Buku Opini Terbaru

Aceh Tersungkur, Apakah ALA Terkubur?


Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Dr. Yusra Habib Abdul Ghani, SH salah satu penulis handal yang dimiliki provinsi Aceh. Tulisan-tulisan beliau mampu menggerakkan pikiran karena diwarnai dengan sentuhan kata-kata yang memancing emosi untuk melakukan penalaran secara mendalam dan kritis.

Tulisan beliau dengan karya terbarunya ‘Aceh Tersungkur’ (Bandar Publishing, 2018) yang sempat dibedah di fakultas Ushuluddin dan Filsafat bersama prodi Aqidah dan Filsafat Islam, 5 Oktober 2018.

Aceh tersungkur tak terlepas dari tangan dingin dan otak cerdas Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis ternama yang pakar dalam antropolog agama. Bagi kalangan intelektual Aceh dan terlebih khusus mahasiswa yang bergelut dalam bidang sejarah tidak mengenal yang namanya Snouck “Sungguh Terlalu” kata bang Haji Rhoma Irama, walaupun ia pakar dalam bidangnya namun ia adalah seorang antropolog bajingan kata Yusra Habib Abdul Ghani karena mempunyai sikap ‘double standard.’

Dalam buku Aceh Tersungkur yang objek kajiannya hanya terfokus antara tahun 1901-1950, periode (1901-1950) merupakan fase kritikal dan penentu masa depan Aceh. Kemudian kronologi peristiwa yang melatarbelakangi Aceh jatuh tersungkur ditandai dengan bertukarnya status Aceh dari sebuah negara berdaulat dan merdeka menjadi sebuah Residen (1938-1942) di era kolonial Belanda; Residen (1942-1945) semasa pendudukan Jepang; Residen (1945-1949) di bawah pemerintahan RI dan menjadi provinsi di bawah pemerintahan RIS (1949-1950) dan NKRI (1950). Untuk mengetahui lebih jelasnya secara mendalam, pastikan pembaca budiman untuk membacanya dalam Aceh Tersungkur: Suatu Analisa dan Crituque Sejarah 1901-1950.

Setelah Aceh tersungkur kini saudaranya bernama ALA yang ingin lahir malah tidak lahir, setelah sekian lama provinsi Aceh terbentuk; muncul usulan dari politisi untuk memecah provinsi Aceh dan melahirkan provinsi baru yaitu Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABAS).

Hiruk-pikuk isu ALA sempat memanas dikalangan masyarakat dan politisi, khususnya saat-saat tahun politik atau menjelang pemilihan calon legeslatif. Kini isu ALA menghilang dari peredaran isu politik menjelang pemilihan calon legeslatif 2019, kemana perginya ALA? Atau sudah terkubur?

Pada masa pudaha para tokoh ALA begitu berapi-api dalam mengeluarkan argumen dan penuh dengan janji-janji. Salah satu argumen tersebut berbunyi seperti ini “Datangi saya, tampar saya jika saya berbohong tidak mensejahterakan masyarakat Gayo” sebuah argumen indah nan mempesona dari Ir Tagore Abubakar, salah satu politisi yang paling getol ingin melahirkan ALA. Argumen indah nan mempesona ini disampaikannya pada diskusi terbuka poros ALA-ABAS di 3in1 coffee Banda Aceh, 3 Juni 2014 silam setelah ia terpilih menjadi orang terhormat (anggota DPR-RI) yang melayang ke senayan dengan suara rakyat.

Apakah beliau masih ingat dengan argumen tersebut yang ia ucapkan dihadapan mahasiswa dan beberapa kalangan yang hadir malam itu di lantai atas 3in1 Coffe yang beratapkan langit, disinari cahaya lampu remang-remang dan sinaran rembulan. Dari beberapa berita yang penulis baca argumen-argumen dari politisi Tagore Abubakar beserta politisi lainnya ALA akan lahir karena telah diperjuangkan di parlemen kata anggota dewan terhormat ini.

Kini sudah di ujung tahun 2019, mungkin beliau-beliau yang telah menggenggam kursi DPR-RI sudah lupa dengan kalimat tersebut. Oleh karen itu, tulisan ini ditulis oleh penulis hanyalah melawan lupa dan sebagai rakyat biasa untuk mempertanyakan janji-janji manis dari tokoh ALA beserta pengikutnya yang telah membawa nama raykat untuk kepentingan politiknya karena sampai sekarang ALA belum juga lahir sehingga sudah dua kali berhalangan hadir dalam pemilu 2014 dan 2019. Lagi-lagi pertanyaannya adalah, kemana perginya ALA? Atau sudah terkubur?

Janji-janji dari tokoh ALA untuk melahirkan provinsi baru dengan alasan diskriminasi terhadap masyarakat Gayo, alasan ini disampaikan oleh Tagore sendiri pada malam itu juga di 3in 1 Coffee. Tagore mengatakan “Bahwa saya membela kaum diskriminasi di Aceh” selain itu juga beliau mengatakan “Dalam sidang paripurna akan saya sampaikan.”

Selain Tagore Abu Bakar, Armen Desky juga pernah mengatakan “Provinsi ALA harus segera terbentuk bahkan paling lama sebelum akhir 2013 sudah terealisasi, target kita bisa ikut pemilu legeslatif 2014” Serambi, 02/2013. Dalam hal ini penulis ingat dengan ungkapan Churcill, ia mengatakan “Seorang politisi memiliki kemampuan mengatakan sesuatu yang akan terjadi pada hari esok, bulan depan, tahun mendatang serta menjelaskan mengapa semua yang dikatakannya itu tidak pernah menjadi kenyataan.”

Penulis mempunyai pandangan bahwa ALA hanya sebagai alat politik untuk memuluskan cita-cita politisi dalam mencapai keinginan politiknya. Pandangan penulis diperkuat oleh penelitian Astri Sulastri (Mahasiswa Ilmu Politik) dalam skripsinya dengan judul “Strategi Pemenangan Tagore Abu Bakar Pada Pemilihan Umum Legeslatif DPR-RI Tahun 2014” pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Hasil dari penelitaan Sulastri menghasilkan bahwa ada empat strategi politik yang digunakan Tagore Abubakar pada pemilu legeslatif DPR-RI tahun 2014, salah satunya ialah “Strategi isu politik yaitu isu pemekaran Provinsi ALA.” Dengan isu ini sehingga Tagore melenggang ke Senayan dengan memperoleh suara tertinggi 64. 159 dari suara keseluruhan partai 110.021. Perolehan suara di Aceh Tengah: 30.980 dan Bener Meriah: 30.355. (Catatan: Hasil penelitian skripsi dengan judul “Strategi Pemenangan Tagore Abu Bakar Pada Pemilihan Umum Legeslatif DPR-RI Tahun 2014” yang penulis lampirkan dalam tulisan ini telah mendapat izin dari Astri Sulastri).

Aceh Tersungkur, Apakah ALA Terkubur? Kalau terkubur, apakah akan bangkit kembali? Kita nantikan episode-episode selanjutnya dalam pentas perpolitikan yang terkadang membawa muak dan kerusakan, di lain sisi politik membawa manfaat bagi masyarakat yang diperankan oleh politisi-politisi yang tidak sontoloyo.

*Penulis: Kolumis LintasGAYO.co

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *