Inilah Gayo Keber Ari Gayo Sara Sagi Sosok Terbaru

Cincang Maman Pasukan Inen Mayak Teri


Oleh : Fauzan Azima*

Pertemuan Pasukan Muslimin atau grilyawan dari Kampung Delung yang dipimpin Reje Cik, Reje Mude dan Panglime Arif dengan pasukan Inen Mayak Teri yang difasilitasi Datu Cari yang bernama Saidah Uyang (1914-1959), pada tahun 1933 di tengah hutan belantara antara Kampung Jamat dan Kampung Bunin, Lokop Serbejadi sangat mengharukan.

Betapa tidak, belum pernah terlintas dalam fikiran raja dan rakyat, kalau Kampung Jamat dan Delung akan menjadi daerah operasi penjajah Belanda. Sehingga pertemuan dengan pasukan Inen Mayak Teri adalah seperti melihat cahaya di ujung lorong yang gelap. Besar harapan bahwa semakin ke depan cahaya itu semakin terang benderang.

Dalam pertemuan itu, merekapun akan merencanakan serangan terhadap Pos Pasukan Belanda sebanyak tiga peleton atau sekitar 60 orang pasukan di Kampung Kekepak, kampung yang berbatas dengan sungai Wih Jamat dengan Kampung Delung.

Setelah rencana penyerangan matang dengan melihat “langkah dan ketike” maka serangan yang tepat adalah pada pukul 03.00 dini hari. Peralatan perang pun mulai disiapkan; dari pedang bekunci, rudus (pedang berbentuk sabit), luju Aceh dan mermu (pedang pendek).

Datu Cari seorang perempuan muda yang berumur 19 tahun pada waktu itu dengan senjata mermu juga akan ikut menyerang pos Belanda di Kampung Kelepak bersama Pasukan Inen Mayak Teri demi mempertahankan harga diri, harta, nyawa, agama dan nasab (kesucian darah keturunan).

Penyerangan dimulai dengan menyembelih beberapa penjaga yang berjarak 25 meter dari pasukan Belanda yang sedang tertidur lelap, kemudian Pasukan Inen Mayak Teri menghancurkan lampu petromaks, maka mulailah mereka masuk ke tengah pasukan Belanda yang sedang tertidur dan menyerangnya dengan “cincang maman” yaitu mengayunkan pedang dengan tidak tentu arah karena senjata “Pasukan Muslimin” sudah diberi syarat, maka tidak akan melukai kecuali kepada pasukan Belanda.

Pasukan Inen Mayak Teri berhasil membunuh seluruh pasukan Belanda di Kampung Kekepak, tidak ada satupun yang tersisa. Penyerangan itu sangat rapi, sehingga pasukan Belanda yang berada di tangsi Blang Perbalen, Kampung Jamat yang hanya berjarak 2 kilometer dari Kampung Kekepak sama sekali tidak mencurigai kalau sudah terjadi penyerangan terhadap pasukannya karena tidak ada laporan.

Lokasi dimana Tangsi markas Belanda di Blang Perbalan, Kampung Jamat. (Ist)

Biasanya pada waktu-waktu tertentu sudah ada laporan tentang situasi keamanan dari Kampung Kekepak ke tangsi markas besarnya di Blang Perbalen, Jamat. Meski demikian, pasukan Belanda tidak serta merta masuk ke Kampung Kekepak karena pasukan muslimin mulai membakar bambu-bambu sehingga terdengar suara ledakan yang membuat pasukan Belanda mulai jatuh mental dan dirasuki ketakutan.

Dua hari setelah penyerangan Pasukan Inen Mayak Teri, dan yakin merasa aman dari Pasukan Muslimin baru Pasukan Belanda masuk ke Kampung Kekepak dan mendapatkan seluruh pasukannya sudah tewas. Mereka pun menggali dan menguburkan di markasnya, tempat mereka diserang karena sebagian dari mereka sudah mulai membusuk.

Aman Lina (keturunan Reje Mude) menunjuk kuburan massal pasukan Belanda. (Ist)

Setelah menguburkan seluruh pasukannya yang tewas, sejak itu pasukan Belanda tidak pernah lagi membangun pos di luar markas besarnya di Blang Perbalen, Kampung Jamat, kecuali untuk operasi-operasi mengejar pasukan grilyawan, tetapi tetap kembali ke markasnya. Terlalu berisiko bagi pasukan Belanda membangun pos di luar Kampung Jamat setelah “Peristiwa cincang maman” itu.

(Linge, 8 April 2019)

Comments

comments