Hukum Inilah Gayo Lingkungan Terbaru

Menanti Kepunahan Pohon Pinus “Uyem” di Gayo?


Pohon Pinus dalam bahasa Gayo dikenal dengan sebutan Uyem, disinyalir akan punah di Dataran Tinggi Gayo. Uyem merupakan pepohonan yang kerap dihubungkan dengan kearifan lokal di bumi Reje Linge ini. Konon, Uyem telah tumbuh ratusan tahun di bumi Gayo.

Banyak yang bercerita, Uyem atau Pinus Merkusi yang hidup di Negeri Malem Dewa ini dibawa oleh penjajah Belanda. Namun, anggapan tersebut tidaklah mendasar. Menurut keterangan sesepuh masyarakat Lumut, Kecamatan Linge, Aman Dar, beberapa tahun silam kepada LintasGAYO.co menceritakan bahwa Uyem di Gayo tumbuh dengan sendirinya.

“Saya pernah menanyakan kepada orang tua saya, apakah Uyem ini ditanam oleh Belanda, orang tua saya mengatakan tidak benar, karena sebelum penjajahan Belanda datang ke Gayo, Uyem tumbuh subur dan pohonnya besar-besar,” cerita Aman Dar.

Ia melanjutkan, memang pernah ada Belanda menanami Pinus di Gayo, namun mereka tidak membawa benih dari luar, melainkan mengumpulkan benih-benih yang ada di hutan-hutan Gayo.

Masih banyak lagi, sesepuh di Gayo yang menyatakan hal yang sama dengan Aman Dar. Dengan demikian bisa disimpulan bahwa Uyem di Gayo merupakan tanaman asli.

Maestro seniman Gayo, AR Moese juga menyelipkan kata Uyem dalam lirik lagu ciptannya Tawar Sedenge (Rum Batang Nuyem si Ijo, Kupi, Bako e). Lagu tersebut kemudian dinobatkan sebagai hymne daerah Aceh Tengah. Mustahil sekelas AR Moese menulis lirik lagu tanpa melakukan riset mendalam terlebih dahulu. Almarhum pasti tahu betul bahwa Uyem menjadi salah satu tanaman khas di daerah penghasil kopi Arabika terbaik di Dunia tersebut.

Namun deso ni Uyem, makin kesini cukup mengkhawatirkan. Penebangan besar-besaran di era tahun 80-an dan 90-an oleh beberapa perusahaan termasuk PT KKA membuat Uyem di Gayo merana. Meski ada dilakukan penanaman kembali, namun masyarakat Gayo yang lahir di tahun 2000-an, jarang sekali melihat pohon Uyem yang besar.

Ditambah lagi, lambat laun habitat Pinus semakin terganggu. Cobalah tengok, disini utara dan selatan Danau Lut Tawar saat ini. Banyak Uyem yang mati. Belum diketahui apa penyebab Uyem-Uyem itu berwarna coklat dan tak lagi hijau.

Pernah beberapa waktu silam, LintasGAYO.co mengamati pohon-pohon yang mengering tersebut. Selain di deres dengan seenaknya terlihat juga batang Uyem juga mengalami sebuah penyakit. Konon orang bilang penyakit tersebut adalah anthrax.

Jika berhubungan dengan penyakit tanaman, kembali kita di khawatirkan dengan adanya bencana. Sebagaimana firman Allah SWT “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Ulah manusialah yang menyebabkan kematian Uyem di Gayo. Kerusakan demi kerusakan terhadap lingkungan terus dilakukan. Belum lagi perbuatan maksiat yang menjadikan negeri ini semakin hilang keberkahannya, bahkan Uyem pun  mulai enggan tumbuh.

Belum ada upaya serius dari Pemerintah Aceh Tengah untuk menjaga Uyem-Uyemnya. Yang ada malah, saling menyalahkan. Beberapa waktu lalu, Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar pernah meluapkan emosinya. Ia berujar, matinya Uyem di Gayo disebabkan oleh tidak adanyanya tanggung jawab pihak THL selaku perusahaan yang kini mengelola sebagian besar lahan Uyem di Gayo. Tak sampai disitu, pihak THL pun turut membalas serangan dari sang Bupati.

Kedua institusi ini mempertontonkan sandiwara kelas atas. Yang binggung ya tetap masyarakat awam. Tidak ada titik temu maupun solusi dari saling serang kedua belah pihak itu. Intinya, Uyem di Gayo tetap menangis di tengah saling serang Pemkab dan THL.

Belum lagi, masukkan perusahaan asing yang membeli getah Pinus. Hal ini membuat masyarakat memburu pohon-pohon pinus untuk di deres kemudian diambil getahnya. Pundi-pundi rupiahpun dihasilkan. Jadi bukan mustahil, saling serang kedua belah pihak tadi juga ada kaitannya dengan fulus.

Masyarakat awam yang menderes pun tak diberi ilmu. Mereka menderes sesuka hati, yang membuat Uyem semakin menjerit. Pohon-pohon Uyem kecil dideres dengan 4 sampai 5 kerukan. Hal inilah yang kemudian membuat, Uyem kesulitan untuk mengembangkan diri dalam bertahan hidup untuk kemudian perlahan mati.

Dengan demikian, diperlukan perhatian serius seluruh pihak dalam menjaga Pinus di dataran tinggi Gayo. Pohon Uyem yang identik dengan Gayo, harusnya dijaga sedemikian rupa, sehingga bumi Gayo tetap hijau dan lestari. Jangan ada pihak yang terus-terusan saling menyalahkan. Harus ada solusi mengatasi permasalahan tersebut. Tinggalkan kepentingan sesaat untuk anak cucu kita kelak.

[Darmawan Masri]

Comments

comments