Jurnalis Warga Opini Terbaru

Bisa Berteman Mengapa Harus Bermusuhan, Ada Sayang Kenapa Harus Benci!


Oleh ; Habib Makmor*

Kenapa harus bermusuhan kalau bisa berteman, kenapa harus membenci kalau bisa menyayangi.

Biarlah saya menyontohkan negara yg sering dijuluki dengan sebutan, negara dimana penduduknya paling bahagia di jagat raya. Scandinavia adalah negara yg menerapkan akhlaq dan moral dalam pendidikan dini, begitu anak masuk kls TK hingga umur mereka 7 tahun, akhlaq dan moralnya dulu yg dibetulkan, bukan agamanya. Hal ini mungkin juga sesuai dengan tugas pertama Rasullullah ketika beliau di utus ke muka bumi ini. Tak heran kalau anak kls 2 SD di negara ini belum bisa baca dan berhitung. Pepatah Melayu ada menyebutkan “MELENTUR BULUH BIARLAH DARI REBUNGNYA”; ternyata pepatah ini sangat berhasil di negeri yg masih mengekalkan sistem kerajaan mereka.

Bukan berarti semua orang disana baik dan tingkat kenakalan anak muda tidak ada, tapi kalau dibandingkn persentasi oknumnya dengan negeri kita yg punya lebel negeri serambi mekah ini maka bisa dikatakan, kita no wahid dalam soal “kejahatan” moral dan mental.

Melihat kenakalan remaja sekarang di bumi serambi mekah ini, adalah bukti nyata kegagalan kita mendidik anak anak seperti yg di amanahkan pepatah Melayu di atas. Pendidikan rumah dan disekolah sangat jauh beda, inilah yg membuat anak anak juga bisa menjadi bingung, apalagi sekarang diterapkan sistem mengajar yg dimana guru tak boleh marah apalagi memukul, sedangkan dirumah tak jarang anak yg mendapat cubit, pukul atau tampar. Inilah yg membuat anak anak jadi tidak tau harus berbuat apa, dirumah mereka tak berkutik, disekolah angkat bahu sehingga gurupun dilawan.

Di negara scandinavia juga sama persis dengan apa yg diterapkan disekolah disini, guru tak boleh berlaku keras terhadap murid, menampar, marah tak karuan sangat terlarang di sekolah sekolah manapun di negara itu. Tapi guru diwajibkan tegas dan mendidik disiplin serta mengajarkan makna respek terhadap sesama. Mungkin dinegeri kita ini masi banyak yg belum bisa membedakan antara tegas dan marah, karena kedua sifat ini hanya beda tipis sekali.

Lantas bagaimana kita harus menanggulangi masalah ini, sebenarnya Allah sudah menjelaskan cara menyelesaikan masalah ini dalam surah Ar-Ra’d yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka.” (QS 13:11)

Pengertian dari ayat di atas kurang dipahami oleh kebanyakan kita, pada dasarnya kita gak tidak perlu Demo atau teriak teriak dipinggir jalan kan, toh itu takkqn merubah segalanya, kalau iapun ianya akan mendapat akibat yg kadang kala menelan “korban”. Betapa cantiknya solusi yg diberikan Allah kepada kita untuk menyelesaikan sebuah masalah. Kalau kita percaya kepada Allah dan RasulNya kenapa kita gak ikut qalam Allah ini.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).

Disebabkan kita telah melupakan apa yg dikatakan dalam alquran dan hadis, maka tak heranlah sirkulasi mental dan moral kebanyakan oknum di Aceh sering tak nyambung, sehingga mereka seperti orang kehilangan arah dan terindikasi seperti orang punya gangguan jiwa. Tak heran janagankan dengan orang lain, orang tua sendiri disakiti dan ada pulak yg bertindak lebih sadis. Hilang hormat kepada pemimpin dan kepada ulama sudah biasa kita lihat sekarang ini, ditambah lagi senior yg kita anggap cerdik pendaipun sering hilang kendali, sehingga terkontaminasi kepada generasi muda.

Sangat disayangkan generasi muda kini banyak yg kehilangan kompas kehidupan, mereka tidak tau mau kemana dan apa tujuan hidupnya, sehingga banyak diantara mereka setelah habis kuliah ujung ujungnya menikah dan kembali menjadi petani atau nelayan.

Sebenarnya kalau kita mau jujur, peran pemerintah sangatlah besar dalam hal ini, membentuk karakter rakyat bisa juga dimulai dari para peerintahnegeri ini. Pemerintah yg baik pasti punya rakyat yg baik, pemerintah yg peduli pasti punya rakyat yg mawas diri. Kalau pemerintahnya hanya tau jalan sana sini tanpa ada effek ekonomi instan buat rakyat, maka sampai akhir jabatannya Aceh ini akan begini begini saja. Aceh ini perlu ekonomi instan bukan ekonomi jangka panjang. Takkan ada perubahan signifikan sama sekali kalau asyik berencana terus terusan, sedangkan acyionnya gak ada sama sekali.

Ekonomi instan yg dimaksud adalah, menggalakan rakyatnya mengelola dan membeli produk tempatan, tak usahlah garam, gula, telor dan tepung kentang harus dibawa dari luar Aceh, sebab di Acehpun belimpah ruah bahan bakunya. Tinggal saja bagaimana cara atau kebijakan pemerintah untuk membuat semua itu. Tapi secara pribadi saya katakan semua ini tentu kembali lagi kepada moral dan mental pemimpin pemimpin itu sendiri, kalau moral dan mental mereka model babu atau pengemis maka secara outomatis banyak rakyatpun akan ikut gaya pemimpin pemimpin itu. Tapi kalau pemerintahnya punya moral dan mental figter untuk memajukan negeri pasti rakyatpun akan termotivasi untuk lebih verinovasi.

Harapan kita untuk Aceh, baik itu yg menyangkut hablumminallah atau hablumminannas atau yg menyangkut tentang urusan kepemimpinan dan tentang urusan mengatur sebuah negeri, jangan kita keluar dari aturan dan sistem yg sudah dikatakan oleh Allah dalm ayat ayat di atas. Makanya kacau balau selalu menimpa diri kita, sebab dari semua ini “mungkin” kita sudah tak tau lagi siapa diri kita, atau istilah asingnya identity crisisless.

Mudah mudahan dari ayat tersebuet di atas, kita juga bisa mengambil kesimpulan, jangan harap pada Kelompok, partai, organisai, atau apa saja yang mirip dengan itu bisa merubah kita dan negeri ini, KITA yang bisa membuat kita dan Aceh ini menjadi apa saja yang kita mau.

*Pemerhati Sosial Budaya

Comments

comments