Sastra Terbaru

Kado Seniman untuk “Inen Mayak” Zuliana Ibrahim


TAKENGON-LintasGAYO.co : Pernikahan penyair Gayo Zuliana Ibrahim dengan Al Ikhlas Permata pada 15 Desember 2018 di Takengon disambut gembira oleh sejumlah seniman.

Ungkapakan kebahagiaan untuk Inen Mayak Zuliana itu diungkapkan melalui karya berupa puisi yang merupakan genre seni yang digeluti oleh Zuliana selama ini.

Ucapan kebahagiaan melalui karya itu diantaranya disampaikan oleh Fikar W Eda dan Devi Komalasyahni dari Jakarta, Salman Yoga S, Win Gemade dan Asmira Deni dengan judul puisi “Janji Desember” serta Sulaiman Juned dari Padangpanjang Sumatera Barat dengan judul puisi “Percakapan Cinta :Kepada ananda Penyair Zuliana Ibrahim”.

Berikut petikan puisi-puisi untuk pengantin Gayo Zuliana Ibrahim dan Al Ikhlas Permata.

“Selamat kepada Zuliana Ibrahim dan lelakinya,
Mempalai penuh karunia,
Desember mengirimkan doa,
Bagi kemuliaan kemudi dan perahu
Melayari samudra”
(Fikar W Eda & Devie Komala Syahni)

“Percakapan Cinta
: Kepada ananda Penyair Zuliana Ibrahim
menanggalkan
malam sambil menjahiti
hati di atas perahu.
: setiap keluh kembalikan ke diri.

Menanggalkan
malam jangan pernah menakar isi kepala
sedang angin mengerat rindu di senyap renyai
: selamatkan saja hati agar ada tempat berbagi
Ah!”
(Sulaiman Juned)

“Tiba di sini
Di pelabuhan Desember
Dua anak adam merajut janji
Dari satu kata lahirkan ribuan rasa
Dalam takdirNya tercatat rahasia sebait janji di Desember

Berlabuhlah.
Karena waktu bukan lagi aku tapi ada kau di denyut harapan
Hujan kemarin jadikan pelangi di hari ini dan esok”
(Asmira Deni)

“Diimami lelaki dari Ujung Nunang puisilah yang terhidang
di pagi hingga malam merengkuh makna
sampai matahari demikian terik menyapu peluh”
(Salman Yoga S)

“Di Ujung Hari
malam beguru yang kau gelisahkan itu telah berlalu di sudut ranjang
menunggu laut pasang
bulan penuh di langit-langit kamar
jemari kecilmu yang dilumuri inai
menyembunyikan musim

malam beguru yang kau gelisahkan itu telah berlalu
pelaminan hanya tahta bagi taarufan
di bibir ranjang kau tersipu
memilah-milah masa kecil dan menanti musim yang akan menghampiri

malam beguru yang kau gelisahkan itu telah berlalu
suara canang telah menghilang
bisik-bisik di luar jendela pun telah menjauh
esok hari atap rumah telah berubah
beranjaklah
kesetiaan tak cukup dengan segelas kopi yang kau hidangkan”
(Win Gemade).

“Langkah melanglang ribuan kilometer dari tembuni
Negeri dan kota-kota dijajaki dengan puisi
Tuhan menghendaki tambatan hati
Lima langkah tempat berlabuh.”

(Zuhra Ruhmi)

[AR]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *