Politik Sara Sagi Terbaru

Korban Politik Akan Merasakan Sempitnya Dunia


Oleh : Fauzan Azima*

Pertengahan 2019 kita sudah mulai memilih Presiden dan Wakilnya serta calon legislatif. Kalau tidak halangan kita sudah punya Presiden dan wakilnya serta anggota legislatif untuk periode selanjutnya pada akhir tahun depan.

Bagi Presiden dan Wakilnya serta anggota legislatif yang tidak terpilih memang sudah resiko, dalam setiap pertarungan pasti ada yang kalah dan menang. Pemain harus siap menerima konsekuensi apapun hasil akhir pertandingan.

Masalahnya kita sebagai masyarakat pemilih, mau tidak mau harus terlibat dalam memilih dan menunjukkan kemana kita berpihak. Tidak ada istilah netral. Orang yang tidak memihak selalu menjadi korban. Negeri kita belum siap menerima kata “profesional”. Orang netral dan kalah selalu menjadi korban politik.

Ketika pasangan Presiden dan Wakilnya serta anggota legislatif yang menang akan menyusun menteri atau jabatan tetek bengeknya lainnya selalu mempertanyakan, ketika pemilu lalu kemana kiblat dan dukungan jelas orang yang akan dipilih menempati jabatan.

Tidak peduli apapun gelarnya. Meskipun bergelar profesor sekalipun kalau dia pendukung pihak kalah, akan dibuang jauh-jauh. Sebaliknya walaupun sarjana S-1 kalau pendukung yang menang tetap akan dipakai.

Memang zamannya, mau tidak mau, suka tidak suka harus menentukan pilihan jelas sebagai tim sukses calon Presiden dan Wakil serta memilih siapa di antara calon legislatif yang kita dukung.

Karena itu, pandai-pandailah membaca tanda-tanda zaman, tentukan pilihan kita kepada pemenang, karena sehebat dan sepanjang apapun gelar kita sebagai pemilih, kalau menempatkan posisi pada calon kalah akan merasakan sempitnya dunia. Orang kalah dan pengikutnya selalu dianggap penjahat perang dan dikategorikan melawan penguasa yang akibatnya, dalam pepatah Gayo, “Melawan Raja, sempit dunia.”

(Mendale, 18 Oktober 2018)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *