Inilah Gayo Sara Sagi Terbaru

PKA ke-7, Inilah Wajah Aceh yang Sesungguhnya

Catatan : Win Wan Nur*

Dulu semasa mahasiswa, ketika saya bergabung dengan berbagai gerakan dan aksi untuk Aceh. Saat itu saya digerakkan oleh harapan bahwa ketika Aceh berdiri sendiri, sebagai sebuah bangsa akan memposisikan suku-suku yang sedemikian beragam di daerah ini dalam posisi setara. Tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah antara satu dan lainnya.

Pasca tsunami, Aceh berdamai dengan Indonesia. Teman-teman dan kenalan yang dulu dalam kapasitas masing-masing pernah berbuat untuk perjuangan Aceh mulai menempati posisi-posisi di pemerintahan. Harapan saya pun membuncah.

Tapi apa lacur, harapan tinggal harapan. Makin kesini harapan itu semakin jauh panggang dari api. Alih-alih diposisikan setara, saya malah menyaksikan menguatnya primordial kesukuan dan dominasi total etnis mayoritas terhadap yang lain.

Pada penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) pertama pasca berdamainya Aceh dan Indonesia, kentara sekali terlihat kalau dalam acara ini yang ditonjolkan hanya satu suku yang kebetulan merupakan mayoritas. Sangat menyakitkan rasanya mendengar cerita, M. Nazar, Wakil Gubernur saat itu yang secara pribadi saya kenal di dunia nyata, meninggalkan begitu saja tanpa sedikitpun rasa hormat pertunjukan yang menampilkan Mahlil, salah seorang seniman terbesar Gayo.

Pada penyelenggaraan berikutnya, yang terjadi kurang lebih sama dan makin kesini sayapun sudah tak lagi peduli dengan adanya acara ini. Tapi kali ini di tengah hebohnya penyelenggaraan PKA ke-7, dua hari yang lalu saya melihat foto di dinding facebook bang Razuardi, senior saya di Fakultas Teknik Unsyiah yang biasa kami panggil Bang Essex dan sekarang menjabat Sekda Kabupaten Aceh Tamiang.

Di foto itu saya melihat Bang Essex mengenakan pakaian adat Aceh Tamiang. Bersamanya saya melihat pejabat-pejabat daerah lain mengenakan pakaian adat daerahnya masing-masing.

Melihat foto itu, rasanya begitu hangat, pejabat dari masing-masing daerah tampil dengan pakaian adat daerahnya tanpa beban, tanpa takut terlihat tak seragam.
Pemandangan seperti ini membuat saya melihat PKA kali ini dengan emosi yang berbeda. Pertama kalinya saya melihat PKA yang begitu berwarna, menunjukkan dengan sempurna Aceh yang plural, kaya dengan ragam adat dan budaya. Kali ini, saya merasa melihat wajah Aceh yang sesungguhnya.

Dan yang paling membuat saya salut dari semuanya adalah Pak Nova Iriansyah. Dalam statusnya sebagai Plt Gubernur Aceh, Pak Nova sama sekali tak ragu tampil ke depan dengan identitas Gayo-nya. Padahal siapapun tentu mahpum, secara hitung-hitungan politik, apa yang dia lakukan ini jelas sangat tidak menguntungkan. Apalagi ini dia lakukan menjelang Pemilu. Tapi Pak Nova hebatnya, berani mengesampingkan itu semua.

Jujur saya katakan, apa yang ditampilkan oleh dosen menggambar teknik saya ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak pernah saya duga sebelumnya. Selama ini saya adalah orang yang sangat meragukan rasa ke-Gayo-an Pak Nova. Untuk itu, kali ini segala hormat saya haturkan padanya.

Sama sekali tidaklah mengherankan kalau kemudian apa yang ditampilkan Pak Nova memunculkan suara – suara kecaman dan rasa kecewa dari pihak-pihak yang merasa dipinggirkan. Tapi dengan karakter Pak Nova yang tenang dan tak gampang terprovokasi, saya percaya dosen saya ini lambat laun akan bisa menunjukkan kepada khalayak bahwa kultur Gayo bukanlah kultur penindas.

Saya yakin Pak Nova akan bisa menunjukkan Gayo tak pernah ingin ada di atas budaya lain, Gayo tak pernah berniat untuk ditempatkan lebih tinggi dari yang lain. Budaya Gayo adalah budaya egaliter yang hanya ingin sejajar dengan semua kultur yang ada di Aceh.

Sekarang tinggal tugas kita semua sebagai masyarakat Gayo untuk membantu Pak Nova dengan cara menunjukkan pada semua orang bahwa Gayo sama sekali tak pernah berniat menjadi kultur dominan di provinsi ini. Sebaliknya, kita harus mendorong Pak Nova agar bukan hanya mengangkat Gayo ke permukaan, tapi juga merangkul dan mengangkat semua budaya etnis-etnis asli Aceh , apakah itu Tamiang, Keluwat, Devayan, Sigulai sampai Alas, suku independen yang selama ini banyak disalah pahami orang luar sebagai sekedar sub kultur Gayo sambil tentu saja dengan tetap memberi porsi besar pada pengembangan budaya suku Aceh yang bagaimanapun adalah suku mayoritas di provinsi ini.

Jangan sampai orang menilai bahwa kita masyarakat Gayo ini cuma ribut dan berteriak saat dalam posisi tertindas tapi kemudian menjadi penindas saat berkuasa.

Melihat aura positif yang terpancar dari PKA ke- 7 ini, tentunya kita bisa berharap bahwa momen ini akan membuka lembaran baru dalam hubungan antar suku di provinsi Aceh. Sebuah hubungan yang didasari semangat persahabatan dan saling menghargai. Sebab hanya dengan dilandasi semangat seperti inilah, bukan semangat untuk menguasai dan semangay ingin menonjol sendiri yang bisa mendorong kita untuk saling mengenal dan mempelajari keragaman bahasa dan budaya kita yang begitu kaya.

*Pengamat Sosial Budaya

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *