasal, karena inilah Jumat pertamanya di masjid kerajaan.

Usai shalat Jumat sejumlah anak-anak terlihat berhamburan keluar masjid. Ada yang berlari-lari sambil tertawa dengan teman sebayanya, ada juga yang melepaskan pakaian dengan tergesa-gesa lalu menjeburkan diri ke tengah sungai.

Gelingang Raya mencoba membuka kancing bajunya satu persatu untuk ikut berenang dan berendam dalam bening air tawar.

“Sudah, ayo pakai pakaianmu”, kata Basyar setelah beberapa lama Gelingang Raya membaurkan diri dengan anak-anak lainnya berkecipak air.

Setelah mengenakan bajunya Gelingang Raya melihat ada dua anak duduk di tepi kali. Keduanya tidak ikut mandi, hanya melihat-lihat anak-anak lainnya bergembira dangan saling menyiram-nyiram air dalam sungai.

Beberapa saat ia memperhatikan kedua anak itu, ternyata keduanya adalah anak yang pernah menjual ayam kepada ayahnya beberapa minggu yang lalu.
Sama seperti pertemuan pertama, keduanya memegangi beberapa ekor ayam. Kali ini jumlahnya bukan dua ekor, tetapi ada enam ekor ayam yang mereka ikat dengan tali dari kulit kayu kerteng.

Dalam kegembiraan anak-anak lainnya bekecipak air sungai, keduanya tampak murung. Duduk berjongkok sambil memegangi keenam ayamnya diantara orang-orang yang lalu-lalang di halaman masjid.

Basyar dan Gelingang Raya menghampiri keduanya setelah lingkungan masjid semakin sepi jamaah.

“Iya ayah, mereka adalah anak yang pernah menjual ayamnya kepada kita untuk membeli tepung untuk lepat megang”, kata Gelingang Raya kepada ayahnya.

Basyar menganguk-anggukkan kepala sambil mencoba mendekati kedua anak itu dengan bertanya.
“Kalian puasa nak ?”, tanya Basyar.
“Puasa pak !”, jawab salah satu anak yang paling besar dengan lemah lembut.
“Jual ayam ?, tanya Basyar lagi.
“Ya pak, untuk beli kain sarung dan mukena ibu. Untuk hari raya Idul Fitri nanti”, jawab anak itu.
“Beli baju baruku juga, untuk lebaran !”, celetuk adiknya dengan wajah penuh harap.

Sang abang hanya dapat tersenyum sendu. Ia pandangi wajah adiknya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. [SY] Bersambung

Baca Juga :

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian. 1

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian.2

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian.3

[Kisah] Putri Burung Mergah Dan Gelingang Raya Bagian.4

 

Comments

comments