Sara Sagi Terbaru

Morfologi dan Pembagiannya


Oleh : Evi Mariani*

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan pasti akan selalu memerlukan bantuan manusia lainnya. Oleh karena itu, bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia untuk membantu manusia berkomunikasi. Maka sangat penting bagi manusia mempelajari ilmu linguistik.

Linguistik merupakan ilmu yang mempelajari tata bahasa, baik dari segi penyusunan kata-katanya, cara mengucapkannya, memahami maknanya, dan lain-lain.

Morfologi membahas tentang seluk-beluk bentuk kata, serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna (arti) dan kelas kata. Morfologi dapat kita artikan sebagai suatu ilmu yang di dalamnya membahas tentang morfem-morfem dari suatu bahasa.

Sedangkan arti morfem merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna dan ikut mendukung makna. Maka pemahaman kita bidang morfologi akan melibatkan unsur yang memiliki makna/morfem bebas dan unsur yang ikut mendukung makna/morfem terikat.

Sebenarnya ada banyak pembagian dari morfem yaitu morfem bebas dan morfem terikat, morfem utuh dan morfem terbagi, morfem segmental dan morfem suprasegmental, morfem beralomorf zero, morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal, dan morfem dasar, bentuk dasar, pangkal, dan akar. Namun secara umum, morfem itu terbagi ke dalam dua bagian yaitu morfem bebas dan morfem terikat. Nah, sekarang kita akan menguraikan dari dua morfem tersebut.

Morfem bebas yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri. Artinya morfem ini dapat muncul dalam penuturan dengan tanpa harus di dukung dengan adanya morfem lain. Contohnya: makan, bangun, tidur, rumah, dan lainnya. Morfem ini dapat digunakan langsung di dalam tulisan maupun percakapan secara langsung tanpa mengalami proses afiksasi.

Sedangkan arti dari morfem terikat yaitu morfem yang tidak bisa langsung ada dalam penuturan tanpa adanya gabungan dengan morfem lain. Contohnya: juang, henti, gaul, baur, dan sebagainya. Kata-kata tersebut dapat digunakan dalam penuturan jika sudah mengalami proses morfologi seperti afiksasi, reduflikasi, dan komposisi.

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada bentuk dasar. Dilihat dari bentuk peletakkan nya pada bentuk dasar, biasanya dibagi tiga yaitu prefiks/awalan, infiks/pertengahan, dan sufiks/akhiran.

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi. Oleh karena itu lazim dibedakan adanya reduplikasi penuh yang contohnya seperti meja-meja. Reduplikasi parsial yaitu contohnya seperti lelaki dari dasar kata laki. Kemudian komposisi yaitu hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang baru.

Komposisi terdapat dalam banyak bahasa. Misalnya lalu lintas, daya juang, rumah sakit, dan lainnya.
Kemudian menurut Tarigan (1995: 45) morfologi dapat dibagi menjadi dua tipe analisis yaitu morfologi sinkronik dan morfologi diakronik.

Morfologi sinkronik menelaah tentang morfem-morfem bahasa dalam satu cakupan waktu tertentu baik waktu lampau ataupun waktu kini. Pada hakikatnya, morfologi sinkronik adalah suatu analisis linier, yang mempertanyakan apa-apa yang merupakan komponen leksikal dan komponen sintaksis kata-kata dan bagaimana caranya komponen-komponen tersebut menambahkan, mengurangi, atau mengatur kembali dirinya di dalam berbagai ragam konteks.

*Evi Mariana, lahir di Takengon, 17 Maret 1998. Tulisan ini merupakan tugas matakuliah Morphology dengan dosen pengampu Muhammad Hasyimsyah Batubara, M.Hum.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *