Sastra Terbaru

Memori Suara Azan


Oleh : Himmah Tirmikoara, M.Pd

Setelah menikah, keesokan harinya saya diantar beramai-ramai oleh keluarga ke rumah suami yang jaraknya dekat, dipisahkan oleh sebuah masjid sehingga rumah orang tua dan mertua saja tidak saling kelihatan.

Sejak itu kami menempati kamar depan yang apabila jendelanya dibuka yang pertama tampak adalah masjid pemisah rumah kami tadi.

Rumah kami ini letaknya di sebuah buntul, yaitu tanah yang tinggi, sementara masjid tadi letaknya di bawah, jaraknya sekitar 20 meter saja dari rumah kami. Oleh karena itu rumah mertua saya berhadapan dengan kubah masjid yang salah satu toa-nya langsung berhadapan dengan depan rumah, termasuk kamar yang kami tempati.

Dengan posisi toa yang sebegitu dekat, sejak hari pertama itu saya mulai bersahabat dengan suara azan dan suara pengajian lewat masjid yang suaranya sangat keras. Sangkin dekatnya, saya sampai mendengar setiap desahan, tarikan napas serta batuk-batuk kecil orang yang melantunkan azan.

Betapa saya sangat menikmati alunan azan dan sangat sampai sekarang masih ingat irama berbagai muazin yang menemani hari-hari saya, termasuk suara azan alm ayah saya, ayah mertua, imam dusun serta tahu persis suara azan tamu-tamu yang datang ke masjid. Masalah irama azan ini, saya juga masih ingat dengan suara azan yang dilantunkan oleh kakek Katab, seorang muazin di mersah Padang sewaktu saya kecil dulu, yang suaranya bergema sampai ke seberang, ke lokasi rumah kami. (Semoga Allah melapangkan kuburan mereka bertiga).

Begitulah, suara azan pertama biasanya dilanjutkan dengan pengajian yang diputar melalui kaset sebelum tiba azan subuh. Dalam kondisi masih setengah terbangun, suara pengajian ini begitu indah dan melenakan saya. Keempat anak saya sejak lahir di kamar ini tidak pernah terganggu atau terbangun oleh suara azan, termasuk suara riuh dan berisik anak-anak yang membangunkan sahur di waktu bulan Ramadhan.

Suara azan di masjid ini telah menjadi keseharian saya selama 14 tahun, sampai akhirnya rumah yang kami bangun akhirnya selesai dan kami akan pindah.

Entah kenapa pada waktu itu ada semacam rasa enggan pada diri saya dan suami saya untuk cepat-cepat pindah rumah. Bagi saya pribadi rasa enggan itu dikarenakan berat hati berpisah dengan suara azan, pengajian serta suasana matahari pagi yang indah ketika membuka jendela kamar.

Kami harus pindah

Untunglah, sebelum pindah tanpa direncana sebelumnya anak saya mengambil photo saya duduk di tempat tidur di jendela yang terbuka lebar sambil menatap masjid. Photo ini pernah saya posting juga saat itu.

Terus terang, saya merasa iri dengan keluarga yang kini menempati kamar kami. Iri karena mereka bisa menikmati azan dan pengajian lewat masjid itu. Saya yakin dan percaya mereka juga sangat menikmati suara azan itu dan selalu bergegas melaksanakan kewajiban.

Kini…

Tiba- tiba muncul masalah tentang suara azan yang diatur-atur volume dan waktunya. Mengapa ini harus terjadi sementara dahulu-dahulunya tidak ada yang mempermasalahkannya? Tempat di mana masjid itu juga terdapat tetangga non muslim dan tidak pernah ada masalah. Kami hidup rukun dan damai.

Apabila azan dikecilkan, waktunya dipersempit, maka apalah lagi yang akan menghiasi suara di angkasa raya? Lagu dangdut? Musik-musik keras? Seperti yang pernah dikeluhkan oleh seorang pilot yang mana sinyal di angkasa raya Indonesia sangat sibuk, dan salah satunya adalah terdengar suara musik dangdut lewat radio…

Suara azan dapat mengingatkan kita dari kelalaian dan kekhilapan.
Azan adalah milik seruan itu sendiri. Sebagaimana Dia menjaga firman-Nya yang terdapat dalam Alquran, maka Dia juga akan menjaga seruan-Nya itu, salah satunya melalui hamba-Nya yang tidak ragu menyuarakan Azan di LIMA WAKTU dan hambaNya yang tidak menghiraukan kebijakan itu..

*Guru SMAN 1 Takengon, Ibu Rumah Tangga

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *