Bage Inilah Gayo Terbaru

Bojok, Wadah Penyimpanan Garam Khas Gayo yang Hilang


Catatan : Darmawan Masri*

Setiap daerah punya ciri khas tersendiri. Ciri khas itu dijadikan sebagai kearifan lokal di daerah tersebut. Banyak dari ciri khas itu, terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Salah satunya adalah labu air atau labu sayur.

Menurut wikipedia, labu sayur merupakan sejenis labu yang buahnya dapat dijadikan sebagai sayuran saat masih muda. Namun saat tua, banyak yang menjadikan sebagai ciri khas daerahnya sebagai wadah penampung air, tabung, kantung hias hingga kotekanya orang Papua. Labu air masih berkerabat dekat dengan beligo dan rasanya pun bermiripan. Bentuk buahnya bervariasi, mulai dari membulat hingga lonjong memanjang.

Tumbuhan ini diketahui sebagai salah satu tanaman budidaya tertua, namun ditanam bukan untuk bahan pangan melainkan untuk dijadikan alat rumah tangga.

Di Gayo sendiri, labu sayur dikenal dengan sebutan lokal sebagai labu manis. Selain digunakan sebagai salah satu jenis sayuran, labu manis juga kerap dijadikan sebagai tempat penyimpanan garam.

Pemilihan labu manis tua sebagai tempat penyimpanan garam bukan tanpa alasan, karena dapat menyimpan garam dalam waktu lama. Proses pembuatannya pun terbilang gampang-gampang susah.

Isi dari labu tua tersebut diambil secara perlahan dari bagian atas, hingga berbentuk tabung, emudian dijemur hingga kering. Setelah jadi, urang Gayo menamakannya dengan Bojok alias tempat penyimpanan poa (garam-red).

Namun dalam catatan LintasGAYO.co, kini Bojok mulai di tinggalkan. Penulis sendiri belum mengetahui pasti kapan terakhir Bojok digunakan sebagai wadah peyimpan garam.

Terakhir, penulis melihat Bojok masih digunakan sekitar 15 tahun lalu di salah satu peruweren (kandang kerbau-red) di Kawasan Blang Rakal yang saat ini masuk wilayah administratif  Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.

Amatan kami, saat itu para peternak Sapi dan Kerbau di kawasan itu, masih menggunakan bojok sebagai tempat penyimpanan garam. Namun kini, Bojok sepertinya sudah tidak lagi digunakan oleh masyarakat Gayo.

Boleh jadi, tidak dipakainya lagi wadah ini karena dianggap tidak lagi ekonomis dan mudah pecah. Lain sisi, peran Bojok bisa jadi telah digantikan oleh wadah lain yang lebih gampang ditemukan di pasar-pasar.

Meski tidak lagi digunakan sebagai penyimpan garam, namun Bojok kerap terlihat di ajang pameran-pameran budaya sebagai pajangan dengan tambahan ukiran Kerawang Gayo yang khas. []

Comments

comments