Opini Terbaru

Aku, Sendiri dan Buku

Oleh: Husaini Muzakir Algayoni*

Kata Muhammad Iqbal intinya hidup ini adalah I’amness (ke-aku-an) yang didalamnya ada self/ego (diri). Ada saatnya dalam hidupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia lalu meneteskan air mata kata Soekarno. Dan Ibnu al-Jahm berkata “Jika kantuk datang menyerang sebelum waktunya tidur, maka saya akan mengambil salah satu buku dari buku-buku hikmah.

Setiap manusia ingin menunjukkan eksistensi dirinya masing-masing bahwa dirinya memang ada, coba saja lihat di media sosial betapa banyak orang ingin menunjukkan dirinya dengan berbagai macam cara; baik dengan mengupload fhoto, menceritakan kegalauan/perasaan atau menampakkan dirinya seorang pengusaha, dokter, guru dan lain sebagainya. Semua orang ingin menunjukkan dirinya; inilah ‘Aku.’

Namun, ada sebagian orang terlalu gagap menghadapi dirinya sendiri bahkan tidak percaya diri terhadap pikiran/pendapatnya karena lebih percaya pada orang lain dan pendapat yang banyak. Ia hanya mengatakan inilah kata guruku, inilah kata kelompokku dan lain sebagainya tanpa mengatakan inilah pendapatku. Ketika kita tidak bisa menunjukkan siapa diri kita maka inti dari kehidupan ini tidak ada karena intinya hidup ini adalah ke-aku-an yang didalamnya ada ego (diri) kata Iqbal.
Ketika seseorang bisa menunjukkan eksistensi dirinya maka ia benar-benar ada.

Namun, ada kalanya menunjukkan siapa ‘Aku’ kepada orang banyak secara berlebihan maka itu merupakan suatu perbuatan yang tidak bagus. Sosok yang menunjuk dirinya secara berlebihan bernama Iblis karena menunjuk dirinya lebih hebat dari Adam, Iblis terbuat dari api sedangkan Adam dari tanah sehingga Iblis enggan sujud kepada Adam bahkan merendahkan Adam. Perilaku merendahkan manusia merupakan suatu penyakit yang ada dalam diri manusia modern saat sekarang ini, perilaku seperti ini adalah watak Iblis yang bersikap sombong.

Ketika ‘Aku’ merasa sombong dalam hidup sehingga hati terasa gersang maka ‘Aku’ butuh yang namanya nutrisi jiwa, saat-saat sepertini ‘Aku’ butuh yang namanya sendiri seperti yang dikatakan Soekarno di atas “Ada saatnya dalam hidupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia lalu meneteskan air mata.”
Kenapa manusia butuh sendiri? Karena dengan sendiri manusia bisa menilai dirinya sendiri sejauh mana ia telah melangkah, dalam keadaan tafakkur dan merenung; manusia bisa membuahkan hasil pemikiran yang jernih. Sebagaimana tradisi sufi suka dalam keadaan sendiri untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk atau tercela (takhalli) yang ada dalam dirinya dan mengisi sifat-sifat yang baik atau menghiasi diri dengan akhlak terpuji (tahalli).

Salah satu filosof yang menganjurkan kita untuk menyendiri adalah Ibnu Bajjah (1082-1135 M) dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan (sa’adah), filosof Muslim yang satu ini lahir di dunia Barat, tepatnya di negeri matador (Spanyol) sebuah negeri yang pernah berjaya pada masa silam namun kini hanya tinggal nama dan sejarah. Avempance begitu panggilan Ibnu Bajjah di dunia Barat yang filsafatnya terkenal dengan manusia penyendiri (al-Insan al-Munfarid). Manusia penyendiri maksudnya mengasingkan diri masing-masing secara sendiri-sendiri, tidak berhubungan dengan orang lain, mereka harus mengasingkan diri dari sikap dan perbuatan-perbuatan masyarakat yang tidak baik.

Hidup di zaman pragmatis dan materialistis ini sudah bercampur baur antara yang baik dan yang buruk, mana orang jahat dan mana orang baik karena semua orang mempunyai kepentingan tersendiri untuk memenuhi hawa nafsu dan urusan perut masing-masing. Oleh karena itu manusia menyendiri sangat cocok di zaman ini untuk merenung, bertafakkur serta bergaul dengan orang-orang berilmu dan menjauhi orang-orang yang suka penengkar, menghina, memfitnah dan merendahkan orang sehingga hati bisa tenang dan mencapai kebahagiaan batin (sa’adah).

Setelah menceritakan tentang ‘Aku dan Sendiri’ bahwa ‘Aku’ butuh yang namanya sendiri, selain sendiri ‘Aku’ juga butuh yang namanya buku karena buku merupakan kekasih yang setia dan sebaik-sebaik teman adalah buku. Lembaran-lembaran kertas yang berisi kata-kata merupakan vitamin bagi ‘Aku’ untuk membuka cakrawala pemikiran sehingga tidak terjatuh dalam kejumudan/kekolotan dalam berpikir karena buku dipenuhi dengan kata-kata hikmah.

Ibnu al-Jahm dalam buku fenomenal La Tahzan berkata “Jika kantuk datang menyerang sebelum waktunya tidur, maka saya akan mengambil salah satu buku dari buku-buku hikmah. Dengan buku itu saya merasakan adanya gelora untuk mendapatkan nilai-nilai dan adanya kecintaan terhadap perbuatan-perbuatan baik yang menyeruak ketika saya mendapatkan sesuatu yang menarik dan yang meliputi hati dengan kebahagiaan. Ketika perasaan hati dalam kondisi sangat senang, membaca dan belajar akan lebih punya kekuatan untuk membangunkan daripada suara keledai dan bunyi reruntuhan yang mengejutkan.”

Buku dengan lembaran kertas semakin ditinggalkan oleh generasi zaman now sebagai referensi primer/utama dalam memperoleh pengetahuan karena generasi zaman now lebih menyukai lewat internet, seharusnya internet hanya sebagai referensi sekunder saja untuk menambah informasi bukan sebagai referensi primer. Menurut penulis buku itu mempunyai makna dan hikmah yang dalam yang terurai lewat kata-kata yang ada dalam lembaran-lembaran kertas bahkan ia hidup dan bisa membangkitkan jiwa-jiwa yang gersang.

Buku

Kau menjadi kawan disaat-saat sulit
Pengingat dan penyemangat
Disaat hati sedang lemah
(Husaini Algayoni)

Aku berjalan menapaki tanah hitam dan mengarungi sejarah kehidupan dengan tetesan keringat dan air mata, aku menunjukkan inilah ‘Aku’ dengan segala kisah yang tak bisa dimengerti orang. Aku dalam perjalanan ini sendiri bersama sunyinya malam dan buku-buku yang memberikan kata-kata hikmah. Aku inilah aku kata Iqbal, dalam hidupmu engkau butuh sendiri kata Soekarno dan buku itu penuh dengan hikmah kata Ibnu al-Hajm. Aku, sendiri dan buku. Kalau kamu?

*Penulis: Kolumnis LintasGAYO.co

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *