Opini Terbaru

Bahagia Dalam Perspektif Mahasiswa


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni

Aristoteles merupakan seorang filosof Yunani klasik dengan julukan guru pertama atau bapak ilmu pengetahuan mengatakan bahwa tujuan tertinggi hidup manusia adalah kebahagiaan dan kebahagiaan manusia yang tertinggi adalah berpikir murni, Aristoteles seorang rasional maka kebahagiaan itu adalah berpikir.

Sementara kalangan sufi, Imam al-Ghazali (Hujjatul Islam) berpendapat, bahagia dan kelezatan yang sejati adalah “Bilamana dapat mengingat Allah,” kata beliau seterusnya, “Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu adalah bila kita merasakan nikmat kesenangan dan kelezatannya.” Orang modern yang berhaluan hedonisme, bahagia ketika mendapatkan harta banyak karena lebih suka terhadap kehidupan duniawi, lain lagi halnya dengan politisi; kebahagiaan dalam pandangan politisi melihat lawan politik susah.

Penjelasan di atas mempunyai pandangan masing-masing dari setiap orang tentang bahagia, si fulan berbeda dengan fulan lain dalam memahami dan merasakan kebahagiaan. Jadi, dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa kebahagiaan terletak pada pikiran kita sendiri. Manusia dalam menapaki kehidupan pasti mencari yang namanya kebahagiaan, kebahagiaan yang dicari berbagai macam caranya sesuai dengan apa yang dipikirkan.

Nah, berbicara bahagia dalam perspektif mahasiswa bagaimana? Mahasiswa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai pelajar perguruan tinggi. Seorang yang belajar di perguruan tinggi tentunya disiapkan menjadi seorang yang berintelek tinggi, menjadi penerang dan penyejuk bagi umat dan bangsa.

Disini kita bertanya kapan waktunya mahasiswa mendapat kebahagiaan, jika Aristoteles mendapat kebahagian ketika berpikir karena seorang rasionalis; maka mahasiswa, apakah pada waktu jalan-jalan ke pantai bersama kawan kampus, berkumpul di warung kopi atau menghabiskan malam di kos-kos membicarakan yang tak ada gunanya sama sekali bagi perkembangan intelektual. Jalan-jalan untuk menenangkan pikiran itu perlu dan berkumpul bersama kawan juga penting, namun permasalahannya apakah semua itu ada dampaknya bagi perkembangan intelektual itu sendiri?.

Menurut hemat penulis, melihat dari definisi mahasiswa yang telah disebutkan di atas maka untuk mencapai maqam gelar kebahagiaan dalam perspektif mahasiswa adalah bahagia dalam bidang intelektual.

Kebahagiaan intelektaual yang penulis maksud disini adalah menanamkan dalam hati untuk mencintai yang namanya membaca dan menulis. Tanpa membaca maka pengetahuan tidak bertambah dan berkembang, pikiran tumpul sehingga menghambat laju pemikiran. Begitu juga dengan menulis, tanpa membaca maka menulis pun otomatis tidak bisa dipraktikkan; padahal menulis merupakan kebutuhan bagi seorang yang berpendidikan.

Mahasiswa butuh yang namanya buku, membaca buku berfungsi untuk menajamkan pikiran, buku mempunyai makna dan hikmah yang terurai lewat kata-kata yang ada dalam lembaran-lembaran kertas membuka cakrawala pemikiran sehingga tidak jatuh dalam lembah kejumudan dalam berpikir, bahkan buku hidup dan bisa membangkitkan jiwa-jiwa yang gersang.

Dalam buku fenomenal “La Tahzan” karangan ‘Aidh al-Qarni, Ibnu al-Hazm berkata “Jika kantuk datang menyerang sebelum waktunya tidur, maka saya akan mengambil salah satu buku dari buku-buku hikmah. Dengan buku itu saya merasakan adanya gelora untuk mendapatkan nilai-nilai dan adanya kecintaan terhadap perbuatan-perbuatan baik yang menyeruak ketika saya mendapatkan sesuatu yang menarik dan yang meliputi hati dengan kebahagiaan. Ketika perasaan hati dalam kondisi sangat senang, membaca dan belajar akan lebih punya kekuatan untuk membangunkan daripada suara keledai dan bunyi reruntuhan yang mengejutkan.”

Sementara menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Demikian penjelasan Henry Guntur Tarigan dalam bukunya “Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa.” Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif membuat Islam bercahaya dan disegani diseluruh penjuru dunia, cahaya berasal dari Timur dengan perkembangan pengetahuannya lewat goresan-goresan pena yang berasal dari cendekiawan-cendekiawan muslim.

Mahasiswa identik dengan kebebasan dalam berpendapat dengan bahasa-bahasa kritis, bahasa tersebut berasal dari suara individu yang ingin didengar oleh khalayak ramai terutama para pemangku pemerintah. Dulu para mahasiswa menyeuarakan pemikirannya lewat demo, kini zaman telah berubah dan suara-suara mahasiswa yang kritis bisa didengar lewat tulisan dengan hadirnya dunia digital. Kekuatan bahasa lewat tulisan terkadang lebih dahsyat dan mampu menggerakkan tubuh dan jiwa.

Dalam hal ini, penulis Cina bernama Gao Xingjian yang meraih nobel sastra pada tahun 2000. Dalam pidatonya saat meraih nobel, Xingjian mengatakan “Penulis adalah orang biasa, barangkali ia lebih sensitif, meski orang yang sangat sensitif kebanyakan lebih lemah. Penulis bukanlah juru bicara orang banyak atau sebagai pengejawantahan kebajikan. Suara-suaranya sungguh lemah, meski suara individual ini memang lebih otentik.
Mahasiswa harus bahagia dalam bidang intelektual dengan menumbuhkan minat membaca dan menulis karena mahasiswa adalah harapan agama dan bangsa dalam melanjutkan estafet sejarah peradaban dunia. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan untuk giat dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Syaikh az-Zamuji dalam buku Ta’lim Muta’lim menyebutkan “Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna.

Niat seorang pelajar dalam menuntut ilmu harus ikhlas mengharap ridha Allah, mencari kebahagiaan di akhirat menghilangkan kebodohan dirinya, menghidupkan agama dan melestarikan Islam. Karena Islam akan tetap lestari kalau pemeluknya atau umatnya berilmu. Berbahagialah mahasiswa dalam bidang intelektual dengan luasnya ilmu pengetahuan sehingga peran mahasiswa dalam kehidupan bisa bermanfaat bagi agama dan bangsa. Semoga!

*Husaini Muzakir Algayoni: Kolumnis LintasGAYO.co. Alumni Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: delungtue26@yahoo.co.id

Comments

comments