Sastra Terbaru

[Cerpen] Biografi Singkat Pejuang Muda Dusun Krung Ringkel Gayo


Oleh : Ali Makmur*

Pagi itu hari ahad langit nampak cerah, cahaya keemasan dari ufuk timur menerangi dan menghangatkan suasana dusun kecil di daerah pegunungan seribu bukit, tepatnya di Dusun Krung Ringkel Desa Seneren. Pucuk-pucuk daun melambai tertiup bayu semilir seolah menyapa setiap penduduk yang lewat. Kicau burung parkit di pucuk padi dan tusam memanggil petani untuk segera bekerja.

Ya, Krung Ringkel dulu adalah sebuah dusun yang permai, tenteram dan damai. Penduduknya hidup penuh dengan kesederhanaan dengan usaha utama tanaman seree wangi, ramah-ramah, rukun, saling bertegur sapa penuh canda.

Namun suasana yang nampak asri tidak setenteram hati para penduduknya. Akhir-akhir ini penduduk dusun mulai merasa tidak nyaman sejak investor masuk desa mereka. Para investor itu pada awalnya disambut gembira oleh penduduk dusun Krueng Ringkel, Seneren dan Kunig Kurnia rela menjual sebagian lahan perkebunan, pertanian yang subur karena hendak didirikannya pembukaan jalan lintas untuk mencapai ke kebun mereka sesampai penggerusan dibeberapa titik gunung digerus terutama gunung Berhul, Kekemu dan Lakapan. Tapi, pada kenyataan sekarang bukan ketenangan yang dirasakan masyarakat tapi was-was terhadap terjadinya longsor dimasa yang akan datang.

Sore itu di pondok sawah milik penduduk desa Kuning ada sebuah pemuda mendengar sebuah berita/cerita dari selah satu anggota DPRK yang berasal dari masyarakat desa mereka duduk berlima orang yaitu sebut saja, Andri, Amran, Amril, Aseng termasuk Ampun mendengarkan dari ungkapan mereka yang sedang berbincang-bincang terkait pembanguan jalan menuju Gunung Berhul. Sebut Aseng.

“Apakah sudah kalian dengar rencana Pak Andri, tentang pembukaan jalan tempuh menuju kebun?” Amril memulai pembicaraan.

“Nah, itulah topik yang akan kita bahas kali ini,”sahut Amran. ”Bagaimana selanjutnya langkah kita, setelah kesewenang-wenangan mereka terhadap desa kita?” tambahnya.

Ampun nampak terdiam dan berpikir, ia yang sehari-hari bekerja sebagai petani bersama nenek dan kakeknya di dusun Krueng Ringkel yang tergelincir yang bercita-cita tinggi untuk kuliah sampai habis jenjang pendidikan. Dimana ia sering di ejek-ejek dan direndahakan teman-temannya karena kekurusan tubuhnya yang di tiup angin pun bisa terbang, di samping itu ia tetap sabar dan berkata dalam hati “aku harus bisa menyelesaikan apa yang aku mimpikan dan cita-citakan” tutur Ampun.

Ampun juga tidak bisa melarang dan berbicara banyak terkait pembicaraan investor itu karena dia masih kecil kalaupun berbicara pasti tidak akan didengarkan dan dia berharap agar do’a nya agar desa beliau terutama tempat dia tinggal di dusun Krung Ringkel tidak akan terjadi bencana yang akan datang. Pada saat itu Ampun memulai karir ingin mimpinya itu bisa tercapai setelah dia menempuh pendidikan di SD Rikit Baru pada kelas 6 yang ia dengarkan dari penjelasan guru IPA terkait bahaya lingkungan untuk keselamatan masyarakat.

Gejolak penduduk setempat sebenarnya sudah mulai muncul, untung Kepala Desa Seneren dan Kuning Kurnia orangnya arif, hingga dapat meredap kekecewaan penduduknya dengan harapan jalan yang didirikan dapat memudahkan jalur transfortasi dilalui kendaraan untuk mencapai kebun mereka yang sekarang banyak dari bujang-bujang sukses di bidang pertanian seree wangi ini. Saat ini yang terjadi di luar harapan semua, banyaknya terjadi turunnya material batu tanah dari pengunungan yang menyebabkan terjadinya longsor diberbagai titik yang berdampak terhadap keselamatan desa ini. Ketenangan desa Seneren benar-benar terusik, belum lagi niatan pemda setempat untuk memperluas perluasan pembukaan area jalan kembali dimasa yang akan datang.

Setelah hal itu semua pemuda kurus yang tinggal di sebuah rumah yang letaknya di persawahan bersama kakek dan neneknya, melanjutkan pendidikan SLTA N 1 di Kecamatan Rikit Gaib pada tahun 2004.

Sejak itu ia memulai karir pendidikan di bangku SLTA yang menempuh jarak sekitar 45 menit perjalanan kaki, perjalannya tidak mudah banyak rintangan yang harus di lewati baik dalam perjalanan maupun di sekolah karena pukul 5.30 ampun dan beberapa temanya juga sudah memulai start jalan kaki untuk menuju tempat sekolah. Pada tahun 2007 Ampun melanjutkan pendidikan ke SMK N 1 Gayo Lues. Disinilah ia kembali memulai karir untuk lebih jauh dari genggaman keluarga, disini ampun bertinggal di asrama selama 2 tahun yang banyak cobaan mulai dari kurangnya stok penyediaan air untuk keperluan masak, menyuci dan lain-lain.Kadang-kadang 1 hari sekali mandi itupun harus menempuh 15-20 perjalanan kaki.

Ampun yang kadang-kadang juga satu atau dua bulan sekali pulang kampung. Pada tahun ke tiga atau kelas 3 ia tidak sanggub lagi tinggal di Asrama karena banyaknya pengaruh lingkungan dari teman-teman ia sendiri dan pada akhirnya ia memutuskan berpindah kost berada di desa Bukit disini ia harus berpikir lebih keras lagi, akan tetapi semangat ia tak pernah rapuh demi cita-cita dan keinginannya karena banyaknya biaya yang harus dikeluarkan sampai-sampai ia harus menjadi pekerja pembersihan, mencangkul sawah tetangga sekitar dan bongkar muatan hal ini untuk menutupi kebutuhan yang ia keluarkan untuk sewa kost dan ongkos transfortasi menuju tempat ia sekolah.

Allhamdulillah walaupun banyak rintangan yang di laluinya selama SMK karir Ampun tetap bisa mempertahankan prestasi kerena selalu masuk dalam 5 besar terbaik kelas. Pada awal tahun 2009 ia kembali mengikut magang di Saree Kabupaten Aceh Besar selama tiga bulan, delapan bulan menjelang tamat ampun bercita-cita untuk kuliah di Yogjakarta, akhirnya sebelum ia melaksanakan ujian nasional (UN) Ampun mengambil jalur undangan sekolah tujuan Yogyakarta, Ampun kembali mengambil jalur undangan kedua yaitu tujuan Uneversitas Syiah Kuala.

Setelah pelaksanaan Ujian Nasinal dan Ujian Akhir Sekolah ampun memutuskan pulang kampung, sambil menunggu pengumuman kelulusan ia akhirnya membuat kebun cabe yang luasnya hanya seberapa, seiring waktu terus berjalan akhirnya kelulusan peserta undangan di umumkan oleh pihak sekolah dan ampun dinyatakan tidak lulus, walaupun tidak lulus ia tiadak mau berputus asa, disini ia juga mendapatkan rintangan ini karena tidak adanya lagi support-support dari banyaknya keluarga Ampun, terkecuali Ayah ia sendiri yang mensupportnya untuk tetap kuliah.

Pada akhirnya ia pergi ke Banda Aceh untuk mengikuti ujian test tulis di Universitas Syiah Kuala pada Tanggal 8 Juli 2010 akhirnya setelah menunggu pengumuman beberapa hari Ampun di nyatakan lulus pada program studi Peternakan, rasa senyumnya terus berggelora mendengar kelulusannya. Akhirnya ia melakukan pendaftaran ulang dan mencari kost untuk tempat tinggal bersama temanya Suardi seorang pemuda yang berasal dari kuta panjang selama satu tahun.

Pada tahun berikutnya Ampun kembali pindah ke rumah seorang dosen Fakultas Pertanian disana ia dapat pekerjaan untuk menanam rumput, memelihara ternak kambing dan itik. Hal ini membuat ampun tersenyum dan sangat bersyukur, disamping dia tinggal dengan bapak angkatnya tersebut ia bebas dari sewa kost dan makan sehari-hari dengan panutan ada hubungan mutualisme, ia sangat mensyukuri itu semua. Jadi, ia tinggal hanya fokus untuk mencari, menabung untuk mencukupi dan meringankan biaya kuliah dari orang tua.

Pada tahun 2013 ia kembali melanjutakan studi Strata 1 di fakultas yang sama, setelah mendengar pengumuman kelulusan rintangan kembali menghantuinya, ampun akhirnya menyerah dengan banyak ukt/spp yang dikeluarkan oleh pihak universitas 3.660.000/semester untuk tingkat mahasiwa yang melanjutkan, karena ia masih memikirkan adiknya yang baru lulus di universitas yang sama juga membutuhankan dana yang sangat banyak. Hal ini sangat memberatkan Ampun.

Dengan kesabarannya, banwa adiknya dinyatakan lulus beasiswa bidik misi. Mendegar informasi tersebut ia sangat bahagia dan sangat bersyukur kembali karena sudah sangat meringankan beban orang tua dan ampun. Sebelum 2 hari tanggal berakhirnya pembayaran uang pendaftaran ulang, ia berkonsultasi bersama semua keluarga famili untuk memberikan kutipan biaya untuk mencukupi semua kebutuhan biaya pendidikan untuk pendaftaran ulang, Alhamdulillah akhirnya kebutuhan ia terpenuhi berkat bantuan semua ranak famili dusun Krueng Ringkel, akhiranya ia tetap melanjutkan pendidikan Strata 1.

Pada semester berikutnya ia mengusulakan beasiswa BPPA akhirnya ia adalah salah satu yang masuk kategori penerima beasiswa tersebut dengan begitu ia kembali bisa membayarkan uang kuliah. Pada semester berikutnya ia bekerja dan menabung untuk untuk persiapan biaya kuliah berikutnya. Pada awal tahun 2015 ia kembali menyelesaikan pendidikan strata 1.

Sebelum wisuda Ampun melamar bekerja di laboratorum ilmu nutrisi dan pakan unggas di fakultas yang sama. Alhamdulilllah ia juga diterima bekerja disana untuk bantu bersih-bersih, analisis sampel penelitian, asisten dan bantu-bantu edit jurnal di bidang peternakan, 6 bulan bekerja ia berencana melanjutkan kuliah Strata 2, di tahun berikutnya akhirmya ia terus menabung untuk mencukupi kebutuhan yang 6 bulan kedepanya di buka pendaftaran.

Allhamduliah ia kembali bisa melanjutkan kuliah magister di bidang kesehatan masyarakat veteriner angkatan 2016, ia juga terpilih menjadi ketua kelas dari unit tersebut untuk bertanggung jawab dalam satu angkatan.

Enam bulan berjalan pendidikan magister ia kembali mengusulkan beasiswa pemerintah Kabupaten Gayo Lues melalui BAPELDA-BP. Alhamdulillah kembali diterima, ia dinyatakan salah satu mahasiswa penerima beasiwa tersebut, beban ia kembali terasa ringan dan ia sangat mensyukuri dengan adanya bantuan tersebut yang sampai tamat terus akan dibiayai di samping itu juga diberikan kembali SK mengabdi untuk menjadi dosen setelah selesai melaksakan pendidikan Magister.

Setelah selesai melaksanakan sidang tesis ia kembali ke dusun yang dicintainya Krueng Ringkel sesampai disana ia melakukan mengevaluasi daerah yang dicintainya kini telah menjadi sangat memperhatikan yang mana banyaknya pengerukan gunung baik letaknya di bagian wilayah timur, barat, selatan dan utara yaitu gunung Berhul, Berangin, Pepilo dan Uwer Rungkiie.

Melihat semua yang terjadi ia sangat bersedih dan merasa berang di hati, ampun bercerita banyak tentang bahaya lingkungan pada pada tetangga dekatnya “ Ike lagu ini soe delee e pengerokan i bur-bur dusun dan kampung kite ni, mera ye kase geh longsor kul” ungkap Ampun dalam bahasa Gayo. Karena tujuan pengerukan itu merupakan proyek yang bertujuan untuk membuka jalan yang manfaatnya hanya sementara tapi efeknya sangat membahayakan semua masyarakat sekitar terutama dusun Krung Ringkel, Seneren dan Kuning Kurnia.

Hari begitu cepat berganti, tak terasa ampun kembali di panggil menandatangani berita acara dan menanyakan terkait kelanjutan perjanjian sk yang di janjikan oleh pihak pemerintah daerah dan kembali mengusulkan pada Bupati untuk melanjutkan kuliah ke jenjang Strata 3.

Ampun juga mendatarkan diri pada program beasiswa LPDP pusat dan mejadi mahasiswa program Doktor Universitas Andalas Sumatera Barat. Alhamduliah ampun diterima di Universitas tersebut akan tetapi beasiswa yang ia ambil tidak lulus, kemudian ia kembali menunggu kelanjutan dan pengumuman beasiswa pemerintah daerah sampai semester genab tahun berikutnya. Pada bulan berikutnya ia juga melamar kembali bekerja di sebuah PT. Pakan dan Nutrisi Ternak di Medan tujuan Sumbar, disana ia juga diterima dan di tepatkan bekerja di Tanah Minang ochu Bangkinang.[]

Comments

comments