Opini Terbaru

Menjadi Santri di Era Digital


Oleh: Ahmad Dardiri*

Catatan Hari Santri Nasional 2018

Hari ini 22 Oktober 2018 Saya mengikuti upacara peringatan hari santri sebagai undangan yang disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama melalui Kelompok Kerja Kepala Madrasah. Pelaksanaan upacara dipusatkan di halaman Kantor sekretariat wilayah daerah Kabupaten Aceh Tengah.

Sebagai mana kita ketahui bahwa hari santri nasional adalah merupakan keputusan yang ditandatangani Presiden Joko Widodo sebagai Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Keppres tersebut ditandatangani pada Kamis (15/10/2015) empat tahun lalu.

Merupakan suatu kebanggaan bagi saya dapat mengikuti upacara peringatan hari santri nasional, setidaknya ini mengingatkan pada saya bahwa sekalipun tidak pernah “nyantri” tapi pernah dididik “ala santri” dari bangun tidur hingga akan tidur kembali.

Ada beberapa hal yang saya nikmati pendidikan “ala santri “, seperti kesederhanaan, kerja keras, keikhlasan, disiplin terutama dalam ibadah, cinta ilmu, kemandirian, kejujuran. Dan tentu ini tidak seberapanya, masih banyak lagi karakter mulia yang didapati oleh para santri yang pernah menjadi santri di pesantren atau dayah.

Karakter mulia itulah yang melahirkan para santri untuk selalu mengambil peran dalam gerak bangsa Indonesia, dari jaman penjajahan hingga kini kiprah mereka tidak dapat diabaikan. Maka sangat wajar maju dan mundurnya bangsa ini terkait erat dengan keberadaan santri sebagai aset bangsa tanpa dan dengan bantuan pemerintah telah melakukan sumbang sih yang tidak kecil bagi bangsa ini.

Di sini saya tidak menuliskan banyaknya karakter mulia santri, saya salah satunya adalah cinta ilmu. Tiada hari tanpa belajar itu sangat terasa, demikian cerita Abu Musodik seorang penghulu di KUA Jagong Jeget. Di dalam rasa mengantuk masih mendengar teman santri yang membaca dengan suara sesuka mereka dengan buku/kitab atau Alquran di tangannya. Sehingga mata dan telinga para santri selalu melihat dan mendengar ilmu.

Penuturan anak saya yang juga juga seorang santri menguatkan hal ini. Katanya di pesantrennya, mereka dari bakda shalat jamaah Isya hingga pukul 23.00 para santri wajib keluar dari kamar tidurnya untuk membaca, baru sesudah itu boleh tidur. Betapa kuatnya belajar mereka, dan kita tahu bahwa semua amal kita baik yang urusan dunia apalagi agama akan lebih kokoh bila berdasarkan ilmu.

Karakter cinta beribadah juga merupakan salah satu yang dimiliki santri. Bagi santri shalat berjamaah merupakan pekerjaan rutin, mereka akan kena sanksi bila ditinggalkan kecuali berhalangan sesuai aturan pesantren atau dayah. Kita dapat saksikan sendiri, bila ada jamaah yang rajin di sekitar lingkungan rumah kita, biasanya mereka adalah santri meskipun ada juga di antara mereka bukan santri.

Saya melihat ada dua karakter di atas dimiliki beberapa orang. Mereka sangat rajin menggali ilmu agama khususnya, padahal latar belakang mereka alumni sekolah atau perguruan tinggi umum. Ternyata mereka rutin melakukan kajian di rumahnya, aktif di pengajian masjid atau musalla dengan jadwal yang telah ditentukan. Narasumbernya bahkan dari luar daerah. Mereka menghidupkan suasana pesantren dalam rumah tangga dan kelompoknya. Mereka aktif membuka website, membentuk group WA, facebook, setia mendengar atau menonton televisi dan radio, dan beberapa media belajar lainnya. Mungkin mereka ini adalah santri era digital. Hasilnya boleh jadi beda dengan santri yang berjibaku di alam pesantren secara nyata, tetapi rasanya tetap bermakna. Ayo jadi santri, selamat hari santri….

*Kepala MTsN 7 Aceh Tengah

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *