Keber Ari Ranto Terbaru

Panitia Tidak Konsisten Jalankan Juknis, Aceh Tengah Raih Juara 2 Lomba Puisi pada PKA 7


BANDA ACEH-LintasGAYO.co : Penyair asal tanoh Gayo, Zuliana Ibrahim meraih juara 2 pada lomba puisi PKA 7 yang berlangsung pada Rabu 8 Agustus 2018 di Taman Budaya Banda Aceh. Sementara juara pertama diraih Kabupaten Aceh Besar, Aceh Tengah disusul Kabupaten Bireun.

Raihan ini tidak membuat penyair yang kerap kali mengikuti dan membaca puisi di berbagai temu penyair nusantara maupun mancanegara ini kecewa meski panitia tidak konsisten menjalanakan Juknis lomba yang mengharuskan peserta menciptakan puisi dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa etnik serta membacakan puisi karyanya.

Namun kenyataanya, hanya Zuliana Ibrahim dari Aceh Tengah dan Syafruddin dari Gayo Lues yang menciptakan puisi untuk dibacakanya. Daerah lain membacakan puisi karya orang lain. Mahasiswa Pascasarjana Unsyiah ini juga menunjukkan kelasnya ketika membaca puisi hingga membuat ruangan hening.

Salman Yoga S, pengarah puisi untuk Zuliana Ibrahim memberikan semangat kepada Zuliana agar berlapang dada. “Biarkan orang lain membacakan karya orang lain, namun kamu selaku duta Aceh Tengah sudah melakukanya sesuai Juknis menciptakan puisi sendiri,” kata Salman.

Salman menyesalkan sikap panitia yang tidak konsisten. “Harusnya kita malu dalam kegiatan budaya tapi kita tidak berbudaya. Sikap yang jujur, berhati bersih harus dijunjung tinggi agar sikap itu ditiru kelak oleh anak cucu,” tegas Salman.

“Semoga ke depan, semuanya komitmen dengan apa yang sudah ditetapkan. Aturan itu dibuat untuk dijalankan, bukan justru untuk diabaikan,” harap Salman.

Inilah puisi karya Zuliana Ibrahim yang meraih juara dua di event PKA 7;

MALAM BEGURU
Oleh : Zuliana Ibrahim

Malam ini terhidang di atas nampan pengharapan
disulut dalam doa-doa,
setiap waktu setiap jengkal napas

Kepada yang dikabulkan mimpi
langit telah membenam sebuah nama di hati
nama yang harum di antara kembang ranum

Malam ini dibalut sebuku teduh sang ibu
kata-kata lebih menghunus dari runcing anak panah
mengarus di nadi,
isak dirangkul ulen-ulen yang mabuk petuah
melingkari tubuh pemuda dengan detak Malem Dewa

Oi, malam ini udara terasa sesak baginya
di ujung jari akan terikat janji
saksi menghunus pandang padanya
di sisi kanan kiri
malaikat turut campur melafal doa
khusyuk terbentang

Malam ini jadi singkat di kepalanya
canang di tangan perempuan tua
seperti menggertak ubun-ubun
sorak mulawi menemani tidur yang sulit lelap
aroma uyem dan kepulan asap dari balik jendela
menyusup ke dalam kamar pengantin pelan-pelan

Malam ini lebih bernyawa
calon mayak menghadap ke kiblat
senyumnya berbeda
matanya ikut bicara. [SP/ZR]

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *