Sastra Terbaru

[Cerpen] Cerita Penulis

Oleh : Waddah Safitri***

Pagi ini kumulai dengan duduk di kursi malas kesayanganku. Di samping jendela, di bawah pohon. Buku di pangkuan dan ballpoint di tangan kanan. Dengan anggun kumulai menorehkan sebuah huruf.

“Ipak*, sapu dulu ruangan. Itu ruangan belum bersih-bersih. Udah 10 tahun sejak kucing kita masih anak satu.” Ine memanggilku. Walaupun kutahu kami tidak punya kucing. Hanya harimau peliharaan. Itu pun punya Pak Usman, tetanggaku yang bekerja di kebun binatang. Dan harimau itu juga di kebun binatang.

Akupun bersicepat bergerak bersih-bersih ruangan. Ini minggu pagi. Teman-temanku yang lain asyik senam jantung sehat di Sanggamara.

Saat bersih-bersih, kutemukan harta karun yang banyak. Harta karun itu kuletakkan begitu saja di samping pintu dapur tanpa minat.

Aku mulai lagi duduk di kursi malasku. Baru saja tanganku menggapai buku di sampingku, Ine kembali memanggilku. “Ipak, kenapa baju-baju kotor ini tidak dicuci terus?” Tanyanya menunjuk harta karun tadi.

Sambil nyengir aku kembali beranjak meninggalkan kursiku, mulai mencuci baju satu-persatu. Tidak bisa sekalian cuci, karena tanganku hanya dua.

Selesai mencuci, aku bergegas ke kursi malas lagi. Kuambil buku lalu membukanya.

“Ipak, makan siang dulu.” aku nyengir kuda kesekian kalinya.

“Iya, Ne… Sebentar…” jawabku.

“Makan sekarang. Tudung saji mau ditutup rapat.” Kata Ine mengancam.

Aku bergegas ke dapur. Kalau tudung saji ditutup rapat berarti gak boleh sembarangan diubek-ubek lagi.

Selesai makan, berlanjut kucuci piring agar kegiatan menulisku tidak diganggu lagi. Kucuci semua. Cuci piring, cuci gelas, cuci mangkok, cuci otak, hehehe.

Selesai. Akhirnya aku duduk lega sekali lagi di kursi malasku. Sejenak menghela nafas. Kemudian mulai membuka buku dan mengangkat ballpoint-ku ringan. Semua pekerjaan telah selesai.

“Ipak…”

Yaaa ampuuun…

Mataku memutar sadis.
“Ipak, baju tadi kenapa tidak dijemur?” Tanya ine geram.

Aku tepok jidat. “Iya, Ne… lupa.”
Hehehe. Aku nyengir kuda. Buru-buru ke belakang rumah, menjemur baju, takut dipecat jadi anak. Minimal nanti aku ditukartambah sama anak orang. Hiiiyyyy…

Selesai jemur baju, lagi-lagi aku kembali ke kursi malas dengan deg-degan.

“Ipak…” Arghhh… kali ini aku merasa seperti minum baygon. Di dada rasa-rasa terbakar. “Ine Berangkat arisan dulu ya…” Sambung Ine. Tiba-tiba saja Ine sudah memakai baju merah, jilbab merah muda, celana merah maroon, sepatu merabella, dan tas merah tua.

“Oh iya, Ne, hati-hati di jalan.” Kataku sumringah, seperti dapat uang 9.999.999 rupiah di super deal.

Setelah Ine pergi, aku mulai mengumpulkan segenap konsentrasi dan mulai menulis lagi. Namun tiba-tiba saja Juleha datang.
” Afiiikaaa…” Deg!
” Iyaa… ” Jawabku asal.
” Main yuuukk…”

Jedarrr!!! Bunyi petir.
Aku terkejut bukan main. Bukan karena petirnya, tapi karena ada yang ajak main.

“Hayuk.” Balasku riang gembira tak terkira sambil beranjak.

“Eitss.. tunggu dulu!” Kataku lagi sambil memutar tubuh ke kursi malas, teringat bukuku.

“Kenapa?” Tanya Juleha penasaran.

“Ini, aku sedang buat pe-er menulis, disuruh guru olahraga.” Kataku sambil menulis di buku cepat-cepat.

“Sejak kapan guru olahraga suruh menulis?” Tanyanya bingung.

Aku tidak peduli dan menutup bukuku.
“Selesai.” Kataku puas. Meletakkan buku di kursi malas dan menarik Juleha yang kebingungan keluar pagar rumah.

Bukan hanya Juleha. Sungguh! Hanya dia, guru olahraganya dan Allah SWT saja yang tahu dia tulis apa secepat petir menyambar tadi itu.

Catatan :
*Ipak : panggilan untuk anak perempuan (Bahasa Gayo)
**Ine : ibu (Bahasa Gayo)

***Waddah Safitri, lahir pada 19 Maret 1993. Staff Koperasi alam Gayo dan Kabid Danus FLP Takengon ini memiliki hobi menulis dan membaca.

Comments

comments