Catatan Redaksi Sara Sagi Terbaru

Krisis Air di Dataran Tinggi Hingga Pembelian Mobil Dinas Bupati dan Wakil Bupati


Gayo!!!! Daerah di dataran tinggi. Semua orang tau, daerah dataran tinggi merupakan penyuplai air bagi daerah di dataran rendah. Nah, bagaimana kalau dataran tinggi terjadi krisis air. Hal inilah yang terjadi di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah saat musim kemarau tiba.

Memasuki pekan kedua September 2018, kemarau masih terus berlanjut. Belum ada tanda-tanda musim penghujan akan tiba. Banyak masyarakat di seputar perkotaan Takengon dan sekitarnya mengeluhkan tidak tersedianya air bersih.

Jaringan PDAM yang mengalir hampir ke semua rumah masyarakat perkotaan seperti bunga yang mekar saat musim penghujan, tapi layu dimusim kemarau.

Banyak warga yang mengeluh dengan tidak mengalirnya air PDAM saat musim kemarau. Mereka (warga) harus memenuhi kebutuhan air sehari-hari dengan cara membeli air ke jasa pengisian air bersih.

“Setiap dua hari sekali saya harus membeli air bersih. Biaya yang dikeluarkan 50 ribu rupiah per sekali isi. Tentu ini tidak ekonomis bagi keluarga sangat sederhana seperti kami ini,” kata seorang ibu rumah tangga di Kampung Blang Kolak 1, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah.

Untuk keperluan menyuci pakaian, banyak diantara warga perkotaan harus pergi ke sungai-sungai terdekat. Amatan LintasGAYO.co, dalam kurun waktu 2 bulan terakhir, daerah Lukup Badak selalu diramaikan oleh ibu-ibu yang menyuci pakaian. Saat ditanya ibu-ibu tersebut menyampaikan keluhannya.

“Air PDAM tidak datang, terpaksa kami menuju sungai. PDAM hanya mengalir saat musim hujan saja,” keluh ibu dari Kampung Pinangan, Kebayakan, Aceh Tengah.

Kesulitan air di musim kemarau, kerap terjadi di daerah ini. Pertanyaan sekarang, apakah sumber mata air di Gayo mengering saat musim kemarau? Kami mencoba melihat-lihat sumber air yang ada dibeberapa tempat. Kenyataannya, sumber air tersebut masih tetap mengalir, meski intensitas keluaran airnya sedikit berkurang.

Fakta ini menunjukkan bahwa, jaringan air bersih di Aceh Tengah masih belum baik. Lain itu, tarif dasar juga sering dipermainkan oleh oknum tertentu. Keluhan masalah pembayaran ini kerap dilaporkan kepada kami. “Air jarang mengalir, tapi saya harus bayar dengan biaya mahal,” kata salah seorang pelanggan.

Pembelian Mobil Dinas

Belum lama ini, aksi pemberian kartu merah dan suara pluit menghiasi sidang paripurna DPRK Aceh Tengah. Seperti dalam sepak bola, wasit meniup pluit berulang kali sambil merogoh saku mengambil kartu merah, petanda ada pelanggaran keras yang dilakukan oleh pemain. Aksi yang dimotori seorang aktivis Jaringan Anti Korupsi Gayo (Jang-Ko) menjadi viral.

Aksi pengkartuan merahan itu bukan tanpa sebab. Banggar DPRK Aceh Tengah, kabarnya telah menyetujui pembelian mobil dinas Bupati dan Wakil Bupati senilai 2,5 Milyar. Tentu angka tersebut sangat fantastis, di tengah krisis perokonomian dan krisis air di dataran tinggi.

Maharadi aktivis Jang-Ko menyanyangkan sikap Anggota Badan Anggaran DPRK Aceh Tengah yang meloloskan usulan pembelian mobil mewah untuk Bupati dan Wakil Bupati.

“Warga yang hidup di tengah kemiskinan, sementara pejabatnya justru berleha-leha dengan mobil mewahnya. Situasi saat ini, masyarakat Aceh Tengah mengalami paceklik karena kopi belum bisa di panen akibat musim kemarau. Ekonomi masyarakat situasinya sangat memprihatikan. Tidak pantas uang rakyat dibeli mobil senilai 2,5 miliar,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Kembali lagi ke krisis air yang terjadi di daerah ini. Melihat buruknya jaringan air bersih saat musim kemarau tiba, sudah sebaiknya pimpinan daerah di bawah kepemimpinan Shabela Abubakar dan Firdaus mempertimbangkan kembali pengeluaran-pengeluaran yang dimasukkan ke dalam anggaran. Salah satunya, mempertimbangkan kembali pembelian mobil dinas.

Lebih baik, anggaran daerah diprogramkan kepada bagian-bagian yang bermanfaat sehingga menyentuh langsung pada masyarakat.

[Darmawan Masri]

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *