Catatan Redaksi Sara Sagi Terbaru

Pemerintahan Shafda ; Proyek Putra Mahkota dan Bawar Rakitan Bandung


Oleh ; Fauzan Azima*

Bahwa benar Shabela Abubakar dan Firdaus SKM (Shafda) telah dikukuhkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tengah priode 2018-2023, tetapi sayang seribu kali sayang tingkat kecakapan Shafda masih di bawah rata-rata masyarakatnya.

Ketidakmampuan mengelola isu dan kritisi tingkat ringan, sedang dan tinggi dari masyarakat Aceh Tengah selama satu tahun terakhir adalah indikasi rendahnya kecakapan Pemerintahan Shafda. Kritisi ringan seperti pemenuhan janji-janji kampanye saja tidak bisa diselesaikan dengan baik. Contoh soal, 2 hektar tanah per KK tidak dijawab sama sekali.

Begitu pula gaya Pemerintah Shafda, ketika masyarakat mengkritisi masalah dengan tingkat kerumitannya sedang, sudah pasti tidak mampu dijawab baik sungguh-sungguh maupun diplomatis. Contohnya, bahwa Shafda membangun hegemoni nepotisme (kekuasaan kekeluargaan).

Shabela kini menjabat Bupati Aceh Tengah, abang kandungnya, Ir. Tagore kini anggota DPR RI dan kini kembali sebagai calon, kemudian Rahmi keponakannya juga calon DPRK Aceh Tengah. Tampaknya keluarga ini ingin membangun dinasti politik baru di Aceh Tengah.

Kalau janji politik dianggap masalah rendah dan hegemoni nepotisme dianggap masalah sedang, tidak mampu diselesaikan oleh Pemerintah Shafda, konon lagi dengan masalah tingkat kerumitan masalah tinggi, seperti hegemoni bisnis yang dibangun oleh Putra Mahkotanya.

Proyek Irigasi Celala Rp. 4,7 M dikerjakan PT. Intan Mutuah Jaya dan Pekerjaan Jalan Wih Ilang Rp. 1,8 M dikerjakan oleh CV. Amal yang disebut-sebut proyek milik Sang Putra Mahkota, ditambah Sub kontrak dengan Hyundai untuk PLTA dan lahan parkir RS Datu Beru juga telah dikuasai oleh keluarga.

Sungguh Pemerintah Shafda jauh melenceng dari cita-cita awal yang akan menegakkan keadilan karena menganggap pemerintahan sebelumnya dianggap berat sebelah. Konstituen menganggap Shafda adalah cahaya diujung lorong yang selanjutnya masyarakat akan mengalami penerangan sempurna, namun apa yang didapat, semakin ke depan cahayanya semakin redup dan hilang.

Vulgarnya hegemoni nepotisme dan bisnis keluarga serta minimnya prestasi telah menjadi penyesalan bagi sebagian konstituen, namun Shabela sendiri dalam beberapa kesempatan menyatakan diri tidak akan maju kembali sebagai Bupati Aceh Tengah untuk priode selanjutnya, sehingga tim sukses hanya bisa gigit jari.

Apakah ada hubungan kecakapan dengan bawar sebagai simbol kekuasaan raja di Aceh Tengah? Karena bawar yang sebenarnya bahan dasarnya adalah uranium yang diwariskan dari raja sebelumnya, tetapi naifnya Pemerintahan Shafda memakai bawar rakitan Bandung sehingga tidak ada “nematan” raja yang cakap nan berwibawa pada mereka.

(Mendale, 8 Pebruari 2019)

Comments

comments