Sara Sagi Terbaru

Pemakaman Khusus Mantan Bupati Aceh Tengah, Pentingkah?


PART I

Kematian adalah suatu kepastian. Hanya kita tidak tahu kapan persisnya kematian akan datang. Namun tidak salah kalau kita mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kematian. Salah satunya adalah “Pemakaman Khusus Mantan Bupati Aceh Tengah.”

Mengingat seluruh Mantan Bupati Aceh Tengah; mulai dari bupati pertama Bapak Ampun Abdul Wahab sampai dengan Bapak Mustafa M. Tamy, kita tidak tahu persis di mana mereka dimakamkan.

Salah satu penghormatan rakyat kepada pimpinannya adalah mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan terakhir di tempat khusus yang semua rakyatnya bisa berziarah setiap saat.

Oleh karena itu, dalam APBK perubahan tahun ini atau APBK tahun 2019 Pemda Aceh Tengah perlu menganggarkan dana untuk membeli tanah yang diwakafkan khusus bagi pemakaman mantan bupati Aceh Tengah.

Setelah pengadaan tanah tersedia, pada anggaran berikutnya langsung dibangun pemakaman yang dipagar rapi dan dipersiapkan paling kurang empat makam yang sudah digali dan diberi nama pas menurut ukuran badan si calon pemilik makam.

Sebelum bupati dilantik, mereka wajib menjalani prosesi melihat makamnya sendiri dan menguji coba masuk sebentar ke liang Lahat berbaring beberapa menit dengan tujuan agar mereka benar-benar amanah dan bekerja untuk rakyat.

Tujuan dari prosesi melihat makan sendiri adalah agar meskipun mereka menjadi orang nomor satu di Aceh Tengah ujungnya dikubur juga dan sebanyak apapun harta yang ditumpuk yang diperlukan hanya kain kafan dan makam tidak lebih dari 1×2 meter saja.

PART 2

Catatan singkat ini adalah wujud kecintaan saya pada negeri ini. Harapan kita negeri ini seperti yang digambarkan Baginda Nabi Muhammad SAW; “Baldatatun thayyibatun wa Rabbul Ghafur” dan punya bupati yang mendapat penghormatan abadi; baik sebelum, sedang dan sesudah menjabat.

Penghormatan abadi terhadap para bupati tidak mungkin didapat dengan cara instans. Penataan akhlak di dalam lingkungan keluarga sangat mempengaruhi pola fikir dan kerja seorang bupati; utamanya adalah peran istri.

Sudah menjadi aksioma, tidak ada pemimpin negeri yang tidak takut kepada istri. Bahkan setingkat Jenderal Napoleon Bonaparte sendiri membusungkan dada saat keluar istana dan ketika masuk istana menunduk takluk kepada Ratu Josepine de Beauharnais. Diakui atau tidak seperti dunia hewan, keluarga bupati selalu menganut sistem “alfa male,” ibu bupati berkuasa.

Karenanya, Pemakaman Khusus Mantan Bupati Aceh Tengah harus bersebelahan atau berdampingan dengan makam ibu bupati. Tujuannya adalah menunjukan kesetiaan seorang istri kepada suami. Meski tidak swargo nunut neroko katut, tapi setidaknya setia sepanjang hayat. Atau dalam bahasa perangnya, “Istri siap tempur.”

Istri bupati adalah “rem” bagi bupati ketika terlalu kencang pengkhiatannya kepada rakyat. Istri bupati bebas berbisik, “Suamiku, apakah yang engkau kejar, dunia ini sementara, kebutuhan kita hanya kain kafan dan tanah 1×2 meter.”
Masalah dana tidak menjadi soal kalau ada kemauan dan komitmen. Andai APBK tidak bisa menanggung, dana pemakaman bupati bisa dipotong dari gaji atau TC (tunjangan prestasi kerja) yang tingkat kehalalannya 100 persen dibandingkan harus membeli makam di luar daerah dari “uang subhat” yang tidak jelas halal dan haramnya.

Adapun tujuan Pemakaman Khusus Mantan Bupati Aceh Tengah dan istri adalah mencegah sikap openturir para bupati. Seperti “burung yang berak” sembarangan, setelah buang kotoran terbang entah kemana rimbanya, namun kalau makamnya sudah ditetapkan maka para bupati akan berfikir dua kali untuk mengkhianati rakyatnya.

(Fauzan Azima ; Mendale, 22 Juni 2018)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *